Apa Kewajiban Pemuda Sedulur Sikep?

[Kudus –elsaonline.com] Sebagai generasi penerus, pemuda Sedulur Sikep dituntut tidak hanya untuk mengerti ajaran, tapi juga terus menghidupkan dan menghidupi ajaran tersebut. Tak hanya itu, pemuda Sedulur Sikep juga dituntut untuk terus menyambung tali kekerabatan dengan sesama manusia, khususnya penganut Agama Adam dimanapun berada.

Prinsip tentang menjaga kekerabatan dan persaudaraan ini, menurut Budi Santoso, salah satu sesepuh Sedulur Sikep Kudus, diformulasikan dalam tiga prinsip. “Yang pertama adalah blandar dawakna,” kata Budi dalam sebuah pertemuan rutin pemuda Sedulur Sikep beberapa waktu lalu. Artinya, panjangkanlah blandar. Dalam seni arsitektur rumah tradisional Jawa, blandar ini semacam balok kayu yang memiliki fungsi penting untuk penyambung bagian atap sekaligus pembentuk konstruksi rumah.

Prinsip ini, menurut Budi, mengandung pesan bahwa setiap anak muda memiliki kewajiban untuk memperpanjang blandar-blandar tersebut. “Karena kalau pendek itu namanya bukan blandar, tapi kayu,” lanjut Budi. Jika blandar itu semakin panjang, maka rumahnya juga semakin besar.

Hal kedua yang harus dipegang erat adalah prinsip nyambung watang putungatau menyambungkan batang yang putus. “Maksudnya, apa yang jadi ajaran leluhur itu ada karena ada yang melanjutkan. Nah, kalian-kalian ini anak muda yang seharusnya menyambungkan ajaran ini kemana-mana,” tambah ayah tiga putri ini.

Yang terakhir adalah prinsip dempul perahu sing bocor atau menambal perahu yang bocor. Hampir sama dengan prinsip kedua, prinsip ini juga menyatakan tentang keharusan saling menambal, mengisi atau menutupi pengajaran yang kurang sempurna. “Prinsip ini terutama harus dipegangi anak muda, ketika mengaku sebagai bagian dari warga Sedulur Sikep,” pesan Budi.

Dengan berpegang pada prinsip ini, Budi mengingatkan, bukan berarti bahwa ajaran Sedulur Sikep lebih baik dari ajaran agama yang lainnya. Baginya, semua agama itu pasti mengajarkan tentang kebaikan. Hanya saja, bagi dirinya dan keluarganya, Agama Adam menjadi pegangan untuk menjalani kehidupan. [elsa-ol/TKh-@tedikholiludin/001]

Baca Juga  Haruskah Negara Mengakui Agama?
spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Sosiologi Agama Metamodern

Oleh: Tedi Kholiludin Bagaimana arah studi (sosiologi) agama dalam kerangka...

Masa Depan Teori Setelah Kritik: Tentang Ontologi Sosial Proses

Oleh: Tedi Kholiludin Saya sedang membaca buku yang terbit tahun...

Hadir Tanpa Menetap: Tentang Absence

Belakangan ini saya sedang tertarik menelaah gagasan filsuf asal...

Dari Administrasi hingga Transformasi Organisasi

Memasuki dasawarsa kedua sejak kelahirannya, Yayasan Pemberdayaan Komunitas (YPK)...

GPIB DAN RELASI GEREJA-NEGARA DI INDONESIA

Kajian mengenai relasi gereja dan negara merupakan tema yang...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini