Ming. Okt 25th, 2020

elsaonline.com

Voice of the voiceless

Pasar Imlek Semawis Contoh Kehidupan Multikultural

2 min read
Harjanto K. Halim
Harjanto K. Halim

Harjanto[Semarang –elsaonline.com] Imlek telah menjelang, lampion telah dipasang. Tebu dan kue keranjang, bunga sedap sedap malam dan hoatkue harus segera dibeli untuk hiasan pintu dan altar sembahyang. Harapan dan keinginan tulus dipanjatkan. Semoga tahun baru senantiasa diberkahi keberlimpahan, kesehatan, keselamatan dan kedamaian. Semoga para pemimpin negeri selalu melangkah tegap, siap memutus tuntas; tegas dan cancut taliwanda.

Demikianlah harapan yang disampaikan Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis), Harjanto Kusuma Halim, menandai selebrasi perayaan Pasar Imlek Semawis yang ke-12 di Kawasan Pecinan Kota Semarang, belum lama ini. Harjanto menuturkan bahwa Pasar Imlek Semawis menjadi contoh kehidupan multikultural yang harmonis dan terbuka yang meretas batas sosial dan etnis. “Inilah adalah jatidiri sesungguhnya Kota Semarang. Inilah aset sekaligus kebanggaan yang tidak dimiliki oleh kota-kota lain,” terang lulusan teknologi pangan University of California, Davis, Amerika Serikat, tahun 1990 ini.

Suami Lisa Ambarwati Dharmawan menyampaikan bahwa revitaliasai Pecinan bukan sekadar revitaliasi ragawi, namun juga revitalisasi non-ragawi. Harjanto menegaskan bahwa revitaliasi Pecinan adalah menumbuhkan kesadaran masyarakat Pecinan bahwa etnis Tionghoa bukan lagi etnis yang didiskriminasi atau dimarjinalkan. “Etnis Tionghoa adalah etnis yang sejajar dan setara, berkesempatan dan berhak yang sama dengan suku-suku lain di negeri ini. Etnis Tionghoa adalah Warga Negara Republik Indonesia,” beber lulusan SMA Karang Turi tahun 1984.

Karena itu, bagi pria yang selalu tampil dengan rambut cepak, toleransi dan tepa-slira sesungguhnya telah menjadi bagian jatidiri bangsa, telah tertanam dalam tanpa harus ikut penataran. Meski demikian, pihaknya berharap semakin banyak manusia-manusia cerdas budaya, semakin banyak manusia melek kebangsaan. Menurutnya, ketionghoaan atau kejawen adalah atribut yang harus melebur di hadapan Kibar Merah Putih. “Semakin banyak manusia-manusia yang harusnya mau menyadari, sebelum menjadi Muslim, sebelum menjadi Nasrani, kita ini telah menjadi manusia Indonesia di bumi Khtulistiwa,” pungkasnya. [elsa-ol/Munif-@MunifBams/001]

Baca Juga  Belikrejo, Hidup Damai Ala Pedesaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *