Mudik dan Berlebaran Bersama Parkee

0
75
Hee Cheol Park (kanan) saat bersilaturahmi dengan pengasuh Pondok Pesantren Termas-Pacitan, KH. Fuad Habib Dimyathi. [Foto: Istimewa]

Oleh: Tedi Kholiludin

“Indonesia beruntung karena masih punya momen seperti lebaran dimana meminta dan memberi maaf menjadi salah satu ruhnya, selain tentunya menjadi alat perekat yang kuat. Kami, masyarakat Korea sudah mulai luntur dengan tradisi semcam itu, karena yang dikejar sekarang adalah bagaimana menjadi negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta teknologi yang menjulang. Keinginan untuk menjadi negara yang menguasai segala bidang, terutama teknologi, menimbulkan efek samping; mulai pudarnya kohesi sosial.”

Teman dari Korea Selatan, Hee Cheol Park, menyampaikan hal tersebut setelah setidaknya ia mengikuti 4 kali lebaran di Indonesia. 2007 di Makassar, 2009 di Kupang, 2015 di Brebes dan tahun 2017 bersama saya di Pacitan, Jawa Timur dan kemudian Kuningan, Jawa Barat. Dalam kurun waktu tersebut, di dua lebaran terakhir yang mungkin intens. Saat di Makassar ia tidak “berlebaran,” karena hanya untuk berlibur saja. Sementara di Kupang, mungkin dirinya tidak merasakan resonansi yang kuat. Baru di dua momen terakhir, Parkee begitu saya biasa menyapanya, merasakan sesuatu yang berbeda.

Perjalanan dari Semarang ke Brebes bersama Anwar dan Cahyono pada tahun 2015 ia tempuh dengan menggunakan sepeda motor. Ia merasakan bagaimana berlebaran di kampung halaman itu harus dilewati dengan susah payah dan bahkan bertaruh nyawa. Dan laiknya orang Islam, dia pun “mengikuti” sholat subuh serta sholat Id.

Tahun 2017, ia ikut saya bersama Meiga dan Najma. Sama halnya dengan dua tahun sebelumnya, ia pun menjalaninya seperti muslim yang berpuasa. Di hari terakhir Ramadhan, ia “berpuasa,” makan sahur, tidak makan dan minum di siang hari dan baru makan ketika adzan maghrib berkumandang. Keesokannya, mahasiswa yang menulis tesis antropologi tentang Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) itu juga ikut sholat Id. Dan saat di Kuningan, saya mengajaknya bercakap-cakap dengan teman dan saudara mengenai pengalamannya ini dan momentum serupa yang ada di Korea.

***

Menurutnya, di Korea, ada dua selebrasi mirip Idul Fitri dalam artian menggerakkan masyarakat dalam jumlah yang besar; Imlek dan Chuseok (pertengahan musim gugur, setelah panen atau seperti thanksgiving di Amerika). Sama halnya dengan tradisi mudik, mereka yang berada di kota juga pulang kampung, terutama saat Chuseok. Bertemu dengan saudara, ibadah, dan kemudian berziarah ke makam nenek moyang. Ada makan ketupatnya juga.

Ketika Imlek, saling mendoakan antar kerabat atau anak dengan orang tua bukannya tidak ada. Mereka mendoakan agar di tahun ini, semuanya diberi kesehatan, umur panjang dan rejeki yang lancar. Tapi permohonan maaf secara spesifik belum pernah dialaminya. Meski begitu, anak-anak muda disana lebih banyak menghabiskan liburan Imlek maupun Chuseok itu dengan pergi berwisata ketimbang berkumpul bersama keluarganya di kampung halaman.

Di Korea, dia menjelaskan, momen untuk saling memaafkan itu ada sesungguhnya, tapi tidak dimanfaatkan. Sekali lagi, keinginan yang kuat untuk menjadi negara yang diperhitungkan dalam bidang teknologi, membuat masyarakat disana sedikit memudar soliditasnya. Tekanan pada masing-masing individu karena pekerjaan, membuat mereka fokus untuk memberikan yang terbaik. Nah, ketika datang liburan, mereka akhirnya memilih untuk menikmatinya di tempat hiburan.

Pada malam takbiran, saya tanya kepada Parkee tentang makna terdalam Idul Fitri dari kurang lebih 9 kali perjalanannya ke Indonesia. Ia menggarisbawahi tiga poin; permaafan, rekonsiliasi dan hubungan baru yang harus lebih baik. Lanjutnya, jika kita menyadari kekeliruan di masa lalu, maka lebaran itu adalah ajang untuk mengobrol dan berkumpul. Bercerita tentang apa yang menjadi masalah dan menuntaskannya. Menurutnya, karena lebaran itu momen kebahagiaan dan tempat untuk saling memaafkan, maka menjadi sia-sia jika di kemudian hari manusia berbuat kesalahan serupa.

***

Keluhuran budi manusia, salah satunya ditunjukan oleh kesediannya mengakui bahwa ia adalah makhluk yang punya keterbatasan. Kealpaan dan kekhilafan adalah manusiawi. Tapi ia sifatnya temporer. Setelah menyadarinya, manusia harus sesegera mungkin kembali ke rel asalnya, menjalankan fungsinya primernya untuk meramaikan bumi, mencegah kerusakan dan menghindari pertumpahan darah.

Kesadaran bahwa kita memiliki batas, harus berlanjut pada level reflektif yang lebih tinggi; manusia bukanlah penentu masa depan pasca kehidupan bagi manusia lainnya. Alaisallaahu biahkamil haakimiin (Bukankah Allah adalah Hakim yang seadil-adilnya?).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here