elsaonline.com

Voice of the voiceless

Jejak Spiritia diabadikan dalam “The Spiritians”

3 min read

Dari kiri ke kanan: Daniel Marguari, Tedi Kholiludin, Meirinda Sebayang. [Foto: YKN]

[Jakarta -elsaonline.com] Bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke 25, Yayasan Spiritia meluncurkan buku dengan judul “The Spiritians Memanusiakan Manusia: Konsistensi, Akuntabilitas dan Kepemimpinan Solutif dalam Pemberdayaan Komunitas dan Kesehatan Masyarakat” yang ditulis oleh Peneliti di Yayasan Lembaga Studi Sosial dan Agama (ELSA), Tedi Kholiludin. Buku “The Spiritians” diluncurkan di Hotel Aston Kemayoran, Jakarta, Kamis (19/11/2020).

Yayasan Spiritia adalah lembaga masyarakat yang memberi dukungan kepada Orang dengan HIV/AIDS (Odha) di Indonesia. Aktivitas tersebut sudah dilakukan lembaga yang berdomisili di Jakarta ini sejak November 1995. Untuk mengabadikan ingatan mengenai jejak dan rekaman sejarah Spiritia, Tedi Kholiludin kemudian menulis secara independen kiprah lembaga tersebut.

Menurut Tedi, ketika menulis buku atau artikel, ia biasa menitikberatkan pada dua aspek; sisi kedekatan intelektual dan kedekatan emosional. Alasannya bisa salah satu dari keduanya, atau dua-duanya sekaligus.

“Sebagai penulis, secara konten, tentu adalah tanggungjawab saya. Saya menulis tentang Spiritia mula-mula tentu alasan yang bersifat emosional, karena saya berinteraksi dengan mereka dalam waktu kurang lebih 5 tahun. Dari sisi kedekatan secara intelektual, apa yang dilakukan oleh Spiritia sebenarnya tidak terlalu berkorelasi dengan latar keilmuan saya,” jelas Tedi membuka presentasinya.

Namun, lanjut Tedi, jika hanya berdasarkan kedekatan emosional semata, dirinya berpotensi terganggu obyektivitasnya. “Maka saya kemudian memadukan dengan kedekatan keilmuan dari sudut pandang yang sesuai dengan keilmuan saya agar mengurangi subyektivitasnya,” imbuh Tedi.

Meirinda Sebayang, koordinator Jaringan Indonesia Positif (JIP) yang bertindak sebagai moderator menanyakan hal mendasar, mengapa memilih Spiritia sebagai objek?

Tedi yang juga staf pengajar di Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) menjelaskan bahwa pada awal tahun 1990 an tidak cukup banyak lembaga yang memberikan respon terhadap HIV/AIDS. Karena pada tahun-tahun itu stigma dan diskrimiasi masih cukup tinggi terhadap Odha dan Ohida.

Baca Juga  Bangunan-bangunan di Pecinan Banyak Berubah

“Hanya saja, mempertimbangkan Spiritia sebagai obyek kajian dengan menyandarkan fakta bahwa lembaga ini adalah yang pertama muncul, tidak cukup bisa dijadikan alasan. Maka perlu dilanjutkan dengan pertanyaan, apakah lembaga ini memiliki kontribusi atau tidak. Mungkin orang memiliki pandangan subjektif tentang Spiritia. Tetapi, mereka tidak bisa memungkiri, bahwa secara faktual ada kontribusi yang bisa dilihat dari Spiritia yang memberi dukungan kepada Odha. Mereka melakukan pemberdayaan secara produktif. Atas dasar ini, saya punya tanggung jawab moral menuliskan pembelajaran dari apa yang dilakukan lembaga ini untuk bisa dibaca banyak orang,” tuturnya.

Ditambahkan Tedi, buku “The Spritians” ini ditulis sejak tanggal 26 Agustus 2020 dengan mulai menggali data, dan selesai pada tanggal 1 Oktober2020. Tidak terlalu lama jika dilihat dari sisi pengerjaannya, tetapi interaksi Tedi dengan Spiritia sendiri sudah berlangsung selama 5 tahun.

“Saya tidak bisa memendekkan jarak, prosesnya sudah lama, meski menuslisnya mungkin tak butuh waktu lama. Karenanya, bisa saya katakana, perlu 5 tahun untuk menulis buku ini,” tukas Tedi.

Sementara itu, CEO Spiritia, Daniel Marguari yang juga hadir menjadi narasumber di kegiatan itu mengatakan, pada awal ketika Tedi menawarkan diri untuk menulis buku tentang Spiritia, ia menolak Karena menurut Daniel, sudah tidak pada masanya jika Spiritia ditulis dan ingin diakui oleh publik. Di sisi lain, publikasi tersebat dikhawatirkan membuat lembaga yang dipimpinnya itu menjadi “besar kepala”.

Namun karena adanya diskusi dan obrolan yang akhirnya mengarah pada aspek kemanfaatan bagi orang lain, Daniel pun mengijinkannya. Tedi meyakinkan kepada dirinya, bahwa ada hak orang lain untuk mengetahui atau belajar kepada Spiritia melalui perjalanan yang sudah mereka lakukan selama seperempat abad tersebut.

Baca Juga  Disambut Penghayat, Gubernur Jateng Bilang “Rahayu Pak, Rahayu ...”

“Sekecil apapun yang dilakukan, selalu ada pembelajaran disana, ada manfaat untuk orang lain. Karena lahirnya Spiritia sendiri ingin memberi ada manfaat bagi orang lain,” jelas Daniel.

Daniel berharap dari terbitnya buku ini adalah dapat memberikan manfaat dan harapan untuk teman-teman Odha. Karena, pada nilai yang diperjuangkan oleh Spiritia, Odha bagian dari solusi, bukan masalah. Sekarang obat sudah tersedia dan bisa diakses. Pemerintah memberikan subsidi untuk ketersediaan obat.

“Inti dari buku yang ditulis Tedi itu ada di bab 10. Konsistensi, kedinamisan selalu ada, adaptasi juga perlu dilakukan. Begitu juga tentang akuntabalitas. Saya berpesan kepada kita semua, saat mengelola dana, berapapun rupiah yang anda Kelola, bertanggungjawablah atas itu”.

Diskusi dan launching buku “The Spiritians Memanusiakan Manusia” ini diselenggarakan secara offline juga online. Karena untuk mematuhi protokol kesehatan, panitia hanya menyediakan 50 kursi peserta untuk hadir secara langsung. Sementara secara virtual hadir tokoh nasional dan internasional seperti Nurul Arifin (artis dan juga anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI), Kirey (penyanyi), Zaskia Sungkar, Timothy Mackay, Nila Moeloek (Menteri Kesehatan Republik Indonesia 2014-2019), dan Nafsiah Mboi (Menteri Kesehatan Republik Indonesia 2012-2014). [Abdus Salam]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *