“Menghidupkan” Kembali Mbah Pringis: Jawa, Islam dan Tionghoa

0
233

Oleh: Tedi Kholiludin

Sekitar tahun 2007 saya pernah berbincang agak lama dengan seorang Tionghoa Muslim. Itu saya lakukan tak lama setelah ia mengeluarkan album “Tembang Dulur Tuwa: Untaian Perjalanan Bathin Seorang Cina Jawa Islam”. Beliau kini sudah almarhum. Panggilannya Mbah Pringis. Namanya, PF Haryanto HS (So Khing Hok). Saya penasaran dengan latar belakang pembuatan album yang diedarkan terbatas itu. Ia berpraktek sebagai “pembaca garis tangan”. Tempatnya agak sulit ditemukan, yakni Gang Cilik 41.

Obrolan kami saya rekam menggunakan tape recorder. Mungkin lebih dari 2 jam lamanya. Separuh dari percakapan tersebut sempat saya unggah di website elsaonline.com. Belum sempat mentranskrip sisanya, perubahan teknologi (dari kaset ke file) ditambah kelalaian saya, membuat kaset hilang entah kemana.

Meski bukan pengamat musik, lirik yang ditulis Mbah Pringis sangatlah dalam. Ia menggambarkan tentang bagaimana harmonisnya hubungan antara Tionghoa dan Jawa yang kemudian menjadi rusak karena kedatangan Belanda. Mereka kemudian hidup dalam penuh prasangka dan bahkan saling membunuh.

Sebagai muslim, tentu posisi Mbah Pringis relatif strategis. Ia menjadi jembatan penghubung antara kebudayaan Jawa dan Tionghoa. Dalam salah satu lagunya, Dulur Tuwa, Mbah Pringis bercerita tentang sosok Cheng Ho seorang Tionghoa Muslim yang melakukan beberapa kali pelayaran ke Nusantara pada abad 15. “Sadurunge zaman londo, Sam Poo Tay Jin (Cheng Ho) soko Cina, mendarat ning tanah Jawa, dagang lan syiar agama”. Begitu petikan syair lagu Dulur Tuwa.

Selain Dulur Tuwa, menurut pengakuan Mbah Pringis, lagu yang punya pesan yang agak mendalam terkait dengan hubungan Tionghoa Jawa adalah Bedhug Cina. “Ono bedhug seko negoro Cina, nyanding kenthongan seko tanah Jawa, barengan ngawulo agama Islam kang mulya ning nuswantoro”.

Dengan lirik itu, Mbah Pringis bermaksud untuk menunjukan betapa harmonisnya hubungan orang Tionghoa dengan Jawa melalui simbol bedug. Banyak masjid menggunakan bedug sebagai alat penunjuk tibanya waktu sholat. Dan bedug itu adalah produk kebudayaan masyarakat Tionghoa.

***

Salah satu hal yang menarik dari sosok Mbah Pringis bagi saya adalah tekadnya yang kuat untuk terus mengembangkan semangat Islam yang terbuka, egaliter dan jembatan perekat antar kebudayaan. Latar belakang pembuatan album “Dulur Tuwa” salah satunya adalah karena kesadaran bahwa ia adalah seorang keturunan Tionghoa, tinggal di Jawa dan menganut ajaran Islam. Ketiganya merupakan kesatuan integral dan punya porsi masing-masing.

Karena bukanlah seorang pendakwah (dalam pengertian konvensional), maka ia memutuskan untuk menulis lirik. Suaranya mungkin tidak merdu untuk ukuarn artis profesional, tapi liriknya sangat inspiratif. Lirik yang ditulisnya, tak hanya kata tanpa makna, tapi inspirasinya kerap datang dari bacaannya ayat-ayat al-Qur’an.

Beberapa lagu ia tulis dengan lirik berbahasa Jawa. Sekali lagi, ini sebagai penegas bahwa Mbah Pringis tak hanya ingin sekadar menunjukkan keislaman dan ketionghoannya saja, tetapi juga turut serta mewarnai karyanya dengan entitas Jawa.

Penegasan tentang Islam sebagai agama pembawa damai ditegaskan melalu lirik “medun ora gowo tumbak lan pedange, tapi kupluk lan kelambi koko.” Menurutnya, ketika Cheng Ho datang ke nusantara, yang dilakukan adalah diplomasi kebudayaan, bukan dengan agresi dan kekerasan.

Satu bulan ia habiskan untuk menulis lirik dan satu bulan pula waktu yang dibutuhkannya untuk merekam seluruh karya di sebuah studio. Kepada saya Mbah Pringis secara terang-terangan menyebut Harjanto Halim sebagai sosok yang berjasa membiayai seluruh proses dari awal hingga penggandaan serta peluncurannya pada Hari Raya Imlek 2007.

***

Ketika bertemu dengan Harjanto Halim beberapa waktu lalu, saya mengusulkan pada beliau untuk menghidupkan kembali semangat Mbah Pringis. Caranya bisa bermacam-macam. Karena Harjanto Halim yang memiliki master lagunya, saya sarankan kepada beliau untuk menggandakannya kembali. CD lagu yang saya miliki pun sudah rusak sehingga tidak bisa digunakan untuk memutar kembali.
Usai digandakan, maka hal berikut yang perlu untuk dikampanyekan adalah mencari esensi dan medium yang tepat untuk mendakwahkan multikulturalisme dan interaksi yang intens diantara pelbagai kebudayaan.

Dan sekali lagi, “Tembang Dulur Tuwa” menghadirkan semangat yang terus menerus sesuai dengan konteks perkembangan zaman. Secara esensi, harmonisasi hubungan tiga elemen kebudayaan; Jawa, Tionghoa dan Islam tergambar dengan apik disertai sisipan filosofi dan simbol masing-masing kebudayaan.

Tak hanya soal esensi, medium seni (lagu, tarian dan sebagainya) juga masih relevan, setidaknya untuk konteks saat ini. Pendekatan kebudayaan dalam membangun dialog memang membutuhkan waktu sampai pada hasil. Tetapi, daya rekatnya lebih kuat ketimbang pendekatan-pendekatan yang bersifat politis.

Hemat saya, tembang Mbah Pringis merupakan salah satu produk yang relatif orisinil sebagai jembatan untuk hubungan Islam, Jawa dan Tionghoa di Semarang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here