elsaonline.com

Voice of the voiceless

Pembangunan Sekolah Tinggi Agama Khonghucu Ditolak Warga

3 min read

[Semarang –elsaonline.com] Pembangunan gedung Sekolah Tinggi Agama Khonghucu (Stakhong) pertama di Indonesia yang didirikan di Jl. Singa Utara 29 Semarang terpaksa berhenti karena ada penolakan dari warga setempat. Bukti penolakan warga dituangkan ke dalam kertas yang berisi tanda tangan penduduk sekitar bangunan dengan dibubuhi stempel dari 6 RT. Berkas penolakan dikirim ke pihak kelurahan dan Kesbangpol Kota Semarang. “Pembangunan distop, material pun tidak bisa masuk,” tutur panitia pembangunan Stakhong, Andi Gunawan, Jum’at, (12/09).

Mulanya Stakhong direncanakan dibangun di Desa Tasiksono, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, namun digagalkan karena ada penolakan dari warga setempat. Lalu dipindah ke Semarang di tanah milik ketua Yayasan Xin Rullin, Lucia Herawati.

Sebelum terjadi penolakan ini pihak Yayasan menghendaki akan mengumpulkan warga setempat untuk sosialisasi pembangunan sekolah bagi calon-calon guru Khonghucu. Namun pihak kelurahan dan RW meminta supaya sosialisasi diadakan setelah Pemilihan Umum (Pemilu).

“Belum sempat ada sosialisasi sudah ada penolakan, waktu kita hendak sosialisasi pak RW meminta nanti saja habis pemilu. Kita waktu itu sempat khawatir nanti ditumpangi apa-apa kan repot. Maret akhir saya menghubungi pak lurah dan pak RW supaya diadakan pertemuan dengan warga. Tapi pak lurah dan pak RW menjawab nanti saja habis pemilu. Tapi setelah pemilu tahu-tahu berkas penolakan sudah ada di Kesbangpol,” papar Andi.

Lebih jauh Andi menjelaskan bahwa hingga saat ini panitia pembangunan dan pihak yayasan belum mengetahui faktor yang menjadi alasan warga menolak pembangunan ini. Pasalnya, sampai saat ini permohonan pihak yayasan untuk mengadakan kumpulan dengan warga belum pernah diizinkan oleh pihak kelurahan dan RW.

Ketika pihak panitia menemui satu persatu warga sebagian ada yang setuju, dan sebagian ada yang tidak. Rata-rata yang tidak menyetujui pembangunan ini karena lokasi tanahnya yang sangat sempit jika dibangun layaknya kampus-kampus lain, padahal panitia hanya menginginkan pembangunan di tanah milik ketua yayasan ini untuk permulaan saja dan bersifat sementara, karena mahasiswanya juga tidak banyak, baru 12 orang. Jika mahasiswa sudah ribuan maka akan membangunnya di tempat lain.

Baca Juga  Pemuda Harus Perkuat Toleransi Beragama

Memang di antara warga setempat pernah ada rumor bahwa bangunan yang sedang dijalankan akan dijadikan rumah ibadah Khonghucu (Klenteng), juga ada yang mengkhawatirkan akan terjadi ajakan kepada warga supaya memeluk agama Khonghucu, tapi itu sudah dibantah oleh pihak yayasan. “Rumor awal ada yang mengatakan mau dibuat Klenteng, akan ada Khonghucuisasi. Tapi tidak, ini mau dibuat perguruan tinggi. Warga sampai bisa menolak dengan rapi pasti ada yang memprovokatori,” tambahnya.

Andi sangat berharap kepada pihak kelurahan supaya dipertemukan dengan warganya untuk bersosialisasi. Sementara ini Kesbangpol Kota Semarang yang menjadi aduan penolakan warga, menyerahkan persoalan sepenuhnya kepada pihak kelurahan, sehingga apabila kelurahan mengizinkan maka pembangunan bisa dilanjutkan. Hanya saja pihak kelurahan tidak mengabulkan dengan dalih warga menolaknya.

Sudah Mendapat Izin Operasional

Sementara itu izin operasional untuk mengadakan pendidikan Setakhong sudah didapatkan dari Kementerian Agama (Kemenag) Pusat sejak bulan Desember 2013. Dalam perizinan itu tertulis bahwa pendidikan akan dilangsungkan di Singa Utara 29.

“Desember 2013 mendapat izin dari Kementerian Agama pusat. Karena belum ada operasional jadi ini izin sementara, tapi setelah ada peninjauan lalu izin operasional keluar. Surat dari Kemenag pusat menunjukkan bahwa tempat yang akan digunakan operasional kuliah di Singa Utara 29,” papar Andi.

Karena di Singa Utara terjadi penolakan, sementara izin sudah didapatkan terpaksa perkuliahan dipindah di kampus STIE Manggala. Perkuliahan sudah berjalan belum sampai satu tahun, sekarang sedang semester 2, mahasiswanya yang aktif 12 orang,” tambahnya.

Dengan keadaan seperti ini panitia pembangunan kini punya wacana untuk tidak meneruskan pembangunan di Singa Utara 29. Pembangunan kampus Sethakhong akan dipindah ke tempat lain, sedangkan di Singa Utara 29 akan dijadikan tempat tinggal bagi mahasiswa dari luar Kota Semarang. [elsa-ol/KA-@khoirulanwar_88]

Baca Juga  Tokoh Lintas Iman Serukan Papua Tanah Damai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *