elsaonline.com

Voice of the voiceless

Pernikahan Sedulur Sikep Tidak Dicatatkan

3 min read

Foto Bersama Aktifis eLSA: Keluarga mempelai perempuan foto bersama dengan aktifis Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang.

Foto Bersama Aktifis eLSA: Keluarga mempelai perempuan foto bersama dengan aktifis Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang.
Foto Bersama Aktifis eLSA: Keluarga mempelai perempuan foto bersama dengan aktifis Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang.
[Kudus –elsaonline.com] Angin sepoy-sepoy, menerpa pepohonan di sekeliling rumah berbentuk limasan itu. Bulan yang tak terlalu terang, tetap setia memberi sedikit cahaya terang bagi pasangan yang berbahagia. Alam, seakan memberi restu kepada dua insan keturunan Sedulur Sikep (Agama Adam atau Samin) yang melangsungkan perkawinan.

Sekeliling rumah sederhana terbuat dari kayu tampak ramai. Tamu rombongan berdatangan silih berganti. Meskipun jaraknya jauh dari kota, di Desa Larekrejo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, tak menyurutkan niat para tamu undangan. Di halaman rumah depan, kanan, dan kirinya tampak berjejer terparkir kendaraan roda dua dan empat.

“Hai, monggo-monggo, Mas. Tempate yo ngene iki. Sak entene mawon, monggo pinarak (Hai… silahkan-silahkan mas. tempanya ya seperti ini, seadanya aja. Silahkan duduk),” sambut Budi Santoso, orang tua mempelai puteri, mempersilahkan kepada setiap tamu undangan yang datang.

Pada Rabu, 8 Agustus 2014 itu betul-betul menjadi hari bahagia bagi keluarga besar Sedulur Sikep Kudus. Syukuran sederhana menjadi bahan pengikat kekeluargaan antara warga dan pengikut Sedulur Sikep. Pada hajatan itu, semua bercampur tanpa ada sekat kepercayaan dan keagamaan.

Malam itu, waktu menunjukan pukul delapan lebih seperempat. Satu jam sebelumnya baru dilangsungkan ijab qabul antara Sarah Puji Rahayu dengan Iseh Syahroni. Keluarga kedua pasangan tampak memadati rumah yang tak terlalu luas itu.

Wajah sumringah terpancar dari keuda kelurga. Raut kebahagiaan dua keluargaan tampak bersinar, menyapa tamu undangan yang ada. Hidangan jajanan dan kue seperti lapis, kadas, pais semua ditumpahkan di hadapan para tamu. Mereka sadar betul, falsafah Jawa yang mengatakan tamu adalah raja. Sehingga harus dihormati dengan semampunya sesuai dengan keadaan yang ada.

“Kami bersyukur banget, Mas. Kami keluarga kecil yang harus tetap melestarikan keturunan. Dengan melakukan perkawinan ini maka kami bisa melanjutkan ajaran para leluhur. Supaya keturunan kami ada generasi penerusnya,” lanjut Budi Santoso dengan tetap menggunakan bahasa Jawa Kromo.

Baca Juga  Abu Hapsin: Tak Ada Dikotomi Antara Islam Arab dan Islam Jawa

Budi Santoso dan keluarga tampaknya tak ingin kebahagiaan itu dirasakan sendirian. Rasa syukur atas pernikahan buah hatinya ingin pula dirasakan warga sekitar. Dengan itu, Budi mengundang tetangga-tetangganya, untuk membantu (istilah jawanya rewang) menyajikan hidangan bagi para tamu.

Baik para tamu undangan, rewang dan tuan rumah tampak bercampur tak ada sekat. Remaja, orang tua yang menggunakan kerudung, peci hitam (ala santri) membaur dengan pengikut sedulur Sikep yang menggunakan pakaian serba hitam, ikat kepala hitam dan celana setengah lutut hitam.

Foto Bersama Tamu Undangan: Mempelai pria dan wanita foto bersama dengan tamu undangan
Foto Bersama Tamu Undangan: Mempelai pria dan wanita foto bersama dengan tamu undangan
Tidak Dicatatkan
Pada kesempatan itu, hadir dari perangkat pemerintah, Kepala Desa, Kesabangpolimnas, dan Polsek Undaan sebagai tamu undangan. Mereka pun turut mengikuti kebahagiaan kedua keluarga. Tak seperti pada masa Orde Baru yang selalu diintimidasi setiap warga Sedulur Sikep melangsung perkawinan.

“Kalau sekarang zaman sudah terbuka, baru kali ini keluarga kami melakukan perkawinan dengan dihadiri perangkat pemerintah dengan terbuka. Kalau zaman Orde Baru waktu saya menikah dengan istri saya, saya dipaksa untuk dicatatkan berdasarkan ajaran Islam. Paksaan itu disertai dengan paksaan,” cerita Budi, sembari mengenang masa perkawinannya dulu yang penuh rintangan.

Meskipun sudah tak ada lagi intimidasi dan paksaan seperti masa Orba, namun perkawinan itu tetap saja tak bisa dicatatkan. Meskipun perangkat pemerintah hadir, namun tak bisa mencatatkan karena terganjal aturan. Pemerintah selalu beralasan karena Agama Adam atau Sedulur Sikep belum diakui negara.

Sebagai refleksi, Sedulur Sikep atau Samin selalu mengatakan bukan aliran kepercayaan. Untuk saat ini yang bisa melakukan perkawinan hanya yang beragama resmi dan aliran keperayaan yang terdaftar di Kesbangpolimnas. Sementara Sedulur Sikep sejak awal mendeklarasikan bahwa mereka bukan aliran kepercayaan, tapi Agama Adam, yang diwariskan leluhurnya ki Samin Surosentiko.

Baca Juga  Undang-Undang PNPS Hambat Perkembangan Penghayat

“Belum bisa dicatatkan. Ya karena Agama Kami tidak diakui negara. Padahal Agama Adam adalah agama asli lokal Jawa. Agama yang diwarisi leluhur yang berjuang merebut kemerdekaan dari Penjajahan Belanda. Jadi yang penting perkawinan ini sah menurut ajaran Agama Adam,” sambung, Maskad, pengikut Sedulur Sikep asal Desa Kaliyoso Kecamatan Undaan, Kudus.

Dalam ijab qobul kedua mempelay sejatinya sudah memenuhi syarat-syarat perkawinan. Pada perkawinan antara Sarah Puji Rahayu dan Iseh Syahroni dihadiri kedua wali. Sarah Puji Rahayu disaksikan wali Budi Santoso dan Ibunya Tianah asal Desa Larekrejo, Kecamatan Undaan.

Iseh Syahroni disaksikan wali Mukrin dan Ibunya Sri Rumisih asal Desa Kaliyoso, Kecaatan Undaan. Sementara yang menikahkan sekaligus sesepuh, adalah Budi Santoso. Pada perkawinan ini juga disaksikan oleh kedua pasangan suamu istri yakni Loso dan Sudarmo. [elsa-ol/Cep-@Ceprudin]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *