Terorisme dan Kegagalan (Tokoh) Agama?

0
29

Oleh: Siti Rofiah

Maraknya kembali aksi terorisme di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir mengundang keprihatinan yang mendalam. Kematian gembong teroris Dr. Azahari dan Noordin M. Top, nyatanya tidak menyurutkan langkah para teroris yang tersisa. Alih-alih surut, yang terjadi justru banyak “benih-benih” baru bermunculan. Yang terbaru dapat kita lihat pada kasus bom bunuh diri di Masjid Ad-Dzikra kompleks Mapolresta Cirebon pada 15 April lalu. Sang pelaku, Muhammad Syarif semula hanyalah warga biasa dengan pekerjaan sebagai desainer grafis. Perubahan pada dirinya baru muncul sekitar 2 tahun belakangan. Ini menunjukkan bahwa ia adalah “orang baru” dan aksi bom bunuh dirinya bukan atas penghayatan terhadap suatu keyakinan yang dianut sejak lama, melainkan hanya dalam tempo dan waktu tertentu. Padahal, keputusan untuk mengakhiri hidup dengan menjadi pelaku bom bunuh diri merupakan keputusan besar. Hal ini menunjukkan begitu kuatnya “input” ide yang “dimasukkan” ke dalam otak pelaku, atau yang lebih dikenal dengan sebutan brain washing.

Sejak tahun 2002, pasca kejadian Bom Bali yang menewaskan ratusan orang, banyak tokoh telah bicara, banyak analisis telah diungkapkan, banyak tindakan yang sudah dilakukan. Walau begitu, tindakan teror tetap saja berlanjut. Atas hal ini patut kiranya jika tokoh agama merasa malu. Mereka telah gagal mengejawantahkan agama sebagai tuntunan moral dan pemahaman budi pekerti luhur kepada umatnya. Ironisnya, aksi teror marak dilakukan disaat agama-agama mengalami apa yang disebut dengan masa kebangkitan kembali dan kesemarakan. Pendidikan agama sejak puluhan tahun diberikan di sekolah-sekolah sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Radio dan televisi setiap pagi memprogramkan kuliah subuh. Khotbah-khotbah keagamaan diberikan di berbagai kesempatan oleh berbagai kalangan. Perayaan hari-hari besar keagamaan diberikan di berbagai kesempatan oleh berbagai kegiatan yang menyita biaya yang tidak sedikit jumlahnya. Rumah-rumah ibadah bermunculan dalam wujud yang tidak jarang mengesankan bukan hanya indah tapi juga mewah. Tapi mengapa muncul tindak kekerasan berupa peledakan bom yang sampai saat ini masih terus berlanjut.

Bagaimana mungkin agama-agama yang mengajarkan nilai kemanusiaan dan peradaban melahirkan para pemeluknya yang seolah-olah sudah tidak lagi mengenal nilai-nilai kemanusiaan. Tentu saja semua pemuka agama sepakat bahwa tindak terorisme tidak sesuai dengan ajaran agama apapun. Harus dibedakan antara ajaran-ajaran agama yang luhur dengan perilaku penganut-penganutnya yang bengis. Tapi pertanyaannya, kenapa mengapa hal-hal tersebut justru terjadi ketika agama-agama mengalami masa kebangkitan?

Salah satu analisis menyatakan bahwa sebagian keinginan teroris adalah pendirian negara Islam. Menurut Guntur Romli (2010), dalam konteks Indonesia, organisasi seperti Darul Islam dan Negara Islam Indonesia (NII) dianggap telah mewariskan keturunan ideologis dan biologis terhadap pelaku-pelaku teror saat ini. Secara formal, DI/NII memang sudah tidak ada. Tetapi, para pelaku teror di Indonesia dari tahun 2000 tidak bisa dilepaskan dari lingkaran organisasi yang pernah dipandegani SM. Kartosoewirjo. Sebut saja Fathurrahman Ghozi dan saudaranya Jabir alias Gempur adalah putra dari M. Zainuri, tokoh komando jihad asal Jawa Timur yang ditangkap pada zaman Ali Moertopo. Lalu nama Abu Dujana alias Ainul Bahri adalah murid dari Dadang Hafidz salah satu tokoh Darul Islam. Demikian juga Abdullah Sungkar tak bisa lepas dari lingkaran DI/NII. Lingkaran yang dimaksud adalah jaringan para tokah mantan dan keluarga besar DI/NII. Ide dan tujuan dari organisasi ini adalah ingin mendirikan negara Islam di Indonesia.

