Belakangan ini saya sedang tertarik menelaah gagasan filsuf asal Korea Selatan, Byung-Chul Han, melalui bukunya Absence: On the Culture and Philosophy of the Far East. Buku yang terbit pada 2023 ini merupakan terjemahan dari karya aslinya dalam bahasa Jerman, Abwesen: Zur Kultur und Philosophie des fernen Ostens (terbit 2007).
Ketertarikan saya berangkat dari satu hal yang tampaknya sederhana: bagaimana memahami sesuatu yang justru hadir melalui ketiadaannya. Absence, dalam pengertian yang sederhana, barangkali mudah kita pahami sebagai ketidakhadiran. Tetapi setelah membaca Han, terutama pada bagian pertama (essencing and absencing), saya mendapatkan makna baru tentang ketiadaan yang tak selalu berarti kekosongan. Ada sesuatu yang tetap bekerja pada sesuatu yang tidak menetap, tidak menggenggam, dan tidak selalu ingin menjadi tetap.
Dari sanalah saya kemudian mencoba memahami apa yang dimaksud Han dengan absence, atau lebih tepatnya absencing, dan bagaimana gagasan itu berhubungan dengan cara kita memandang diri, dunia, kehadiran, dan sesuatu yang sementara.
Han memulai pembahasan dengan mengantarkan secara etimologis makna dari esensi (essence) yang aslinya dalam Bahasa Jerman adalah “Wesen” atau dalam Bahasa Jerman Kuno “wesan” [esensi]. Menariknya, pengertian “wesen” itu adalah “berlama-lama di satu tempat”, “tinggal”, “urusan rumah tangga”, “kediaman”, dan “durasi”. Han menambahkan, Vesta, dewi Romawi tentang perapian, rumah, dan keluarga, memiliki akar etimologis yang sama.
Esensi, dengan begitu, mengacu pada rumah dan urusan rumah tangga, kepemilikan serta properti, sesuatu yang bertahan dan kokoh. “Essence is abode” kata Han yang berarti esensi itu rumah tinggal. Kata Yunani “ousia”, yang digunakan Aristoteles untuk “esensi”, seperti dikutip Han, pada mulanya juga berarti properti, harta kekayaan [Anwesen], dan kepemilikan tanah.
Di sini, esensi berarti substansi. Ia bertahan dalam keberadaannya, sesuatu yang tidak berubah. Ia menahan perubahan dengan tetap menjadi dirinya sendiri dan membedakan dirinya dengan yang lain. Konsepsi mengenai “esensi”, yang menyatukan identitas, durasi, dan keterarahan ke dalam diri; kediaman, menetap, dan memiliki, mendominasi metafisika Barat.
Dalam pengertian seperti itulah, Han memberikan kritik; sebuah kebudayaan atau cara berpikir yang menjadikan esensi sebagai acuannya, pada akhirnya akan mengembangkan keteguhan untuk menjadi dirinya sendiri, yang kemudian menemukan ekspresinya dalam hasrat akan kekuasaan dan kepemilikan.
Han melihat ada hal menarik dari Kebudayaan Timur, yakni soal absensi itu. Pengaruh Buddhisme dalam Kebudayaan Tiongkok membuat lahirnya kepekaan akan kesementaraan dan kefanaan keberadaan (transience and fleetingness of bein). Buddhisme adalah agama tentang ketiadaan (absence), tentang memudar dan terhembus pergi, sebuah agama mengenai “tidak berdiam di mana pun” (dwelling nowhere).
Han coba membandingkan pemikiran Timur dengan gagasan Filusuf Posmodernis seperti Jacques Derrida dan Gilles Deleuze. Keduanya melalui konsep différance dan rhizome juga mempertanyakan identitas yang tertutup dan substansi yang tetap. Tetapi, kata Han, gagasan Derrida dan Deleuze mengenai pembongkaran identitas cenderung menghasilkan dispersal; pemecahan, pembubaran dan penyebaran. Sementara, absencing, dalam pemikiran Timur Jauh memiliki efek mengumpulkan atau menghimpun (collecting or gathering effect).
Absensi tidak kemudian menjadikan semuanya hancur tercerai berai. Kekosongan justru membuka kemungkinan untuk berkumpul tanpa harus dilebur menjadi satu identitas yang tetap. Pemikiran Timur Jauh karenanya tidak berhenti pada dekonstruksi tetapi juga bergerak menuju rekonstruksi.
Metafora tentang pengembara (wanderer) mungkin bisa menggambarkan konsep absencing. Pengembara tidak meninggalkan jejak karena ia bergerak bersama gerak segala sesuatu. Seorang pengembara yang terus berjalan berarti ia tidak pernah menetap. Ia mengikuti perubahan, tidak menggenggam dan dengan begitu, tidak meninggalkan jejak. Orang yang tak meninggalkan jejak bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Ia tak memaksakan dirinya untuk meninggalkan sesuatu yang permanen di atas dunia.
Kata Han, the wanderer leaves no trace because he dwells without lingering. Pengembara, tidak meninggalkan jejak karena ia tinggal tanpa menetap. Di sini, seperti ada paradoks yang sangat manis ditunjukkan dalam Filsafat Timur; tinggal, tetapi tidak menetap; hadir, tetapi tidak menggenggam kehadiran; berada di suatu tempat, tetapi tidak mengklaim tempat itu sebagai miliknya. Mereka melakukan gerak berbarengan dengan perubahan. Itulah absensi. [Tedi Kholiludin]

