Solidaritas Negatif dalam Konflik Bernuansa Agama

Johana Manumbey (biru)
Johana Manumbey (biru)

[Jakarta –elsaonline.com] Hingga kini, masyarakat muslim di Batuplat, Kupang Nusa Tenggara Timur belum juga bisa mendirikan mesjid di wilayahnya. Masalahnya tak hanya soal penegakan hukum belaka. Ada jarak yang harus dijembatani. (baca juga: Kasihan, Tunan Tak Punya Rumah)

Hal tersebut diutarakan oleh Joana Manumbey, pegiat di Komunitas Peace Maker Kupang atau Kompak. Joana bersama kawan-kawannya berupaya untuk menjembatani jarak di antara masyarakat Kristen dan Muslim di Batuplat.

“Yang dilakukan oleh Kompak agar masyarakat Batuplat bisa menerima pembangunan mesjid itu lebih pada integrasi sosialnya. Karena pemahaman kami di Kompak bahwa sekalipun mesjid itu dapat dibangun, tetapi kalau masyarakatnya belum merasa nyaman, itu akan menyusahkan,” terang dara yang akrab disapa Ona kepada elsaonline beberapa waktu lalu.

Padahal, lanjut Ona mereka akan hidup bersama-sama disitu. Jika tidak ada soliditas maka konflik menjadi sangat mudah disulut. “Sehingga kami (Kompak, red) berupaya untuk membuat masyarakat Muslim dan Kristen aman terlebih dahulu, baru melanjutkan pembangunan mesjid,” terang lulusan Universitas Nusa Cendana, Kupang.

Momen seperti buka puasa, misalnya dijadikan oleh Kompak sebagai alat advokasi. “Kami berusaha agar jadi jembatan sehingga mereka tidak langsung berhadap-hadapan,” ungkap Ona. Wanita berkacamata itu mengatakan hal itu ia lakukan karena di antara kelompok Kristen pun ada yang menjadi korban. “Maksudnya begini, tidak semua masyarakat Kristen itu menolak pembangunan mesjid. Tetapi ketika dia menjadi bagian dari yang mendukung pembangunan mesjid, maka yang menolak  itu juga memusuhi yang mendukung. Jadi ada korban diantara korban yang lain,” kata Ona menjelaskan. Nah, lembaga yang diinisiasi oleh Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) itu menjaga agar itu tidak terjadi.

Baca Juga  Mekanisme “Bonding” dan “Bridging” Jemaat Ahmadiyah Semarang

Ketika ditanya alasan mengapa muncul penolakan, Ona menyebut ada semacam solidaritas negartif. “Di NTT, mayoritas penduduknya beragama Kristen. Ketika melihat pembangunan gereja di luar NTT itu dipermasalahkan, ada rasa ingin membalas hal tersebut. Itu menjadi salah satu faktornya,” kata Ona di akhir pembicaraan. [elsa-ol/TKh-@tedikholiludin]

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Tidak Ada Ruang Publik Gratis dan Demokratis

Oleh: Alfian Ihsan Dosen Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman   Apakah Anda selalu...

Hukum Lingkungan Internasional

Angin tidak punya KTP, sehingga kalau pencemaran udara terjadi...

Onderdistrict Tjilimoes

Buku ini berangkat dari pertanyaan sederhana, bagaimana perubahan yang...

Yaumul Quds: Politik Simbol dan Emosi Kolektif dalam Solidaritas Palestina

Oleh: Tedi Kholiludin Jarum jam belum genap menunjuk pukul 14.00...

EN (?): Konsep Ikatan Tak Terlihat dalam Budaya Jepang

Oleh : Iwan Madari (Pemerhati Kebudayaan Jepang) elsaonline.com Dalam hidup,...