Selain dalam bentuk teror, keinginan mendirikan negara Islam sebenarnya sudah “dicicil” dengan menempuh berbagai upaya seperti penerapan Perda Syari’at Islam (SI). Di beberapa daerah seperti Aceh, Bulukumba, Tasikmalaya, Tangerang, dan beberapa daerah lainnya sudah menerapkanya. Dalam tataran realita, implementasi perda-perda tersebut banyak mengalami masalah dan hambatan karena tidak sinkron dengan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat setempat (The Wahid Institute, 2008).

Para penganjur dan pendukung formalisme agama seharusnya mengetahui ramalan Nabi Muhammad dalam sabdanya:

“Aku khawatir akan datang suatu masa kepada kalian ketika nama, al-Qur’an tinggal aksara, masjid-masjid penuh sesak namun kosong dari hidayah. Ulama-ulama mereka adalah seburuk-buruk manusia di bawah kolong langit ini, dari mereka berasal fitnah kepada mereka fitnah itu kembali”.

Pesan yang dapat kita ambil dalam hadist ini adalah bahwa bahaya akan mengancam umat beragama apabila mereka terjebak pada formalisme dan simbolisme, dan melupakan substansi. Karena sesungguhnya agama adalah wasilah (jalan), dan tujuan (ghayah) satu-satunya adalah Tuhan. Oleh karena itu jangan sampai salah menempatkan jalan menjadi tujuan.

Ketika alasan para teroris melakukan tindakan pengemboman adalah membasmi orang-orang kafir yang dianggap “halal darahnya”, mendambakan syahid di jalan-Nya dan kelak bertemu bidadari di surga, maka apa yang mereka lakukan sebenarnya adalah sia-sia. Mungkin para teroris itu belum paham apa yang sebenarnya “diinginkan Tuhan”, bahwa sebenarnya Tuhan sudah memberikan banyak petunjuk, salah satunya melalui hadist Nabi Muhammad, bahwa di hari pembalasan Tuhan berkata:

“Hai anak cucu adam, Aku lapar tapi mengapa kalian tidak memberi-Ku makan? Aku haus tapi mengapa kalian tidak memberi-Ku minuman? Aku sakit tapi mengapa kalian tidak menengok-Ku?” Lalu anak cucu Adam itu menjawab: “Mana mungkin Engkau lapar, haus dan sakit Tuhan?” Tuhan menjawab: “Dulu ada saudara-saudara kalian yang menderita kelaparan, kehausan dan sakit. Kalaulah saja kalian datang kepada mereka memberi makanan, minuman atau menengok yang sakit, kalian akan menemukan Aku bersama mereka”.

Dari hadist tersebut dapat kita pahami pula bahwa Tuhan sangat dekat, dan dengan sangat mudah pula kita mendekati-Nya. Cukup dengan berlaku baik terhadap sesama, dan itulah jalan kita menuju kepada-Nya. Hablun minallah, hablun minannaas.

Salah satu pemegang peran dalam usaha ini adalah tokoh agama, dimana dengan otoritasnya ia harus mampu memberikan pemahaman keagamaan yang menekankan pada pentingnya penghargaan terhadap sesama, sekalipun ia berbeda. Bahwa dalam kehidupan beragama tokoh agama juga harus mulai menyerukan pentingnya dimensi kesalehan sosial, tidak semata-mata terjebak dalam kesemarakan ritual formal sebagai bentuk kesalehan individual.

Upaya ini harus dilaksanakan bersama-sama secara serius mulai dari tokoh agama top level hingga tokoh agama dalam tataran grass root sehingga kita tidak perlu lagi mengkhawatirkan adanya orang-orang yang tiba-tiba hilang, menjadi korban brain washing dan berakhir pada bom bunuh diri. Langkah tersebut tentunya harus didahului dengan “kemauan” para tokoh agama untuk memahami gejala-gejala sosial terkait terorisme, dengan langkah yang lebih konkrit sehingga peledakan bom tidak berlanjut lagi.

Wallau a’lam bish showab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here