UKSW Gelar Pentas Budaya Internasional

1.	Maskot Kalimantan: Sepasang Maskot Kalimantan lengkap mengenakan pakaian adat menaiki becak dalam Pentas Seni Budaya Indonesia Interbasional (PSBII), Sabtu (18/4/15). [Foto: Ceprudin]
1. Maskot Kalimantan: Sepasang Maskot Kalimantan lengkap mengenakan pakaian adat menaiki becak dalam Pentas Seni Budaya Indonesia Interbasional (PSBII), Sabtu (18/4/15). [Foto: Ceprudin]
[Salatiga –elsaonline.com] Senat Mahasiswa Universitas Kristen Satwa Wacana (UKSW) Salatiga menggelar Pentas Seni Budaya Indonesia Internasional (PSBII), Sabtu (18/4/15). Pentas budaya ini digelar sebagai bukti bahwa kampus UKSW kaya akan budaya. Sehingga layak disebut sebagai kampus miniatur Indonesia.

Seorang mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Mahasiswa dan Siswa Timor di Salatiga (Ikmasdi), Kristian Doko mengatakan, acara pentas budaya internasional itu merupakan acara rutin tahunan. Pentas budaya itu disebut bertarap internasional karena diikuti oleh beberapa Negara perwakilan Asia dan Eropa.

“Setiap tahun, biasanya diikuti oleh negara-negara lain, seperti Kanada, Brazil, Meksiko dan Timor Leste. Mereka masing-masing menampilkan budaya-budaya setempat lengkap dengan kostum, musik, seni tarian dan lainya,” kata Mahasiswa MIH UKSW ini disela pawai digelar.

Seperti pantauan elsaonline.com, pagi itu halaman kampus UKSW tampak ramai. Tenta-tenda di lapangan hampir memenuhi lapangan. Tenda-tenda itu ditempati masakan-masakan kuliner khas daerah-daerah se-Indonesia dan juga dari beberapa Negara lain. Mulai pagi hari, mahasiswa sudah tampak sibuk mengenakan perlengkapan adat.

2.	Arak Mayat: Salah satu tradisi di Toraja adalah ritual arak mayat sebelum dimakamkan berupa peti mati dengan disertai tanduk kerbau dipentaskan pada Pentas Seni Budaya Indonesia Interbasional (PSBII), Sabtu (18/4/15). [Foto: Ceprudin].
2. Arak Mayat: Salah satu tradisi di Toraja adalah ritual arak mayat sebelum dimakamkan berupa peti mati dengan disertai tanduk kerbau dipentaskan pada Pentas Seni Budaya Indonesia Interbasional (PSBII), Sabtu (18/4/15). [Foto: Ceprudin].
Pakaian Adat
Bagi yang menampilkan seni musik tradisional, mereka tampak sibuk mondar-mondar mengangkuti peralatan musik itu. Diantara mereka yang berpakaian tradisional ada yang merias dengan pernak-pernik di wajah supaya persis seperti pakaian adat yang ada di daerahnya.

“Teman-teman semua menampilkan tarian adat, rumah adat, kuliner khas setiap daerah, musik asli daerah. Ini salah satunya Tradisi di Toraja berpa ritual arak mayat sebelum dimakamkan berupa peti mati dengan disertai tanduk kerbau. Tujuanya supaya masyarakat Salatiga dan sekitarnya tahu budaya bangsa Indonesia yang beragam,” bebernya.

Pentas budaya itu salah satunya dengan long march dengan rute start dari kampus UKSW, Balaikota Salatiga, lalu kembali ke kampus. Untuk para maskot daerah, mereka menggunakan becak diiringi oleh rombongan.

Baca Juga  Kebangkitan Ekspresi Keberislaman dan Problem Intoleransi

Mahasiswa mahasiswa asal Talaut, Korsinus Ginto menambahkan, beberapa peserta yang ikut diantaranya, pakaian adat Lampung, Minahasa, Batak Toba, Maluku, Kemamora, Maluku Utara, Sumba lengkap dengan mengenakan kuda. “Pakaian adat khas Nias juga ada, diikuti juga oleh grup Drumblek Pasopati Salatiga,” pungkasnya. [elsa-ol/Ceprudin-@Ceprudin/001]

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Hukum Lingkungan Internasional

Angin tidak punya KTP, sehingga kalau pencemaran udara terjadi...

Onderdistrict Tjilimoes

Buku ini berangkat dari pertanyaan sederhana, bagaimana perubahan yang...

Yaumul Quds: Politik Simbol dan Emosi Kolektif dalam Solidaritas Palestina

Oleh: Tedi Kholiludin Jarum jam belum genap menunjuk pukul 14.00...

EN (?): Konsep Ikatan Tak Terlihat dalam Budaya Jepang

Oleh : Iwan Madari (Pemerhati Kebudayaan Jepang) elsaonline.com Dalam hidup,...

Malam di Darut Taqrib: Duka, Solidaritas dan Harapan Dialog

Kami duduk bersama di bagian depan luar sebuah...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini