Bonang, Lasem, dan Keberagaman

0
69

Oleh M Najibur Rohman

(Tulisan ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, 17 Juli 2010)

BONANG sebagai salah satu desa di Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang menyimpan jejak sejarah penting. Asosiasinya jelas, yaitu Sunan Bonang, salah satu dari Walisongo yang terkenal itu. Dari wilayah desa inilah Sunan Bonang dikisahkan mendakwahkan Islam dengan cara-cara yang moderat dan menghargai keragaman penduduknya.

Lasem sendiri merupakan paras kota yang menawarkan eksotisme pluralitas. Meskipun kota kecil yang terkenal dengan batik lasemnya ini terus mengalami perubahan, tempat ini sempat menjadi muara dialektika budaya dan agama yang intens.

Serat Badra Santi, salah satu sumber berita mengenai kecamatan itu, menyebut Lasem telah menjadi semacam tanah bawahan Majapahit pada tahun 1273 Saka atau 1351 Masehi. Wilayah ini dipimpin oleh perempuan bernama Dewi Indu yang merupakan kemenakan Prabu Hayam Wuruk, penguasa Majapahit (Kamzah, 1858).

Alkisah, perempuan yang bergelar Dewi Indu Purnama Wulan ini adalah salah satu dari anggota “Bathara Sapta Prabu” Majapahit yang terdiri atas tujuh orang yang dipercaya untuk memimpin daerah-daerah kekuasaan Majapahit yang luas.
Dari segi status pemerintahan, Lasem terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu.

Pertama adalah ketika kedudukannya berubah dari bhre (daerah bawahan) menjadi kadipaten sepeninggal Dewi Indu dan digantikan putranya, Badra Wardana.

Kedua, Lasem menjadi kadipaten di bawah kerajaan Islam Demak melalui kepemimpinan Raden Patah yang berhasil “menggeser” otoritas Majapahit. Dan ketiga, ketika tahun 1751 Lasem ditetapkan sebagai kecamatan setelah setahun sebelumnya status kota kabupaten dipindahkan ke Rembang oleh pemerintah kolonial Belanda.

Berdasarkan ceritera yang berkembang, kedatangan Sunan Bonang atau Maulana Makdum Ibrahim ke Lasem guna menyertai Nyai Ageng Maloka. Kakak perempuan Bonang ini diundang sebagai “guru”, yang kemudian diperistri oleh putra dari Adipati Lasem kala itu, Wira Badra.

Wujud Penghargaan Meskipun Wira Badra adalah seorang muslim, saudara lelakinya, Santi Badra adalah penganut Buddha yang taat. Santi Badra inilah yang dikenal sebagai pujangga berjuluk Mpu Santi Badra atau Mpu Wilwatikta (Kusaeri YS dkk, 2009). Namun begitu, keduanya tetap harmonis, baik secara kekerabatan maupun keagamaan.

Dari seluruh keragaman yang hadir, aroma China adalah paling kuat seperti umumnya daerah pesisir utara Jawa semenjak abad ke-15 (Lombard, 2005). Hingga hari ini cukup mudah menemukan ornamen-ornamen China pada bangunan kuno di kecamatan tersebut. Sentuhan perpaduan ini tentu merupakan hasil dari penghargaan masyarakat Lasem atas keragaman mereka.

Bahkan di Lasem terdapat Kelenteng Bie Yong Gio yang kerap disebut-sebut sebagai simbol akan pluralitas. Kelenteng ini menurut cerita dipersembahkan kepada tiga tokoh utama yang berjasa bagi Lasem, terutama dalam melawan kolonialisasi Belanda. Ketiganya adalah Oey Ing Kyat, Tan Kie Wie, dan Raden Panji Margono.

Di samping itu, sejauh pengajaran yang diterima dari Sunan Bonang, aspek menghormati agama dan kepercayaan lain sangat ditekankan. Sebagaimana dakwah Walisongo pada umumnya, yang ditampilkan bukanlah sikap-sikap pemaksaan melainkan cara beragama yang halus dan dialogis.

Sunan Bonang, yang juga guru dari Sunan Kalijaga, dikenal cukup fleksibel dalam menafsirkan doktrin-doktrin keislaman. Sunan Bonang, salah satunya menggunakan instrumen gamelan yang kala itu masih tabu karena dekat dengan unsur agama lain. Namun justru sang Sunan sendiri menambahkan alat musik lain dalam gamelan, yang terkenal dengan alat musik bonang.

Dengan demikian, deskripsi yang singkat ini diharapkan mampu menjadi inspirasi dalam membangun masyarakat yang harmonis. Bahwa menghargai keragaman adalah modal awal bagi tercapainya kemajuan bersama bagi masyarakat. Semoga!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here