“…. Aku akan Menjadikan Penolong Baginya”

0
112

Oleh: Tedi Kholiludin

Di satu sudut ruang tunggu bandara, dua kursi pijat kebetulan sedang kosong. Saya mendekati dan bermaksud untuk memanfaatkan fungsinya. Lumayan, melemaskan otot-otot yang tegang setelah satu minggu menjalani rutinitas. Awalnya saya pikir itu fasilitas gratis yang disediakan pihak bandara. Tapi, ya apa mungki. Dan betul saja. Kursi pijat itu bertarif. 5 menit 10.000, 10 menit 20.000 dan seterusnya.

Saya merogoh saku, ada uang 10.000, padahal saya ingin dipijat lebih dari 5 menit. Saku celana sebelah kiri saya rogoh, ada 5.000-an dua lembar yang kalau ditotal, cukup untuk 10 menit pijat. Seorang kawan yang berdiri di samping saya dan hendak dipijat, menyodorkan satu lembar 20.000. “Ini mas, saya pakai yang 10.000 punya njenengan,” tawarnya. Kami pun kemudian dipijat secara elektrik yang disistem melalui kursi tersebut.

Sembari merem-melek menikmati pijatan buatan itu, saya berpikir tentang hal-hal artifisial yang bisa menggantikan peran-peran manusia. Mesin-mesin menggantikan tenaga manusia. Tanpa dokter, mesin sudah bisa mendeteksi penyakit seseorang. Robot-robot pengendali tak sulit kita jumpai. Ada manusia yang terbantu, tetapi di lain sudut, ada manusia-manusia yang terasing atau mungkin sengaja mengasingkan diri.

***

Saya ingin menjadikan firman dalam Kejadian 2:18 sebagai bahan untuk merefleksikan fenomena diatas. Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

“Firman sosiologis” diatas menolong kita untuk memahami siapa dan bagaimana Allah mencipta manusia. Di dunia, manusia tidaklah seorang diri. Tuhan tidak menciptakan satu orang makhluk saja. Diciptakannya manusia yang lain oleh Tuhan, tidak hanya dalam kapasitas sebagai teman seperkawanan bagi sesamanya. Seturut dalam firman diatas, manusia itu berperan sebagai penolong.

Saling tolong menolong atau ta’awun adalah prinsip utama yang hendak disampaikan kepada umat manusia. Setiap bulan saya membayar uang jaminan kesehatan. Saat uang yang saya bayar itu baru terkumpul sekitar 1 atau 2 juta, saya bisa mengakses layanan kesehatan dengan gratis. Dalam layanan yang saya nikmati itu, ada bantuan atau pertolongan dari yang lain. Itulah ta’awun, tolong menolong.

Basis Alkitabiah tentang karakter manusia (yang penolong) itu kemudian digenapi oleh kalimat berikutnya, “sepadan dengan dia”. Sepadan, bisa kita maknai sebagai makhluk yang hidup, perasa, memiliki emosi serta sifat-sifat lain yang melekat pada manusia. Tuhan menciptakan manusia dengan segala kelebihannya. Manusia kemudian mengoptimalkannya. Ia memproduksi mesin-mesin canggih, yang dalam perjalanannya, kerap mereduksi sifat kemanusiaannya itu sendiri. Mereka menjadi jarang berinteraksi langsung dengan yang lain, karena ada fungsi yang sudah digantikan.

***

Ayat diatas mengingatkan kepada kita tentang teolog asal kejadian manusia. Karakter dasar yang melekat, serta atribut sosiologis yang mestinya kita ejawantahkan dalam kehidupan keseharian. Mesin dibuat oleh membantu, bukan mengasingkan dengan yang lain. Meski ada fungsi yang tergantikan, tetapi ada karakter manusia yang tak bisa ditunaikan oleh mesin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here