Jejak Gereja di Lereng Muria (4-Habis)

[Semarang –elsaonline.com] Pekabaran Injil yang dilakukan oleh Tunggul Wulung sama sekali tidak meninggalkan kekhasannya, yakni corak Jawa. Kekristenan ala Tunggul Wulung menunjukan sesuatu yang tidak asing bagi masyarakat Jawa, yakni tetap bertumpu pada nilai-nilai tradisi. Tunggul Wulung menampilkan Kekristenan dengan rasa Jawa. Bagi Tunggul Wulung, ngelmu Kristennya tidak begitu berbeda dengan ngelmu-ngelmu yang pernah dimilikinya sehingga dalam menyebarluaskan ngelmu baru ini tidak mungkin mendapat tentangan keras dan spontan karena disebarkan melalui tukar kawruh “perdebatan ngelmu” yang biasa terjadi di kalangan masyarakat Jawa.

Meski dari aspek kedalaman ilmu pengetahuan, Tunggul Wulung jauh di bawah Jansz, tetapi kontekstualisasi pengajarannya justru menjadikan Kekristenan sebagai sesuatu yang bisa diterima. Jika dibandingkan dengan sejarah penyebaran Islam di Jawa, sosok Tunggul Wulung ini mungkin bisa disejajarkan dengan Sunan Kalijaga. Keduanya sama-sama dari kalangan bangsawan, dengan banyak meditasi keduanya menemukan ngelmu baru, yang satu ngelmu Kristen lainnya ngelmu Islam. Yang pasti, keduanya menggunakan pendekatan yang sama dalam mengajarkan agama, yakni pendekatan kebudayaan (baca: budaya Jawa).

Dengan bekal itulah Tunggul Wulung berhasil meyakinkan jemaatnya Jansz untuk membangun desa Kristen yang tak juga dilakukan oleh Jansz. Beberapa anggota jemaat Jansz, termasuk Tresno Wirodiwongso dan Lahut Gunowongso. Tunggul Wulung kemudian membuka sebuah hutan yang jaraknya kurang lebih dua kilometer dari Bondo, Jepara. Pada 1 September 1856, hutan itu dibuka tanpa mengajukan izin kepada pemerintah dan diberi nama Ujung Jati. Sejak saat itulah Tunggul Wulung kemudian mengasuh jemaatnya di Ujung Jati dan kemudian, Bondo.

Selain di Bondo, Tunggul Wulung juga memiliki jemaat di Kawedanan Margotuhu yang terbentuk tahun 1861. Jemaat ini dirintis sejak 1854 seiring dengan tiga keluarga yang dikristenkan, Ananias, Thomas dan Nakhum. Tahun 1870, Tunggul Wulung memimpin jemaat untuk kemudian membuka hutan di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Banyutowo, Pati. Sejak 1870, 234 orang jemaat yang dulunya menempati daerah Dukuhseti itu berpindah ke Banyutowo.

Seperti telah sedikit disinggung di atas, bahwa kelahiran GITJ dikaitkan dengan baptisan pertama yang dilakukan terhadap lima murid Jansz. Itu terjadi pada hari Paskah tanggal 16 April 1854. Bagi Jansz, baptisan tidak semata-mata untuk mendapatkan anggota, tetapi mereka harus mengerti apa maksud menjadi Kristen tersebut. Lima orang yang menjadi anggota pertama GITJ adalah Dja Santika (nama baptis, Paulus), mBok Setro (Elizabeth), Dimah (Suzanna), Rasinah atau nyai Sieber (Magdalena) dan Janiah atau Ni Polok (Anna).

Singkat cerita, jemaat yang kemudian menjadi cikal bakal GITJ menyebar di sekitar Muria. Pada tanggal 29 Mei 1940, utusan 12 jemaat mengadakan pertemuan di Kelet. Bisa dikatakan inilah momentum yang bisa disebut sebagai Sidang Sinode. Tetapi mungkin lebih tepat jika ini disebut sidang pra Sinode karena saat itu belum terbentuk Sinode. Akhirnya pada 30 Mei 1940 mereka bersepakat mendirikan Persatuan Jemaat Kristen Tata Injil di Kabupaten Kudus, Pati, Jepara.

Pernyataan ini ditandatangani oleh 42 pemuka jemaat. Dari duabelas jemaat ini hanya ada sepuluh yang menjadi anggota Patunggailan, yaitu; Margorejo, Kudus, Pati, Kayuapu, Kedungpenjalin, Bondo, Margokerto, Mrican, Kelet, Tayu. Jemaat Donorejo dan Jemaat Banyutowo tidak masuk tanpa alasan yang jelas. [elsa-ol/TKh-@tedikholiludin]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *