Bermaksud Meminta Surat Kehilangan, Ngatirah Ditanya Agama

Warga Sedulur Sikep sedang mendengarkan cerita pengalaman dari sesama anggotanya. [Foto: Salam]
Warga Sedulur Sikep sedang mendengarkan cerita pengalaman dari sesama anggotanya. [Foto: Salam]
[Kudus –elsaonline.com] Ngatirah tak pernah melupakan beberapa tahun lalu itu. Sungguh menyakitkan. Ia kehilangan dompet. Tapi, bukan soal dompet hilang yang membuatnya sulit melupakan peristiwa tersebut.

Begini kisah Ngatirah. Merasa perlu untuk membuat kehilangan, ibu warga Sedulur Sikep Karangrowo Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus itu mendatangi kantor kepolisian setempat. Setibanya di kantor kepolisian, Ngatirah menyampaikan maksudnya, membuat surat kehilangan dompetnya. Sang petugas kemudian meminta kartu identitas Ngatirah. “Lho kok kamu kok KTPnya gak ada agamanya,” tanya petugas seperti ditirukan Ngatirah. Ia kemudian menjawab singkat, “Agama saya, Agama Adam pak.” “Agama Adam iku agama opo?” petugas kembali menyergah Ngatirah.

Ngatirah berhenti sejenak. Ia tak langsung menjawab. Terlalu panjang kalau ia menjelaskan tentang Agama Adam dan ajaran-ajarannya. “Ya saya agamanya memang Agama Adam. Dari dulu saya menganut ajaran ini. Sekarang saya kesini mau buat surat kehilangan, karena kemarin dompet saya hilang. Bisa atau tidak? ” tanya Ngatirah. “Agomo kok ngono, iku agomo opo (agama kok begitu, itu agama apa)?,” ucap petugas menggerutu.

Pengalaman tidak mengenakan itu ia curahkan dalam sebuah diskusi kecil bersama 26 Sedulur Sikep di Kudus, Minggu (12/4). Tak hanya soal perlakuan yang kurang ramah di kepolisian, Ngatirah juga kerap kesulitan dalam mengurus akta kelahiran. “Saya pernah mau bikin akta kelahiran tapi tidak boleh karena tidak ada surat nikah,” imbuh Ngatirah.

Pengalaman serupa juga menimpa perempuan Sikep lainnya, Masinah. “Kalau boleh meminta kepada pemerintah, sebenarnya saya ingin ditulis Agama Adam di KTP, bukan strip. Lalu saat membuat kartu keluarga dan akta kelahiran, BINnya itu bapak, bukan bin ibu,” terang Masinah. Tentang hal ini, lanjut Masinah, pernah ia sampaikan kepada pihak terkait, tapi tidak ada tanggapan. “Jadi sekarang, tetap ditulis BIN ibu,” keluhnya.

Baca Juga  HPK Jepara “Urun Rembug” Kasus Dermolo

Meski begitu, secara umum kehidupan sosial warga Sedulur Sikep sekarang relatif lebih baik. Penerimaan dari lingkungan terdekatnya, relatif lebih maju. Masalah yang dialami warga Sedulur Sikep lebih banyak pada persoalan yang bersifat sistemik, yakni peraturan-peraturan yang hulunya ada pemerintahan pusat. [elsa-ol/TKh-@tedikholiludin/001]

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Sosiologi Agama Metamodern

Oleh: Tedi Kholiludin Bagaimana arah studi (sosiologi) agama dalam kerangka...

Masa Depan Teori Setelah Kritik: Tentang Ontologi Sosial Proses

Oleh: Tedi Kholiludin Saya sedang membaca buku yang terbit tahun...

Hadir Tanpa Menetap: Tentang Absence

Belakangan ini saya sedang tertarik menelaah gagasan filsuf asal...

Dari Administrasi hingga Transformasi Organisasi

Memasuki dasawarsa kedua sejak kelahirannya, Yayasan Pemberdayaan Komunitas (YPK)...

GPIB DAN RELASI GEREJA-NEGARA DI INDONESIA

Kajian mengenai relasi gereja dan negara merupakan tema yang...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini