Kementerian Agama Tidak Layani Masalah Penghayat Kepercayaan

Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin. [Foto: Nazar]
Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin. [Foto: Nazar]
[Semarang -elsaonline.com] Janji Presiden Joko Widodo untuk menghapus diskriminasi di atas bumi Indonesia belum sepenuhnya tercermin dalam program yang terhimpun Rencana Program Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Salah satu isi pokoknya, penghapusan diskriminasi pada penghayat kepercayaan tidak muncul dalam program pemerintah.

Menteri Agama, Lukman Hakim Syaifudin mengatakan, soal penghayat kepercayaan pihaknya tak ingin melangkah lebih jauh. Pasalnya, apa yang dikerjakan Kementerian Agama bukan untuk melayani para penghayat kepercayaan, melainkan orang yang telah beragama sesuai yang dilindungi pemerintah.

Namun, soal penghayat, dia menjawab diplomatis. “Soal pengahyat kepercayaan itu urusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kami di Kemenag hanya mengurusi agama saja, tidak yang lain,” kata Lukman di Semarang, Senin (6/4/2015)

Di satu sisi, kata dia, ungkapan Lukman memang membatasi kementeriannya agar tidak masuk pada masalah yang bukan masuk di tugas, pokok dan fungsinya. Tapi di sisi lain, masalah penghayat kepercayaan selalu berkaitan dengan keyakinan agama masyoritas, dan itu berkaitan dengan Kementerian Agama.

Namun, Lukman memilih pilihan pertama. Pihaknya hanya ingin fokus menutaskan persaolan umat beragama yang kini masih banyak masalah.

“Kalau tidak masuk di RPJMN itu coba tanya di Bappenas. Mereka yang menyusun, apakah sesuai dengan janji kampanye pak Jokowi atau tidak,” pungkasnya. [elsa-ol/Nazar-@nazaristik/001]

Baca Juga  Yasrad Himbau Warga Sapta Darma Mengganti Kolom Agama di KTP
spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Tidak Ada Ruang Publik Gratis dan Demokratis

Oleh: Alfian Ihsan Dosen Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman   Apakah Anda selalu...

Hukum Lingkungan Internasional

Angin tidak punya KTP, sehingga kalau pencemaran udara terjadi...

Onderdistrict Tjilimoes

Buku ini berangkat dari pertanyaan sederhana, bagaimana perubahan yang...

Yaumul Quds: Politik Simbol dan Emosi Kolektif dalam Solidaritas Palestina

Oleh: Tedi Kholiludin Jarum jam belum genap menunjuk pukul 14.00...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini