Alfian Ihsan
Dosen Sosiologi FISIP Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto
Perkembangan kecerdasan artifisial, Artificial Intelligence, atau yang dalam bentuk baku Bahasa Indonesia disebut dengan Akal Imitasi semakin pesat dalam beberapa tahun ini. Individu yang mengalami kemelekatan dengan perangkat digital pasti sudah akrab dengan teknologi AI seperti ChatGPT, META AI pada Whatsapp, Google Gemini, Perplexity, atau KlingAI. Aneka rupa teknologi AI memberikan kemudahan manusia dalam mencari informasi, membuat gambar, hingga membuat video.
Akal Imitasi meraih popularitas dengan cepat dan merambah ke segala aspek kehidupan manusia dengan masif. Henry Kissinger dalam buku “Genesis” (2024) menyampaikan pernyataan optimis bersamaan dengan kalimat peringatan kepada umat manusia terkait AI. Menurut Kissinger, perkembangan AI berpotensi membawa kemajuan besar bagi manusia sekaligus membawa resiko teknis di luar prediksi mereka yang menciptakan.
Kissinger menyebut era Akal Imitasi sebagai abad ketiga pengetahuan, dimana AI memiliki potensi untuk menyatukan beragam disiplin pengetahuan dalam satu kesatuan pengetahuan. Negara manapun yang memiliki kemampuan ini akan memiliki kesempatan untuk menjadi negara komputasi super power. Kemampuan komputasi, dalam hal ini AI, menjadi sumber daya penentu dari persaingan global. Meninggalkan mereka yang masih berkutat dengan sumber daya alam dan pengembangan sumber daya manusia, ini didominasi oleh negara dunia ketiga.
Modal komputasi yang dikembangkan, kemudian akan berkembang dalam empat cabang besar kehidupan manusia. Kissinger menyebut aspek politik sebagai percabangan pertama dalam perkembangan AI bagi umat manusia. Kecepatan AI dalam memproses data dan menghasilkan keputusan bisa menghemat serangkaian agenda rapat yang membosankan dan sarat kepentingan faksi. AI akan bisa lebih diandalkan dalam mengambil Keputusan yang berdasarkan pertimbangan nalar rasional daripada politisi yang berkutat dengan kepentingan.
Aspek kedua adalah keamanan, dimana AI bisa menjadi alat bantu untuk mengatur keamanan digital sebuah negara dan sekaligus menjadi senjata digital untuk menyerang negara lain. Globalisasi memaksa semua negara terhubung dalam satu jaringan internet raksasa, AI bisa menyerang negara lain hanya dalam hitungan detik.
Kissinger menyebut Kemakmuran sebagai aspek ketiga. Dia percaya bahwa AI dapat membuat standar baru bagi kekayaan dan kesejahteraan manusia. Terakhir, AI akan menjadi pembuka jalan bagi beragam revolusi sains dan rekayasa biologis.
Dimana Kearifan Lokal dalam perkembangan Akal Imitasi?
Kissinger mengakui bahwa Akal Imitasi mengandung bahaya yang mengancam umat manusia. Pada bidang politik misal, pengambilan keputusan berdasarkan efektivitas dan efisiensi bisa jadi bukan keputusan terbaik. Ada elemen non-rasional, seperti sejarah, estetika, empati dan emosional, yang perlu juga dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan. Elemen non-rasional lain yang terlupa adalah budaya dan kearifan lokal.
Kearifan lokal merupakan terjemahan dari istilah “Local Genius” yang dipopulerkan oleh Quaritch Wales dalam pemaparan mengenai proses resiliensi masyarakat Asia Tenggara menghadapi pengaruh budaya yang dibawa oleh kelompok penjajah. Ajip Rosidi, budayawan Sunda, mendefinisikan kearifan lokal sebagai identitas unik sebuah kelompok meliputi tradisi, bahasa, sistem nilai, dan perilaku. Semua itu lahir dari olah cipta, rasa, dan karsa sebagai elemen pembentuk manusia selain nalar intelektual.
Kecenderungan manusia semakin tinggi untuk menggunakan AI sebagai panduan dalam menjalani hidup. Hal ini memunculkan kekhawatiran akan keseragaman jawaban yang diberikan oleh AI, sesuai data yang dimasukkan oleh individu dan data yang terkumpul dalam server AI. Keterpisahan individu dari kearifan lokal akibat globalisasi dan gempuran tren media sosial bisa menjadi semakin parah atas arahan AI. Ketiadaan data yang cukup mengenai nilai lokalitas yang melingkupi individu membuat AI berpotensi memberikan arahan atau jawaban yang kurang tepat secara konteks lokalitas.
Pada akhir bagian “Genesis”, Kissinger menaruh harapan pada perkembangan AI yang secara bertahap diberi input mengenai pengetahuan spesifik berbasis lokalitas. Meski begitu, kita sebagai entitas manusia tidak bisa dengan serta merta menyerahkan pengelolaan identitas kearifan lokal kepada mesin pembelajar itu. Sebagai entitas yang memiliki afeksi, empati, dan emosi, manusia memiliki lapisan pertimbangan dalam mengambil keputusan berkenaan dengan relasi antar manusia dan lingkungan. Sedekah Bumi, Resik Desa, Grebeg Suro, Slametan, Tepa Selira, dan aneka kearifan lokal lain bisa jadi tidak relevan dalam tolok ukur efektif dan efisien ala nalar kecerdasan artifisial.

