Oleh: Tedi Kholiludin
Ada satu pertanyaan yang diajukan dan hendak menjadi pengatur lalu lintas ide dalam tulisan ini; apakah kebangkitan ekspresi keberislaman di satu sisi berkorelasi dengan maraknya intoleransi di sisi yang lain?
Tentang kebangkitan ekspresi keberagamaan, telah banyak survey yang menunjukkan hal tersebut. Salah satunya yang dilakukan Alvara. Pada 2017, mereka merilis survey yang bertajuk āPotret Keberagamaan Muslim Indonesia.ā 95 % menyatakan bahwa agama memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Hampir 80% umat Islam melaksanakan sholat 5 waktu, baik berjamaah ataupun tidak. Merekapun sebagian besar melaksanakan tahlilan dan merayakan peringatan Maulid Nabi Muhammad.
Di luar dimensi ritual dan amalan yang menggelora, spirit keislaman juga tercermin dari munculnya ragam ekspresi, mulai dari tumbuhnya agen haji dan umroh, kelompok pengajian perkotaan, trend fashion Muslimah, media-media keislaman dan segenap ciri lainnya. Situasi yang oleh Bruinessen disebut sebagai āconservative turn.ā (Bruinessen, 2013).
Tak hanya itu, atmosfer keberislaman di level keseharian juga terasa menggejala. Kita tak sulit menemukan bagaimana rumah-rumah yang dikontrak menulis dengan jelas, ākhusus muslim/Muslimah.ā Pun, tawaran perumahan berbasis Syariah juga dengan mudah ditemukan.
***
Perlu terlebih dahulu mengiris jenis ekspresi apa yang dimaksud untuk memberi jawaban atas pertanyaan dalam pembuka tulisan ini. Penting untuk melihat motivasi yang menjadi latar belakang setiap tindakan intoleransi sehingga mampu memberikan jawaban dengan relevan atas keterkaitan atau ketidakterkaitan antara ekspresi keberislaman dengan fenomena intoleransi.
Kita ambil salah satu contoh, bagaimana intoleransi terhadap posisi umat Yahudi di Indonesia. Persepsi tentang Yudaisme, kerapkali bertindihan dengan sikap terhadap kebijakan politik Israel. Itu diperkuat dengan kebijakan pemerintah Indonesia, baik secara diplomatik terhadap Israel maupun agama Yahudi.
Apakah mereka yang memiliki sikap intoleran terhadap Yahudi ini berasal dari mereka yang sedang ada dalam gairah keislaman yang meninggi? Jawabannya bisa ya dan tidak. Iya, karena bukan tidak mungkin faktor pemahaman atas teks keagamaan yang memantik situasi itu, ditambah dengan munculnya sikap simpatik atas dasar agama atas bangsa Palestina yang menjadi korban Israel (yang dipersepsikan sama dengan Yahudi). Tapi, faktornya mungkin tak hanya itu, namun juga soal kebijakan negara Indonesia soal Israel termasuk posisi Yahudi dalam perundang-undangan di Indonesia yang mestinya mendapatkan jaminan hak sipil yang sama dengan penganut agama lainnya.
Peristiwa lain yang bisa dianalisis adalah menjamurnya varian kelompok etno-religius di Indonesia pasca reformasi. Organ-organ yang menggunakan Islam sebagai pasis penandanya, bisa dengan mudah kita lihat ketika gelombang perubahan politik menerpa Indonesia. Kita tak bisa menutup mata kalau sebagian dari kelompok ini, atau individu yang ada didalamnya, melakukan tindak intoleransi seperti menghasut permusuhan terhadap kelompok lain, melakukan penutupan tempat ibadah agama lain dan seterusnya.
Kasus lain bisa kita jadikan contoh, begitu membludaknya masa dalam kegiatan-kegiatan panggung yang bernama belakang āshalawat,ā misalnya āSemarang Bersholawat,ā āKampus Bershalawat,ā dan seterusnya. Gejala ini juga bisa kita kategorikan sebagai bangkitnya semangat ritual berislam. Fenomena yang sama ditemukan dalam rombongan ziarah yang tak pernah sepi memenuhi, khusus di Jawa misalnya, makam-makam para penyebar Islam.
Pertanyaannya, apakah kebangkitan ritual dan ekspresi keberislaman ini mendorong mereka yang ada didalamnya untuk melakukan tindakan intoleransi.
Sufisme kota, menjadi gairah baru masyarakat kelas menengah. Berbeda halnya dengan gerakan militan, kegiatan yang ada di sebuah Majelis Dzikir justru mengambil peran dalam upaya menyebarkan Islam jalan tengah. Dahaga spiritualnya terobati oleh asupan nilai-nilai Islam yang bercorak wasathiyyah atau moderat.
Karenanya, kebangkitan ekspresi keberislaman tidak serta merta bisa dianggap sebagai lantaran munculnya intoleransi. Sebaliknya, justru ada poros kebangkitan semangat keislaman itu yang bisa ditransformasi sebagai penguatan nilai-nilai toleransi. Betapapun demikian, kita tak bisa menyangkal bahwa pada performa tertentu, kehendak untuk meneguhkan eksistensinya, satu kelompok mengambil cara melemahkan atau meniadakan kelompok yang lain. Disinilah intoleransi muncul.

