PELITA Semarang: Merawat Keyakinan, Menjaga Kemanusiaan

Siang di Jalan Mataram No. 653, Wonodri, Semarang Selatan, tidak selalu ramai. Percakapan tentang, iman, lingkungan, pendidikan, politik, hingga perempuan. Pelita Persaudaraan Lintas Agama (PELITA) Semarang tidak memperlakukan perbedaan keyakinan sebagai persoalan yang harus diseragamkan.
Di sela pertemuan, Koordinator PELITA Semarang Setyawan Budi menjelaskan kehadiran organisasinya untuk menciptakan toleransi bersama.
“Kami tidak mau berhenti di dialog. Kami mencari apa yang bisa dikerjakan bersama, terutama ketika persoalan itu menyentuh hidup orang banyak,” jelasnya saat ditemui reporter elsaonline.com, 5 September 2026 di Semaran.g
Wawan panggilan akrabnya, menjelaskan komunitas bergerak tidak selalu memulai dari identitas keagamaan, melainkan mulai dari masalah yang ada di depan mata.
Dari Dialog ke Gerak
Perhatian PELITA pada isu lingkungan menjadi salah satu contohnya. Mereka hadir dalam gerakan Semarang Climate Strike atau Jeda untuk Iklim 2025 bersama Jaringan Peduli
Iklim dan Alam (Jarilima).
”Di tengah krisis iklim, batas agama dan keyakinan seakan mencair. Persoalan lingkungan memperlihatkan bahwa ada kepentingan bersama yang menghubungkan banyak orang, terlepas dari latar belakangnya,” ungkap pengajar Eduhouse Semarang.
Cara pandang serupa diterapkan di program Anak Semarang Damai (Semai) oleh Pelita
Semarang.
”Anak-anak diajak mengenal keberagaman bukan hanya lewat penjelasan di ruang belajar, tetapi juga dengan mengunjungi rumah ibadah dan bertemu langsung dengan pemeluk agama yang berbeda,” terang Wawan.
Program yang melibatkan kerja sama dengan EINS Institute dan IKRAR mendorong anak-anak tidak hanya diminta mengetahui bahwa orang lain memiliki keyakinan berbeda
Bagi Wawan proses ini memeberi kesempatan peserta mengalami sendiri bagaimana perbedaan itu hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Ruang perhatian PELITA tidak berhenti di sana. Mereka aktif dalam peringatan 41 tahun ratifikasi CEDAW pada 2025. Menjelang Pemilu 2024, melalui jejaring Gerakan Kebangsaan (Gerbang) Watugong, PELITA turut menyerukan pentingnya menjaga perdamaian dan tidak menjadikan perbedaan pilihan politik maupun agama sebagai alasan untuk saling memusuhi.
Menjaga Percakapan Tetap Hidup
Ruang dialog menjadi bagian penting dari aktivitas Pelita Semarang. Tidak semua persoalan harus dibicarakan melalui pertemuan formal atau aksi di lapangan. Pemanfaatan media untuk memperluas jangkauan percakapan melalui program Forum Antar Umat (FORMAT) yang disiarkan melalui JFM Radio Semarang.
”Program ini menjadi ruang bagi berbagai narasumber dengan latar belakang berbeda untuk membicarakan persoalan keagamaan maupun isu sosial yang sedang berkemban,” pungkasnya.
Pelita Semarang memandang persoalan-persoalan bagian dari kehidupan bersama. Toleransi penting dijaga agar tidak kehilangan makna sebagai slogan tentang saling menghormati saja. (Inayatul Badriyah)
Baca Juga  Ada Oknum Dibalik Konflik Sosial
spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

STBI Semarang Menyiapkan, Jemaat Menahbiskan

Semarang elsaonline.com Alumnus sekolah teologi menjaga tradisinya berinovasi agar...

Kampung Harmoni Kristen-Muslim

Relasi Kristen-Muslim di Indonesia sangat dinamis dan fluktuatif. Daerah-daerah...

Di Kampung Melayu Semarang, Toleransi Tak Pernah Jadi Spanduk

  Semarang—elsaonline.com Naif Abdurrahman Hasan melangkah pelan di lorong sempit...

Menembus Prasangka: Potret Kehidupan Jemaat Ahmadiyah Indonesia di Semarang

Perbedaan pemahaman keagamaan masih menjadi salah satu persoalan...

Sosiologi Agama Metamodern

Oleh: Tedi Kholiludin Bagaimana arah studi (sosiologi) agama dalam kerangka...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini