Oleh: Tedi Kholiludin
Kapan dan bagaimana stigma bekerja?
Karya klasik Erving Goffman, Stigma: Notes on the Management of Spoiled Identity, memberi panduan sosiologis tentang bagaimana stigma atau pelabelan negatif dilekatkan pada seseorang atau kelompok tertentu. Stigma muncul ketika ada satu hal yang dianggap “melanggar” kategori sosial yang diharapkan.
Stigma selalu terjadi di “panggung sosial”, karena di sanalah semua dari kita tampil dan saling menilai. Setiap orang ingin terlihat wajar, pantas, dan diterima. Tapi begitu ada sesuatu yang keluar dari “skrip sosial” seperti halnya cara berpakaian, status kesehatan, status ekonomi, keyakinan keagamaan, penyakit, status ekonomi, atau keyakinan, dari situlah publik mulai menandai. Label itulah yang kemudian menempel dan tak jarang mengubah cara orang lain memperlakukan si “aktor”.
Pada Dengan begitu, identitas sosial sejatinya bersifat transaksional, bukan esensial. Siapa dari kita di mata orang lain, selalu akan dinegosiasikan dalam pertemuan sosial. Penilaiannya, dengan demikian, bergantung pada bagaimana kita menampilkan diri dan bagaimana orang lain meresponsnya.
Stigma lahir bukan semata karena perbedaan, tapi ketidakmampuan memenuhi ”harapan” normatif yang berlaku pada sebuah masyarakat. Ketika tidak ada kesesuaian dengan “aturan tak tertulis” tentang bagaimana seharusnya tampil, berkeyakinan, berperilaku, atau menjalani hidup, maka publik menandainya sebagai yang lain, sesat, atau menyimpang. Dengan kata lain, stigma adalah hasil dari transaksi sosial yang gagal: antara citra diri yang ingin disampaikan dan penerimaan yang tidak diberikan.
Goffman (1963; 71) mengatakan “…sosok yang ditampilkan seseorang dalam kehidupan sehari-hari — di hadapan orang-orang yang biasa ia temui sering kali menjadi kecil/kerdil dan rusak oleh tuntutan-tuntutan maya (virtual demands), baik yang bersifat positif maupun negatif, yang diciptakan oleh citra publiknya.”
Setiap individu, kata Goffman, punya public image atau citra yang dilekatkan masyarakat padanya. Dari citra itu kemudian muncul tuntutan maya atau ekspektasi sosial yang sejatinya tidak terlihat secara fisik tetapi tapi terasa kuat dalam menavigasi perilaku seseorang atau sebuah kelompok. Misalnya, citra sebagai seorang “guru” menghasilan tuntutan publik untuk selalu bersikap bijak. Citra “ibu rumah tangga” menciptakan tuntutan untuk setiap pada urusan domestik dan begitu seterusnya.
Jika identitas sosial adalah hasil dari cara orang lain melihat dan mengelompokkan kita, maka identitas virtual adalah bayangan versi ideal diri kita di mata mereka. Ia hidup dalam imajinasi sosial, tentang bagaimana seorang guru, aktivis, atau ibu rumah tangga seharusnya tampil. Padahal, kita hadir dengan identitas aktual: sesuatu yang nyata, sebagaimana dijalani dan dipahami oleh diri sendiri. Ketika ada jarak antara identitas yang dibayangkan dan kenyataan yang dijalani, di situlah potensi stigma muncul. Kesenjangan antara identitas “virtual” dan identitas “aktual.”
Yang sering disebut “stigma” bukan berasal dari diri seseorang, melainkan dari bayangan masyarakat tentang peran dan perilaku yang dianggap semestinya. “Antara siapa aku dan siapa yang mereka pikir aku harusnya,” di situlah stigma bekerja. Ia menjadi mekanisme sosial yang memisahkan yang dianggap “normal” dari yang “menyimpang”. Maka, memahami stigma berarti menelisik bagaimana masyarakat membangun batas-batas imajiner yang menentukan siapa yang diterima dan siapa yang dikeluarkan.
Manajemen Kesan
Bagaimana individu atau kelompok yang distigma menegosiasikan citra sosial yang melekat pada diri mereka?
Erving Goffman, dalam “Stigma” mengenalkan the art impression management, atau seni mengatur kesan melalui tindakan sosial. Pada hakikatnya, semua orang, kata Goffman, adalah “aktor” yang mengatur bagaimana dirinya tampil di depan orang lain.
Masalahnya, bagi individu atau kelompok yang kerap mendapatkan stigma, seni ini menjadi lebih rumit. Mereka mesti mengatur apa yang seharusnya ditampilkan sekaligus mana bagian yang harus disembunyikan sehingga bisa diterima. Itu dilakukan untuk mengontrol persepsi sosial, bukan mengubah kenyataan diri, melainkan bagaimana kenyataan itu dibaca.
Ada dua langkah taktis dalam konteks manajemen kesan seperti dikenalkan Goffman. Pertama adalah passing sebagai upaya menyembunyikan identitas yang distigma, agar orang lain menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompok “normal.” Tindakan ini adalah bagian dari strategi bertahan dari eksklusi sosial. Kedua adalah mekanisme covering. Ketika identitasnya mungkin sudah dikenali, ia meredam ekspresi atau tampilannya supaya tidak terlalu mencolok atau mengganggu norma sosial. Ketika melakukan covering, seseorang tidak menyangkal siapa dirinya, tapi menyesuaikan diri dengan kenyamanan orang lain.
Goffman menunjukkan bahwa ada proses negosiasi sosial yang tersembunyi atau Kerjasama diam-diam (tacit cooperation) antara mereka yang menganggap dirinya “normal” dengan yang distigma. Orang “normal” pura-pura tidak tahu dengan tidak menyinggung atau menjaga sopan santun. Sementara mereka yang distigma pun melakukan tindakan penyesuaian, tidak mendorong batas lebih jauh untuk bisa diterima. Di sana, sejatinya ada equilibrium sosial yang masih rapuh; penerimaan tetapi dengan syarat diam-diam.
Stigma bukan hanya penolakan, tapi juga sistem kompromi sosial. Mereka yang distigma “boleh ada” di ruang sosial, selama mereka tahu batas. Maka, passing dan covering adalah bentuk politik eksistensi sehari-hari, bagaimana individu menjaga martabat dalam sistem yang menuntut konformitas.

