elsaonline.com

Voice of the voiceless

Apa Kewajiban Pemuda Sedulur Sikep?

2 min read

Warga Sedulur Sikep Kudus sedang mengikuti pelatihan mengenai hak warga negara. [Foto: Salam]

[Kudus –elsaonline.com] Sebagai generasi penerus, pemuda Sedulur Sikep dituntut tidak hanya untuk mengerti ajaran, tapi juga terus menghidupkan dan menghidupi ajaran tersebut. Tak hanya itu, pemuda Sedulur Sikep juga dituntut untuk terus menyambung tali kekerabatan dengan sesama manusia, khususnya penganut Agama Adam dimanapun berada.

Prinsip tentang menjaga kekerabatan dan persaudaraan ini, menurut Budi Santoso, salah satu sesepuh Sedulur Sikep Kudus, diformulasikan dalam tiga prinsip. “Yang pertama adalah blandar dawakna,” kata Budi dalam sebuah pertemuan rutin pemuda Sedulur Sikep beberapa waktu lalu. Artinya, panjangkanlah blandar. Dalam seni arsitektur rumah tradisional Jawa, blandar ini semacam balok kayu yang memiliki fungsi penting untuk penyambung bagian atap sekaligus pembentuk konstruksi rumah.

Prinsip ini, menurut Budi, mengandung pesan bahwa setiap anak muda memiliki kewajiban untuk memperpanjang blandar-blandar tersebut. “Karena kalau pendek itu namanya bukan blandar, tapi kayu,” lanjut Budi. Jika blandar itu semakin panjang, maka rumahnya juga semakin besar.

Hal kedua yang harus dipegang erat adalah prinsip nyambung watang putungatau menyambungkan batang yang putus. “Maksudnya, apa yang jadi ajaran leluhur itu ada karena ada yang melanjutkan. Nah, kalian-kalian ini anak muda yang seharusnya menyambungkan ajaran ini kemana-mana,” tambah ayah tiga putri ini.

Yang terakhir adalah prinsip dempul perahu sing bocor atau menambal perahu yang bocor. Hampir sama dengan prinsip kedua, prinsip ini juga menyatakan tentang keharusan saling menambal, mengisi atau menutupi pengajaran yang kurang sempurna. “Prinsip ini terutama harus dipegangi anak muda, ketika mengaku sebagai bagian dari warga Sedulur Sikep,” pesan Budi.

Dengan berpegang pada prinsip ini, Budi mengingatkan, bukan berarti bahwa ajaran Sedulur Sikep lebih baik dari ajaran agama yang lainnya. Baginya, semua agama itu pasti mengajarkan tentang kebaikan. Hanya saja, bagi dirinya dan keluarganya, Agama Adam menjadi pegangan untuk menjalani kehidupan. [elsa-ol/TKh-@tedikholiludin/001]

Baca Juga  FKUB dan Walubi Jateng Sepakat Junjung Toleransi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *