Paham Keagamaan PKS, Tidak Cocok di Indonesia

Abu Hapsin (kiri) dan KH. Ubaidullah Shodaqoh
Abu Hapsin (kiri) dan KH. Ubaidullah Shodaqoh

[Semarang –elsaonline.com] Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Abu Hapsin, mengatakan bahwa Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tidak akan pernah menjadi besar di Indonesia. Setidaknya ada dua alasan mengapa Abu menyampaikan hal demikian.

“Kultur keagamaan Indonesia itu tidak compatible (cocok, red) dengan PKS,” kata Abu kepada elsaonline di kantor PWNU beberapa waktu lalu. Staf pengajar di IAIN Walisongo Semarang itu menambahkan kalau cara berpikir tentang agama seperti yang tergambar dalam ideologi PKS sulit untuk didamaikan dengan kultur Indonesia, khususnya Jawa. “Spiritualisme Jawa sangat sulit bisa diterima oleh orang-orang PKS,” terang ayah tiga anak tersebut.

Selain persoalan kompatibilitas ideologi, PKS sudah terkerangkeng sebagai gerakan salafi. “Orang-orang yang berpikir sempit biasanya akan mengalami kelelahan psikologis, psychological exhausted. Mereka juga satu waktu akan mengalami fase tersebut,” Abu menjelaskan.

Abu Hapsin menuturkan kalau lem perekat yang selama ini ada dalam tradisi NU kerap bertabrakan dengan paham PKS. “Yang paling bisa dirasakan secara visual ya, barzanji, tahlil dan lain-lain. Itu simbol yang mengikat orang-orang NU,” urai Abu

Sementara Rois Syuriyah PWNU Jawa Tengah, KH. Ubaidullah Shodaqoh menuturkan jika PKS merupakan partai kader yang berhasil mendoktrinasi orang-orang di sekelilingnya. Dan PKS bukan hanya partai, tetapi juga ideologi. “Kalau ada orang NU ke PKS, ya ganti ideologi. Seperti lupa pada guru,” tandas pengasu Pondok Pesantren Al-Itqon, Semarang tersebut.

“Yang jelas, kalau di PKS akan banyak haramnya,” tegas Kyai Ubed. [elsa-ol/TKh-@tedikholiludin]

Baca Juga  Sesepuh Samin Kudus Salin Sandangan
spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Hukum Lingkungan Internasional

Angin tidak punya KTP, sehingga kalau pencemaran udara terjadi...

Onderdistrict Tjilimoes

Buku ini berangkat dari pertanyaan sederhana, bagaimana perubahan yang...

Yaumul Quds: Politik Simbol dan Emosi Kolektif dalam Solidaritas Palestina

Oleh: Tedi Kholiludin Jarum jam belum genap menunjuk pukul 14.00...

EN (?): Konsep Ikatan Tak Terlihat dalam Budaya Jepang

Oleh : Iwan Madari (Pemerhati Kebudayaan Jepang) elsaonline.com Dalam hidup,...

Malam di Darut Taqrib: Duka, Solidaritas dan Harapan Dialog

Kami duduk bersama di bagian depan luar sebuah...

2 KOMENTAR

  1. Saya memang bukan islam, menurut saya NU memiliki pemikiran yang positif. Yang dikembangkan NU adalah ajaran kedamaian, kalau melihat orang NU rasanya tenang, damai. Beda dengan melihat orang2 radikal yang bisanya merusak sekitar, ngakunya beragama tapi malah merusak.
    Menurut saya ajaran NU yang paling cocok di Indonesia. Coba lihat alm. gusdur contohnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini