Meritokrasi dan Privilege: Dua Wajah dari Keadilan yang Pincang

Oleh: Alfian Ihsan
Dosen Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Setiap siswa SMA mempunyai kesempatan sama untuk masuk perguruan tinggi negeri. Namun siswa SMA dengan nilai rapor punya kesempatan lebih besar untuk diterima. Siswa peserta program bimbingan belajar selepas sekolah berpotensi lebih besar untuk punya nilai rapor tinggi. Siswa yang ikut bimbingan belajar adalah mereka yang berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah ke atas.

Paragraf tersebut adalah sedikit sisi gelap dari meritokrasi, sebuah gagasan yang diimani sebagai jalan terbuka bagi setiap orang untuk berkompetisi. Meritokrasi lahir sebagai kritik terhadap feodalisme, sebuah situasi yang hanya memberi kesempatan kepada kaum bangsawan dan keluarga kerajaan untuk menduduki posisi strategis dalam pemerintahan.

Revolusi Perancis meruntuhkan eksklusifitas feodalisme, digantikan oleh ide tentang kelayakan. Siapapun bisa mengisi suatu jabatan strategis asal memiliki kompetensi yang layak dan dibutuhkan. Gagasan ini membuka peluang besar bagi masyarakat dari kelompok kelas non-bangsawan dan kerajaan untuk berkontribusi menjalankan roda pemerintahan. Ide tentang kelayakan ini kemudian meluas pada bidang lain seperti pendidikan, industri, dan jasa.

Michael Young, Sosiolog berkebangsaan Inggris, mengkritik Meritokrasi melalui sebuah novel berjudul “The Rise of Meritocracy”. Young menggambarkan situasi Inggris yang menjalankan praktek meritokrasi secara utuh. Pada tahun 2033, Inggris dijalankan oleh orang-orang terbaik yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi sehingga dinilai paling layak untuk menduduki sebuah jabatan tertentu.

Orang-orang terbaik ini secara alami membentuk kelompok elit teknokrat yang merasa sebagai kelas berkuasa. Elit teknokrat merasa bahwa keberhasilan mereka merupakan buah kerja keras pribadi. Oleh karena itu mereka layak untuk menikmati segala keistimewaan seperti pendidikan anak yang baik, fasilitas kesehatan lengkap, dan makanan bergizi. Sementara, kehidupan miskin yang serba terbatas adalah “hukuman” bagi mereka yang tidak pintar dan tidak berjuang. Adalah takdir mereka menjadi remah-remah kehidupan.

Baca Juga  Menelepon Eyang: Sebuah Kebiasaan Baru Saat Pandemi

Novel yang bergaya satir ini menunjukkan ilusi kesetaraan dari ide meritokrasi. Meritokrasi yang semula menjanjikan kesetaraan kesempatan kemudian memproduksi ketimpangan baru dengan bahasa yang lebih rasional. Sistem kompetisi terbuka namun diikuti oleh individu dari kelas sosial berbeda tentu memiliki amunisi yang berbeda. Individu dari kelas menengah akan mempunyai akses pendidikan, koneksi, dan modal lebih banyak daripada individu dari kelas miskin.

The Tyranny of Merit

Michael Sandel dalam buku The Tyranny of Merit (2020) menuliskan empat elemen gelap yang membentuk gagasan meritokrasi sebagai sebuah tirani baru. Mereka yang sudah meraih kesuksesan tentu akan berupaya untuk mewariskan kesuksesan itu kepada anak cucu. Jika perlu, mereka bisa menentukan syarat-syarat baru untuk sebuah posisi tertentu agar hanya bisa diraih oleh keturunan mereka. Hal ini terjadi pada keluarga dokter spesialis, mereka lebih mudah memasukkan anak mereka untuk mengikuti pendidikan dokter spesialis daripada anak dari keluarga biasa.

Sandel juga menyebut bahwa sikap congkak dan jumawa menjangkiti mereka yang berhasil melakukan mobilitas sosial dalam sistem meritokrasi. Mereka merasa sebagai pemenang dan layak hidup bergelimang. Sementara itu, mereka tidak segan menghina kelompok yang berkutat pada keterbatasan ekonomi. Itu adalah hukuman bagi mereka yang tidak cerdas dan malas.

Meritokrasi menurut Sandel merupakan racun bagi kehidupan demokrasi. Ketimpangan ekonomi semakin lebar antara mereka yang “berhasil” melakoni mobilitas sosial dan mereka yang tak punya modal untuk bertarung. Faktual, masyarakat semakin terpolarisasi. Menciptakan beragam lapisan sosial baru yang sulit ditembus karena dipagari oleh beragam prasyarat khusus seperti ujian berlapis atau aneka sertifikat keahlian yang mahal.

Kelas – kelas sosial baru yang terbentuk berdasarkan pekerjaan atau keterampilan tertentu akan melemahkan kohesi sosial. Masyarakat semakin kehilangan solidaritas karena individu yang telah “berhasil” hanya fokus untuk mempertahankan keberhasilan dan mewariskan itu. Tidak ada ruang untuk mengupayakan perubahan struktur sosial atau sistem seleksi untuk memudahkan ruang mobilitas ekonomi bagi kelompok di bawah mereka.

Baca Juga  Dimensi Lokal dan Global dalam Gerakan Transnasional

Pada akhirnya, meritokrasi melahirkan kelas aristokrasi baru. Status keluarga akan menentukan keberhasilan individu dalam menjalani kompetisi hidup. Keluarga menyediakan aneka rupa modal sosial dan menciptakan habitus tertentu agar anak bisa berlari pada jalur yang benar untuk menjadi pemenang. Hal ini bisa dilihat di keluarga dokter, pengacara, politisi, polisi, TNI, atau pesantren.

 

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Bukan Penumpukan, Tapi Kecukupan: Refleksi Natal 2025

Oleh: Tedi Kholiludin Pada setiap kebahagiaan yang kita nikmati, selain...

Di Balik Ketenangan Jalsah Salanah di Krucil Banjarnegara

Oleh: Tedi Kholiludin Letak Dusun Krucil, Desa Winong, Kecamatan Bawang...

“Everyday Religious Freedom:” Cara Baru Melihat Kebebasan Beragama

Oleh: Tedi Kholiludin Salah satu gagasan kebebasan beragama yang...

Penanggulangan HIV dan Krisis Senyap di Garda Depan

Oleh: Abdus Salam Staf Monitoring Penanggulangan HIV/AIDS di Yayasan ELSA...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini