“Peminggiran” Buat Perempuan Penghayat Kepercayaan alami Ketertinggalan

Ungaran, elsaonline.com – Ketua Umum Perempuan Penghayat Kepercayaan (Puan Hayati) Dian Jenie Cahyawati, menegaskan organisasi Organisasi Perempuan Penghayat Kepercayaan mengalami ketertinggalan dibanding dengan organisasi perempuan keagamaan lain di Indonesia.

“Harus diakui bahwa saat ini kita tertinggal jika dibandingkan dengan organisasi perempuan keagamaan lainnya. Kita harus bangkit dengan penuh semangat,” katanya, pada pembukaan Pelatihan Training of Trainer Kader Utama Puan Hayati Jateng di Green Valley, Bandungan, Kabupaten Semarang, Kamis 8 September 2022.

Aktivis perempuan asal Surabaya ini melanjutkan, Perempuan Kepercayaan alami ketertinggalan karena adanya faktor “peminggiran” yang dialami sepanjang sejarah organisasi Kepercayaan. Karena itu, Ia berharap dari pelatihan ini menghasilkan jangkar-jangkar Puan Hayati yang mampu mengemban tugas kemajuan organisasi.

“Pertemuan ini diharapkan menjadi bagian penting untuk memperkuat organisasi. Ogranisasi tidak akan kokoh jika tidak didukung dan didasarkan atas kerjasama dan saling percaya. Kita semua harus saling berbagi kesempatan dan kerjasama,” sambungnya.

Dian berpesan, sekalipun pemimpin organisasi adalah roda penggerak namun sejatinya setiap anggota organisasi mempunyai peran penting dalam memajukan organisasi.

“Pendidikan dasar pelatihan ini salah satu materinya kesetaraan gender yang menekankan pentingnya peran bersama antara perempuan dan laki-laki dalam memajukan organisasi Kepercayaan,” pungkas Dian.

Penuh Dedikasi

Pada kesempatan itu hadir anggota Presidium MLKI Jawa Tengah Mulyno. Dia memberikan semangat supaya kader Penghayat Kepercayaan harus penuh dedikasi dan rela berkorban. Dalam menjalankan tugas-tugas organisasi, katanya, tidak perlu memikirkan sesuatu yang bersifat materi.

“Kepentingan organisasi harus dikedepankan supaya tumbuh dan terus maju. Saya sepakat bahwa organisasi akan maju jika ada keterlibatan dari perempuan. Semuga peserta training ini menjadi pionir-pionir di daerah masing-masing,” kata Mulyono.

Baca Juga  Warga Sapta Dharma Rentan Terdiskriminasi

Sebagai informasi peserta pelatihan Puan Hayati Jateng berasal dari 14 kota/kabupaten dan berasal dari delapan organisasi Kepercayaan.

Pada kesempatan itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo hadir melalui zoom meeting dan berkesempatan dialog dengan peserta.

“Yuk diantara kita bisa mengambil peran masing-masing. Ayok kita hindari nikah dini, hindari kekerasan terhadap perempuan. Puan Hayati bagian yang sangat penting untuk menyampaikan cerita kongkrit utamanya tentang budi pekerti pada generasi bangsa, nilai-nilai saling menghargai misalnya,” tukas Gubernur. Cep

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Tidak Ada Ruang Publik Gratis dan Demokratis

Oleh: Alfian Ihsan Dosen Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman   Apakah Anda selalu...

Hukum Lingkungan Internasional

Angin tidak punya KTP, sehingga kalau pencemaran udara terjadi...

Onderdistrict Tjilimoes

Buku ini berangkat dari pertanyaan sederhana, bagaimana perubahan yang...

Yaumul Quds: Politik Simbol dan Emosi Kolektif dalam Solidaritas Palestina

Oleh: Tedi Kholiludin Jarum jam belum genap menunjuk pukul 14.00...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini