elsaonline.com

Voice of the voiceless

Abu Hapsin: Tak Ada Dikotomi Antara Islam Arab dan Islam Jawa

2 min read

Halaqah Ulama Moderasi beragama Se-Jawa Tengah bertema “Meneguhkan Spirit Moderasi Walisongo” di Ruang Teatrikal Gedung Rektorat Lantai 4 Kampus 3 UIN Walisongo, Kamis (08/04/2021). Kredit: Alaik Ridhallah

Semarang, elsaonline.com– KH. Abu Hapsin mengatakan tak ada dikotomi Islam Arab dan Islam Jawa. Pasalnya, Islam yang berasimilasi dengan budaya lokal dalam Halaqah Ulama Moderasi beragama Se-Jawa Tengah bertema “Meneguhkan Spirit Moderasi Walisongo” di Ruang Teatrikal Gedung Rektorat Lantai 4 Kampus 3 UIN Walisongo, Kamis (08/04/2021).

“Karena Islam itu sendiri hasil asimilasi firman Allah yang abadi dengan budaya Arab,” sambungnya.
Dosen Fakultas Syariah dan Hukum mengungkapkan, pengalamn mengajar mata kuliah tarikh tasyri’ selalu menekankan tiga hal yang dilakukan oleh nabi dalam ijtihadnya.

“Satu, menerima secara total. Kedua, menolak secara total, ini yang paling sedikit dilakukan olehnya. Ketiga, diterima tapi dengan modifikasi, ini yang banyak,” terangnya.

Bagi pria asal Kuningan menjelaskan budaya yang diterima oleh Nabi menjadi bagian dari Islam lalu dimodifikasi. Bahkan seperti tawaf dan sebagainya.

“Yang namanya salat mengangkat tangan sebenarnya kan sudah ada pada tradisi masa pra Islam,” jelasnya.
Ia menyayangkan kesalahpahaman penterjemahan Islam sebagai sesuatu yang baru dan datang sebagai titik baru dalam sejarah manusia. Terdapat ada tradisi yang diteruskan oleh Nabi, ada tradisi yang ditolak oleh Rasul juga tradisi yang diterima tapi dimodifikasi.

“Seandainya nabi itu hidup di Jawa, mungkin ada tradisi Jawa sampai sekarang akan meluas dan mendunia. Karena saat Islam datang di Jawa akan berasimilasi dahulu dengan budaya Jawa sebelum menyebar ke seluruh dunia,” tuturnya.
Baginya, Nabi itu dari Arab, maka bertransformasi dahulu menjadi budaya Arab. Lalu diterima oleh seluruh masyarakat dunia. Faktor inilah yang menjadi gambaran Islam berasimilasi dengan budaya lokal.
“Islam bukan sebuah agama yang konsep monolitik. Islam itu banyak ragamnya. Ketika NU memunculkan apa yang disebut dengan Islam Nusantara, saya rasa itu sangat wajar,” tambahnya.

Baca Juga  Demokrasi Harus “Diagamakan”

Islam Jawa vs Islam Hitam Putih?

Menjadi protagonis Islam Jawa memiliki kesulitan ketimbang Islam yang “Hitam Putih”. Pokok pemikiran pemurnian berdasarkan Qur’an dan Hadis tanpa mempertimbangkan sumber-sumber lain.

“Kalau kita menjadi protagonis untuk Islam Jawa, itu lebih sulit karena untuk menjelaskan pada masyarakat. Kalau kata masyarakat dulu itu, wis to kata kiaine adat mitoni itu boleh, sedekah bumi boleh. Masyarakat itu dengan mudah menerima,” tutur pak Abu.

Seiring berkembang zaman, sikap kritis tanpa dibarengi pengetahuan yang luas dapat menimbulkan kedangkalan pengetahuan. Islam yang beragama dipahami seragam.

“Misalnya terdapat perintah di dalam al Quran meminta manusia untuk makan telo (ketela, red). Pikiran tekstual akan akan makan telo mentah-mentah. Tapi kalau tidak berfikir tekstual, ada perintah itu. Telonya lalu diolah jadi getuk dulu atau olahan lainnya,” ungkapnya.

Orang belajar Islam yang sudah disebarkan oleh ulama lalu dituangkan pula dalam kitab kuning. Ibaratnya orang makan telo yang sudah dirubah menjadi getuk. Lebih mudah memakan telo langsung, karena disuruh kita makan telo.

Salah satu acara Dies Natalis ke 51 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang ini dihadiri 75 peserta dengan komposisi para santri dan pengasuh dari 25 pondok pesantren se Jawa Tengah. (Reporter: Alaik Ridhallah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *