Yang Statis dan Yang Dinamis

1
87

Oleh; Ahmad Fauzi

Elemen primer perubahan berada di dalam warisan Arab itu sendiri, tidak di luarnya. Warisan tidak memiliki nilai, selama ia masih menjadi masa lalu. Oleh karena itu, bangsa Arab harus mengambil elemen-elemen penting yang memiliki potensi perubahan di dalam warisannya sendiri sehingga melampaui masa lalunya secara radikal, kreatif, dan niscaya. (Ali Ahmad Said; Adonis)

Tiga karakteristik yang disebut sebagai mental (dzihniyyah) kemapanan;[1]

Pertama, pada tataran eksistensial. Berkaitan dengan level ontologis, yakni teologinya (lahutaniyyah) cenderung ekstensif untuk memisahkan tuhan dari manusia dan melihat konsep keagamaan tentang tuhan sebagai sumber, poros, dan akhir segala sesuatu. Bagi Adonis, pemikiran Arab adalah pemikiran tentang sesuatu yang abstrak dan metafisik absolut. Dalam kehidupan sosial-politik, hal ini dengan sendirinya terefleksikan dalam reifikasi bangsa, sebuah komunitas dan negara yang tidak lain hanyalah proyeksi teologis, dan oleh karenanya merupakan abstraksi metafisis. Manusia tidak eksis dengan sendirinya, tetapi oleh tuhan dan karenanya di dunia di hanya eksis dengan agama, komunitas, negara, dan keluarga. Karena itulah, ia tidak memparaktikkan esensi kemanusiaannya sebagai seorang individu, sebab tidak memiliki kebebasan kreativitas dan inovasi. Manusia arab eksis secara sekunder karena “yang lain” (the other), secara primer karena tuhan dan secara total karena “yang lain” (the other).

Kedua, pada tingkat psikologis. Mentalitas Arab dicirikan oleh adanya pemikiran “preteritisme” yakni keterikatan dengan apa yang telah diketahui, menolak dan bahkan takut pada apa yang tidak diketahui. Dunia Arab merasa bahwa eksistensinya tergantung pada kemapanan simbol-simbol dan struktur masa lalu, dan ia sering bersikap bengis terhadap siapa pun yang mengancamnya. Dia menggunakan apa yang telah diketahui, yakni warisannya untuk memahami segala sesuatu. Jika semua itu tidak dapat menjelaskan sesuatu yang belum diketahui, maka yang terakhir ini tidak dapat dibenarkan.

Ketiga, pada tataran ekspresi dan bahasa, yakni pemisahan antara makna dan ujaran, dan pendapat yang mengatakan bahwa makna mendahului ujaran. Ide dianggap telah ada sebelum ujaran dan ujaran hanyalah dianggap sebagai gambaran bagi ide atau tulisan dekoratif. Orang Arab cenderung konservatif karena lebih mengutamakan retorika daripada tulisan. Hal itu karena retorika lebih dekat dengan imitasi terhadap ucapan ilahi atau wahyu. Tulisan tidak lain adalah ucapan yang terjerembab dan terperangkap dalam waktu. Tulisan merupakan bayangan tipis dari ucapan. Oleh karena itu, dalam tataran ide tidak dapat terjadi inovasi, tetapi hanya bentuk-nya saja yang diambil. Karenanya pula, literatur Arab pada dasarnya adalah bersifat konformis (itba’).

Keempat, pada tingkat perkembangan peradaban dicirikan oleh adanya kontradiksi antara Arab dengan modernitas, karena bagi bangsa Arab apa yang klasik dan telah diketahui menjadi sumber bagi seluruh nilai privat, publik dan segala hal yang mengatur hubungannya dengan dunia. Personalitas Arab, sebagaimana juga dengan kebudayaan Arab berputar-putar di sekitar masa lalu. Modernitas yang sesungguhnya terletak dalam kreativitas dan inovasi ditolak oleh bangsa Arab, karena dia menolak adanya keraguan, eksperimentasi, kebebasan pengkajian yang mutlak dan penjelajahan atau eksplorasi sesuatu yang tidak diketahui.

Sedangkan karakteristik yang bisa disebut sebagai elemen perubahan (al-mutahawwil) adalah;

Pertama, pengalaman sufi yang berusaha memperbaiki hubungan dalam relasi baru antara tuhan dan manusia merupakan kritik atas konsep transendensi tuhan dalam teologi tradisional.

Kedua, pengalaman sufi yang mengaktualisasikan keutamaan bathin daripada yang lahir sehingga merupakan kritik untuk membebaskan diri dari belenggu syari’ah.

Ketiga, gerakan-gerakan revolusioner Khawarij dan Qaramith yang menebarkan paham egalitarianism. Bahwa semua orang berhak menjadi pemimpin politik, tidak hanya keturunan Quraisy saja.

Keempat, gerakan rasionalisme Mu’tazilah yang mengutamakan akal daripada naql.

Keenam, empirisisme dalam ilmu pengetahuan.

Ketujuh, inilah yang paling penting dari semua elemen perubahan, yaitu kritik terhadap wahyu dan kenabian. Syarat utama modernitas, menurut Adonis, adalah kritik mendasar atas wahyu. Karena hasil kebudayaan Islam dan pemikiran-pemikirannya didasarkan pada pondasi wahyu. Dalam hal ini, Adonis menempatkan ar-Rawandi dan ar-Razi sebagai pioneer modernitas pertama dalam Islam.


[1] Disarikan dari buku Adonis (Ats-tsabit wa al-Mutahawwil; Baths fi al-Ibda wa al-Itba ‘inda al-Arabi,  Jilid Pertama; Pendahuluan) dan buku Issa J. Boullata, terjemahan; “Dekonstruksi Tradisi, Gelegar Pemikiran Arab-Islam”.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here