Pancasila Rumah Bersama

0
41
Menjelaskan: Ketua PP Lakpesdam PBNU Dr Rumadi Ahmad menjelaskan materi pada pelatihan juru bicara Pancasila di Hotel Quest Semarang, Sabtu, 13 Oktober 2018. Foto: Ceprudin

Semarang, elsaonline.com – Ibarat sebuah rumah, Pancasila itu rumah bersama. Rumah yang ramah bagi semua penghuninya tanpa memandang, suku, ras, dan agama. Tak ada tuan tak ada hamba, semua sama derajatnya.

“Maka rumah itu harus bisa menjadi wadah semua penghuninya. Semua orang dalam rumah yang dinamakan Pancasila itu, menjadi tuan. Ya tuan rumahnya kita semua,” jelas Ketua PP Lakpesdam PBNU Dr Rumadi Ahmad pada pelatihan juru bicara Pancasila di Hotel Quest Semarang, Sabtu, 13 Oktober 2018.

Kegiatan ini digelar Komunitas Bela Indonesia (KBI) kerjasama dengan Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang. Secara khusus, kegiatan ini bertujuan untuk melatih pemuda Indonesia, supaya dapat menjadi juru bicara Pancasila. Komunitas kini telah melatih pemuda serupa di enam kota lain di Indonesia, dan akan melatih di 25 kota besar di Indonesia.

Rumadi melanjutkan, jika semua tuan rumah, paling tidak tugasnya mencegah jika ada orang yang mencoba meursaknya. Semua penghuni rumah berkewajiban menjaga supaya tidak ada yang merongrong rumah itu.

Mencegah

“Mencegah orang yang merusak atau mencegah supaya orang tidak seenaknya keluar masuk rumah. Meskipun analogi ini tidak bisa serta merta dipahami secara tektual ya,” tambah dosen UIN Syarid Hidayatullah Jakarta ini.

Lalu mengapa analoginya rumah? Menurut Rumadi, karena rumah biasanya menggambarkan kepemilikan terhadapnya. Untuk menggambarkan bahwa kita ini hidup bersama dan memiliki tanggung jawab bersama.

Tugas bersama untuk menjaga Pancasila itu niscaya. Menurut Rumadi, gerakan-gerakan yang bersemangat untuk merusak, menjelekkan, bahkan mengganti Pancasila nyata adanya. Salah satu yang terus dikampanyekan gerakan ini adalah menggunakan jargon ”kembali pada Piagam Jakarta”.

”Tapi yang harus dipahami, meskipun Piagam Jakarta diaborsi, tapi umat Islam di Indonesia tetap diberikan porsi lebih dalam menjalankan keyakinannya,” sambung alumnus UIN Semarang ini.

Tak Beda

Rumadi berpandangan, sesungguhnya ada dan tidaknya Piagam Jakarta tak jauh berbeda. Mungkin, katanya, bedanya hanya sebatas sisi formalisme semata. Itu bisa dilihat dari sisi peraturan perundang-undangan dimana tak sedikit Perda bernuansa syariah.

”Faktanya, apa yang diimajinasikan dalam Piagam Jakarta sekarang terlaksana. Misalnya, orang Islam diberikan keleluasaan untuk membuat Peradilan Agama, ada undang-undang zakat, wakaf, perbankkan syariah, undang-undang haji dan segala macam yang berbau syariah. Itu semua bisa dibuat tanpa adanya Piagam Jakarta,” katanya.

Bagi sebagian kelompok, adanya aturan beraroma syariah ini menguntungkan. Sehingga mereka ngegas nuansa syariah itu supaya tetap dapat keuntungan.

”Tapi persoalannya, ada sebagian warga negara yang hanya sekadar untuk menikmati hak dasarnya sebagai warga negara saja masih susah. Ada sekelompok orang yang hanya sekadar mencantumkan identitas agama di KTP masih sulit. Kalau begitu, kayaknya kita gak punya perasaan banget,” terangnya.

Provokasi

Karena itu, jika ada kelompok yang menghembuskan narasi bahwa Islam sedang dipinggirkan itu provokasi yang berbahaya. Dengan narasi Islam dipinggirkan itu sangat mungkin membangkitkan emosi umat Islam yang susungguhnya sedang sangat dimanja perundangan yang ada.

Bahayanya, orang Islam akan merasa dipinggirkan dan orang non Muslim merasa juga merasa dipinggirkan. Akhirnya timbulah mosi tidak percaya pada pemerintah. ”Padahal Islam itu mendapat privilage (pengutamaan) yang luar biasa dari sisi perundang-undangan.

Koordinator KBI, Anick HT mengatakan, pelatihan juru bicara Pancasila diperlukan untuk memperkuat kesadaran masyarakat meneguhkan ideologi Pancasila sebagai perekat bangsa.

Pelatihan juru bicara dipandang penting karena saat ini terjadi penguatan sektarianisme dan politisasi agama. Falsafah kebangsaan yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa perlu terus diingatkan agar tidak tergerus bahkan dilupakan. (Cep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here