elsaonline.com

Voice of the voiceless

Soal Intoleransi, Kepala Disdikbud Jateng; Kita Jangan Seperti Pemadam Kebakaran

3 min read

Memberi Materi: Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jateng Dr Hari Wuljanto memberikan materi pada webinar “dinamika isu keberagaman di lingkungan pendidikan, Rabu, 3 Maret 2021

SEMARANG, elsaonline.com – Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jateng Dr Hari Wuljanto menegaskan, semua pihak harus mengantisipasi terjadinya tindak intoleransi di sekolah. Salah satunya dengan melakukan pemetaan kelompok lemah yang rentan diskriminasi dan intoleransi.

“Intoleransi harus diantisipasi, harus diadakan pemetaan di mana siswa yang lemah harus dilindungi. Jangan sampai kita seperti hanya pemadam kebakaran,” kata mantan Kabid Pembinaan SMK Disdikbud Jateng ini pada webinar “dinamika isu keberagaman di lingkungan pendidikan” melalui zoom meeting, Rabu, 3 Maret 2021.

Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Yayasan Wahid Foundation dengan Disdikbud Provinsi Jateng. Selain Plt Kepala Disdikbud Jateng, hadir juga sebagai narasumber anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti dan Kepala SMAN 13 Semarang, Dr Endah Dyah Wardani. Diskusi ini dihadiri peserta sekitar 500 sekolah SMA/SMK se Jateng.

Hari juga menyinggung tentang SKB 3 Menteri tentang seragam sekolah. Hematnya, seragam sejatinya bertujuan baik sebagai wujud kearifan lokal. Namun ketika seragam dipaksa-paksa atau diwajibkan itu yang menjadi masalah.

Prinsip Toleransi

“Kalau seragam jadi masalah, sudah lah sekolah gak usah pakai seragam. Yang penting anak-anak sekolah. Sebetulanya tidak ada masalah (dengan seragam), tapi jika kemudian menyuruh, pemaksaan, penekanan, mewajibkan itu yang menjadi masalah,” kata Hari.

Kadinas menambahkan, sekolah juga berfungsi menjunjung konsesus pilar-pilar negara. Karena itu prinsip-prinsip toleransi, menghargai perbedaan pemikiran, gagasan, dan pendapat harus ditanamkan di sekolah. Guru-guru mempunyai elemen penting untuk mewujudkan iklim sekolah saling menghargai itu.

Kadinas yang konsen dalam isu nasionalisme dan pendidikan karakter ini berpesan supaya sekolah menyemai perdamaian dalam keragaman. Siswa harus dibiasakan interaksi dalam situasi yang berbeda.

“Keberagaman bukan hanya tentang ideologi, tapi juga kondisi sosial ekonomi. Tugas kita membiming anak-anak supaya potensi-potensi yang ada pada siswa terus berkembang. Kita tidak bisa menjustifikasi tapi harus mengarahkan,” tandasnya.

Baca Juga  Gus Dur dan Kebijakan Kesehatan

Peran Sekolah

Anggota KPAI Retno Listyarti menegaskan sekolah mempunyai peran penting dalam pencegahan intoleransi di sekolah. Aktifitas sekolah harus betul-betul dipantau. Terlebih ketika acara tersebut mendatangkan narasumber dari luar sekolah.

“Saya juga dulu kepala juga sekolah. Kegiatan (ekstra) biasanya pemateri diambil dari luar. Ini harus diwaspadai. Saya punya pengalaman begitu. Karena itu saya sangat mendukung sekolah ramah anak, sekolah non-diskriminasi,” katanya.

Sejatinya, lanjut Retno, jika Kepala Dinas atau Kepala Sekolah mempunyai niat kuat untuk menanggulangi diskriminasi dan intoleransi di sekolah sangat memungkinkan. Kadinas atau Kepsek cukup membuat kebijakan itu di sekolah.

“Cantolannya ada Permendikbud No 82/2015 tentang Pencegahan dan Penangaanan Kekerasan di saturan pendidikan. Pasal 6 huruf i, mengatur tegas soal itu,” katanya.

Berkaitan dengan busana, sambung Retno, sekolah membuat peraturan beragam. “Rata-rata anjuran, meskipun ada yang mewajibkan. Namun jika anjuran itu dilakukan kepada yang tidak setara (posisinya), maka itu sebetulnya perintah. Ya artinya SKB yang sekarang sudah sesuai, karena tidak melarang juga tidak mewajibkan,” tandasnya.

Sekolah Damai

Kepala Sekolah SMAN 13 Semarang Endah Dyah Wardani yang juga menjadi narasumber menyampaikan, sekolahnya tegas mendeklarasikan sekolah damai. Dalam sehari-hari di sekolah, ia sebagai kepala sekolah betul-betul mengontrol supaya paham intoleransi tidak masuk di lingkungan sekolahnya.

“Sebagai bagian dari sekolah damai kami deklarasi penuh toleransi. Semua unsur dari sekolah guru, kami mempraktikan saling menghormati perbedaan. Kami juga menanamkan nilai setara tidak ada superior dan inferior. Kami juga tidak ada pemaksaan seragam apa pun. Itu kami buktikan salah satunya dengan safari toleransi dan wisata lintas agama,” tandasnya. Cep

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *