Semarang elsaonline.com Alumnus sekolah teologi menjaga tradisinya berinovasi agar tetap relevan dengan kehidupan masyarakat. Lulusan Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia (STBI) Semarang yang ditahbiskan oleh jemaat.
”Bukan sekolah yang menetapkannya. Keputusan itu ada di tangan jemaat,” ungkap Ketua STBI Pdt. Dr. Robinson Rimun, M.Th. menjelaskan hal itu kepada mahasiswa Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) UIN Raden Mas Said Surakarta Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di eLSA Semarang saat mengunjungi STBI Semarang, Rabu (4/11/2026).
Para mahasiswa mengenal tradisi Baptis dan melihat bagaimana sekolah teologi menjalankan perannya.
Robinson menjelaskan STBI hanya menyiapkan calon pelayan gereja, pendidik, dan peneliti lewat pendidikan teologi.
”Soal penahbisan dan pemberian gelar kependetaan, sekolah tidak punya wewenang. Gereja lokal yang memutuskannya melalui proses evaluasi internal masing-masing,” ungkap peneliti bidang teologi
Posisi Robinson membuat STBI berdiri sebagai lembaga parachurch sebagai lembaga di luar struktur gereja lokal yang berfokus pada pendidikan dan pembekalan calon pelayan keagamaan.
STBI memang berafiliasi dengan Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI) dan Persekutuan Baptis Indonesia (PBI).
”(Kami) menekankan bahwa independensi sekolah harus tetap dijaga,” jelas Ketua STBI Semarang periode 2023-2027
Jemaat yang menentukan
Pembagian peran bersumber dari ajaran Baptis. Gereja Baptis menganut sistem kongregasional. Artinya, jemaat lokal memegang kewenangan tertinggi untuk mengatur kehidupan gerejanya dan mengambil keputusan sendiri. Sekolah, sebesar apa pun, tidak berada di atas jemaat.
” Prinsip kebebasan beragama dan pemisahan gereja dari negara (separation of church and state). Ada pula keimaman seluruh orang percaya (priesthood of all believers), yakni keyakinan bahwa setiap orang berhubungan langsung dengan Tuhan tanpa harus lewat perantara manusia tertentu. Di atas semuanya, Alkitab menjadi otoritas tertinggi dalam kehidupan beragama,” urai Robinson kepada mahasiswa.
Rangkaian prinsip itu memperlihatkan perhatian besar tradisi Baptis pada kebebasan individu, otoritas kitab suci, dan kemandirian komunitas gereja.
Belajar teologi, belajar berusaha
STBI berdiri pada 11 Oktober 1954. Pendirinya Misi Baptis Indonesia yang bernaung di bawah International Mission Board of The Southern Baptist Convention. Sejak awal berdiri di Semarang membekali tenaga pelayanan keagamaan.
”Kurikulumnya bergeser mengikuti zaman. Pendidikan teologi perlu berinovasi agar tidak berhenti pada penguasaan ilmu keagamaan dasar. Mahasiswa perlu dibekali keterampilan di luar teologi,” ucapnya ahli hermeneutika al-Kitab.
Dasar itu menjadikan dasar STBI memasukkan kewirausahaan (entrepreneurship) dan pendekatan interdisipliner ke dalam proses belajar.
”Lulusan STBI tidak hanya paham agama, tetapi juga mandiri, mampu beradaptasi, dan ikut menjawab persoalan masyarakat yang lebih luas,” pungkasnya. (Reporter: Ony Imam Al Ashar)

