elsaonline.com

Voice of the voiceless

Dari Integrasi, Marginalisasi hingga Transmutasi: Membaca Strategi-strategi Akulturasi (Bagian Kedua)

3 min read

Sumber Foto: http://mindsmattermagazine.com/

Oleh: Tedi Kholiludin

Richard Mendoza dalam Acculturation and Sociocultural Variability (1984) menawarkan empat strategi akulturasi yang tiga diantaranya berkesesuaian dengan modelnya John W. Berry. Model ini sendiri mulanya dikenalkan oleh Mendoza dan

Pertama adalah cultural resistance, yang bisa dipahami sebagai perlawanan aktif atau pasif tradisi baru sembari mempertahankan budaya aslinya. Dalam apa yang ditawarkan oleh Berry, model “perlawanan kultural” ini sebangun dengan model separasi, atau pemisahan.

Kedua, cultural shift, yang berarti, penggantian atau perubahan budaya lama oleh tradisi baru. Pergeseran kultural dalam konteks yang dikenalkan oleh Mendoza sebangun dengan apa yang oleh Berry disebut sebagai asimilasi.

Ketiga, cultural incorporation, yang diartikan sebagai upaya penyesuaian kebiasaan baik dari kebiasaan asli maupun budaya alternatif. Strategi akulturasi dengan tipe integrasi (pada apa yang dikenalkan oleh Berry) bisa dimaknai secara parallel dalam konteks ini.

Dari tiga model akulturasi yang memiliki pola sama, Mendoza menawarkan strategi akulturasi keempat, cultural transmutation atau transmutasi kultural. Dalam pengertiannya yang sederhana strategi ini merupakan perubahan dari praktik budaya asli dan budaya alternatif untuk menciptakan entitas subkultur yang unik. Transmutasi kultural adalah “budaya ketiga” sebagai jalan tengah yang diambil oleh sebuah kelompok atau individu untuk tidak serta merta menerima budaya baru apa adanya dan mempertahankan secara luar dalam budaya lama.

Mendoza (dan Martinez) mengajukan premis kalau akulturasi bersifat multidimensional. Fenomena ini tidak bisa dilihat dari satu sudut pandang saja melainkan harus dipahami sebagai sesuatu yang memiliki variabel korelatif.

Premis lain tentang akulturasi bahwa banyak dari individu yang menjalani proses ini sebagai fenomena multiwajah. Seseorang mempertahankan budaya asli dalam hal yang berkaitan dengan menjaga relasi dan ikatan keluarga (cultural resistance). Disaat yang sama, ketika berkaitan dengan preferensi musik atau mode busana, ia melakukan pergeseran budaya (cultural shift) dan berupaya melakukan integrasi atau inkorporasi kultural dalam hal pola makan atau perayaan hari-hari besar serta berbahasa dengan dialek khusus yang berbeda dengan bahasa asli ataupun Bahasa baru (transmutasi budaya).

Baca Juga  Merayakan Keberagaman

***

Transmutasi budaya terjadi ketika seseorang atau kelompok masyarakat mengidentifikasi dirinya dengan budaya ketiga yang berbeda dengan budaya asal atau budaya pendatang; atau juga bisa dikenali sebagai strategi akulturasi dimana identitas mikrokultur tersebut berbeda dengan cultural native groups maupun host cultural groups.

Meski dalam beberapa hal pola ini mirip dengan separasi, tetapi penciptaan identitas kebudayaan baru menjadi pembedanya. Transmutasi juga tidak mengandaikan adanya peleburan dua budaya, namun ia menjadi langkah yang diambil bagi mereka yang masih berkeinginan menjaga yang lama sembari mengadopsi yang baru.

Tentang fenomena transmutasi kultural ini, Neuliep (2009) mencontohkan dua fenomena. Pertama, kelompok gay dan lesbian, dimana individu meninggalkan budaya awal lalu berimigrasi pada konteks homoseksual. Hanya saja contoh Neuliep ini agak membingungkan, karena pola yang terjadi dalam apa yang ia sebutkan, hemat saya, lebih mengarah pada cultural shift ketimbang cultural transmutation.

Kedua, kelompok agama baru yang muncul setelah melakukan merger nilai, kepercayan serta prilaku dari berbagai agama. Hal ini mirip pada apa yang dalam studi agama-agama disebut sebagai sinkretisme, meski tentu saja harus agak hati-hati dalam pemberian eksplanasinya.

Proses marginalisasi (seperti gambarannya Berry) kerap menjadi pembuka bagi hadirnya third culture ini. Ketika sebuah kelompok tidak lagi bisa mengintegrasikan diri dengan budaya lama dan tidak terhubung dengan budaya baru, maka membentuk budaya ketiga menjadi pilihan.

Meski begitu, adakalanya pembentukan budaya baru itu merupakan sebuah proses sadar (bukan terjadi karena marginalisasi) dimana sebuah masyarakat ada dalam konteks dimana negosiasi antara yang baru dan yang lama itu mesti dilakukan. Jika merujuk pada contoh yang diberikan Neuliep tentang kelompok agama baru, maka salah satu contoh yang bisa kita kenali dari model ini adalah fenomena New Age, atau gerakan zaman baru. Model Gerakan spiritualitas pertengahan abad 20 ini berupaya untuk menggabungkan spiritualitas Timur, Barat serta tradisi metafisika yang melampaui batasan doktrin dan dogma.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *