Perbedaan Agama dan Kepercayaan itu Hidayah

0
970
Kepala Desa Siandong, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, M Taufiq HS (kedua dari kanan) saat hadir pada pembukaan rembug warga dan buka bersama ‘pentingnya menjaga kerukunan antar umat beragama’ di kantor balai desa setempat, Senin (29/6/15).

Kepala Desa Siandong, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, M Taufiq HS (kedua dari kanan) saat hadir pada pembukaan rembug warga dan buka bersama ‘pentingnya menjaga kerukunan antar umat beragama’ di kantor balai desa setempat, Senin (29/6/15).
Kepala Desa Siandong, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, M Taufiq HS (kedua dari kanan) saat hadir pada pembukaan rembug warga dan buka bersama ‘pentingnya menjaga kerukunan antar umat beragama’ di kantor balai desa setempat, Senin (29/6/15).
[Brebes –elsaonline.com] Kepala Desa Siandong, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, M Taufiq HS menegaskan, Indonesia memiliki bermacam-macam agama, kepercayaan. Kenyataan yang beragam ini harus dirawat dengan menghindarkan prasangka-prasangka buruk terhadap agama atau kepercayaan lain.

“Saya diajari oleh beliau mantan presiden keempat, KH Abdurrahman Wahid (alm) Gus Dur, kebetulan saya dulu ngaji disana (Tebuireng, red). Gus Dur mengatakan jangan ada satu suudzon (prasangka buruk) antara kita semua umat beragama,” katanya, pada pembukaan rembug warga dan buka bersama “Pentingnya Menjaga Kerukunan Antar Umat Beragama” di kantor balai desa setempat, Senin (29/6/15).

Karena itu, adanya Kepercayaan Sapta Darma, Kristen dan Muslim merupakan hidayah dari Allah SWT. Ia berharap melalui pertemuan tersebut umat yang beragam ini semakin rukun untuk membangun kemajuan bangsa, terutama kemajuan Desa Siandong. Ia sangat berharap warganya untuk bersatu meskipun berbeda keyakinan.

“Saya sebagai orang tua hanya titip, mari kita bergandeng tangan, baik menurut kepercayaan apa pun. Sebaga orang Muslim juga tetap bergandengan tangan supaya negara kita semakin maju. Jangan sampe terjadi pecah belah, karena negara kita akan semakin menurun,” lanjutnya.

Tidak Melarang

Pada kesempatan itu, Taufiq menegaskan bahwa ia tidak melarang warganya untuk menganut Kepercayaan Sapta Darma. Bahkan ia berpesan supaya penganut Sapta Darma menjalankan ibadahnya sesuai dengan iman yang dianut Sapta Darma. Dengan begitu tidak akan terjadi benturan antar kepercayaan.

”Jadi ada warga kami yang ikut Sapta Darma, ya monggo, itu hak sampean. Kami sebagai orang tua tidak akan melarang. Dengan menjalankan kepercayaan itu yang penting betul-betul, menjalankan sesuai dengan kepercayaan yang sampean percayai itu. Dalam Islam itu Iman, percaya kepada Allah, nah dalam kepercayaan njenengan monggo beriman sesuai ajaranya. Jangan sampe ada benturan,” tandasnya.

Mengenai adanya acara tersebut ia merasa bangga dengan ketempatan acara rembug warga dan buka bersama. Ia setuju dengan pentingnya upaya untuk mencapai kerukunan antar umat beragama dan kepercayaan ini. ”Ada perwakilan dari Provinsi Jawa Tengah ada yang dari Kabupaten Brebes, ada yang dari Polda Jateng dan Polsek Larangan ini merupakan hidayah bagi kami,” pungkasnya.

Direktur Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang, Tedi Kholiludin yang menjadi pemandu waktu mengatakan, forum ini sekaligus memberikan kesempatan kepada pihak pemerintah dan masyarakat untuk menyampaikan hal-hal yang barangkali perlu kita evaluasi.

”Adanya unsur masyarakat dan pemerintah untuk menjaga kerukunan antar umat beragama dan kepercayaan. Ini merupakan program Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK). Jadi programnya tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata, tapi juga pengembangan sumber daya manusianya,” tutur Tedi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here