Jalan Salib, Jalan Pengharapan

SALIB: Salah satu bagian visualisasi prosesi drama penyaliban Yesus di Gereja Katedral St Perawan Maria Ratu Rosario Suci, Kota Semarang, Jumat (18/4) pagi.
SALIB: Salah satu bagian visualisasi prosesi drama penyaliban Yesus di Gereja Katedral St Perawan Maria Ratu Rosario Suci, Kota Semarang, Jumat (18/4) pagi.

[Semarang elsaonline.com] Suasana penuh haru, sedih dengan angan-angan masa lalu tersirat dari raut wajah ratusan Umat Katolik, Jumat (18/4) pagi. Ratusan jemaat itu melakukan Iring-iringan mengikuti prosesi drama penyaliban Yesus Kristus, di Gereja Katedral St Perawan Maria Ratu Rosario Suci, Jalan Pandanaran No 9 Kota Semarang.

Aksi teaterikal proses jalan salib yang diperankan Orang Muda Katolik (OMK) itu merupakan bagian dari perayaan Jumat Agung. Prosesi penyaliban itu mengisahkan kesengsaraan Yesus Kristus yang rela di Salib untuk menebus dosa-dosa umat manusia.

Jemaat yang hadir tampak menghayati dalam, saat kisah Jalan Salib dengan diawali penangkapan Yesus oleh para serdadu Yahudi. Usai ditangkap, Yesus kemudian dihadapkan pada imam besar. Pada hari raya Paskah, orang Yahudi yakni Pilatus berhak membebaskan salah satu penjahat.

Seorang penjahat yang dibebaskan bernama Barnabas dan sebagai gantinya adalah Yesus. Dalam drama itu, ditunjukan detik-detik Yesus pada saat dianiaya dan dipaksa memanggul salib hingga  mati di salib di bukit Golgota.

“Dengan proses ini, jadi tak hanya kebangkitannya saja. Tapi juga perlu mengingat kesengsaraan Yesus saat menebus dosa-dosa Manusia. Sebab, tak ada kebangkitan sebelum kesengsaraan,” tutur salah satu umat Paroki Katedral Semarang, Cecilia Maria Margareta, disela-sela aksi drama.

Teaterikal jalan salib yang di peragakan oleh OMK Gereja Katedral ini, tampak menyentuh perasaan jemaat. Raut wajah haru tampak saat adegan Yesus dicambuk dan disalibkan, sebagian umat sempat meneteskan air mata.

“Menyaksikan proses itu, saya membayangkan betapa Yesus disiksa secara kejam tanpa henti, hingga wafat di tiang Salib. Saya merasakan betapa Tuhan Yesus rela mati untuk menebus dosa umat manusia. Saya sangat menyesal dengan dosa-dosa yang saya lakukan,” ujar umat Paroki Katedral lain, Kristiana Wiyati.

Baca Juga  Berteologi Bersama Rakyat

 

Introspeksi

Salah satu pengurus Gereja Katedral Justinus Purbonowo mengatakan, prosesi ini sebagai media introspeksi umat atas penderitaan Yesus Kristus. Menurutnya, Jalan Salib menjadi sebuah ritual arak-arakan dijalankan sebelum misa Jumat Agung. “Ya, dengan penggambaran penderitaan Jesus saat disalib dan disiksa hingga wafat,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama Romo Alip Suwito Pr menuturkan, prosesi jalan salib tersebut mengajarkan kepada umat Yesus dalam memberikan teladan hidup yang setia. Arti setia, lanjutnya, Yesus setia menyerahkan dirinya sebagai utusan Tuhan sebagai penebus yang menebus umatnya.

“Derita, sengsara dan wafatnya di salib, diterimanya dengan ikhlas, dengan ketulusan hati. Semoga teladan Yesus juga menjadi teladan umat Katolik atau umat lain yang menyaksikan peristiwa ini. Peristiwa ini bukti kesetiaan dan mendorong umat agar hidup di jalan yang benar,” bebernya.

Dia menyampaikan, kebenaran akan membawa hidup karena kebenaran itu memberikan arti hidup bagi siapa saja lewat pengharapan. “Kebenaran itu memiliki nilai universal. Untuk itu, marilah kita semua yang hidup di dunia ini menghayati kebenaran itu,” imbuhnya. [elsa-ol/Munif-MunifBams]

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Dompet di atas Meja: Status Kesehatan dan Konfidensialitas dalam Ruang Sosial Kita

Oleh: Tedi Kholiludin Saya terbiasa meletakkan dompet di rumah pada...

Gelap itu Nyata, Bangkit itu Janji: Antara Iman dan Harapan

Oleh: Tedi Kholiludin Saat dalam perjalanan mudik untuk berlebaran bersama...

Dinamika Inklusivitas Pemimpin Informal Lokal bagi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan

Buku Dinamika Inklusivitas Pemimpin Informal Lokal bagi Kebebasan Beragama...

Refleksivitas dan Masyarakat Pascatradisional

Oleh: Tedi Kholiludin Dalam pengantar bukunya, “Beyond Left and Right:...

De Las Casas dan Perlawanan atas Kolonialisme: Cikal Bakal Teologi Pembebasan

Oleh: Tedi Kholiludin Bartolomé de las Casas (1485–1566) adalah seorang...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini