Semarang—elsaonline.com Naif Abdurrahman Hasan melangkah pelan di lorong sempit Jalan Layur. Tangannya sesekali menunjuk bangunan tua yang catnya sudah mengelupas seiring bertambahnya usia.
“Hampir 80 persen warga di sini keturunan Arab Yaman,” katanya, Selasa (2/11/2026). Suaranya tenang sama seperti orang yang sudah lama hidup dengan kenyataan itu.
Sejak 1743, kawasan Kampung Melayu jadi tempat bermukim orang Melayu dan titik labuh kapal di Kali Semarang. Pelabuhan tumbuh, penduduk berdatangan. Orang Hadramaut dari Yaman hadir berdagang, menyebarkan Islam, lalu menetap. Bertumbung waktu, Komunitas Arab mengakar meski nama kampung tak berubah walaupun warganya silih berganti.
Siang itu, rombongan mahasiswa Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Raden Mas Said Surakarta menyusuri lorong-lorong Bersama Dr. Tedi Kholiludin dari eLSA Semarang. Langkah sekumpul orang tidak terburu-buru dengan mata terbuka, telinga mendengar cerita Kampung Melayu yang tidak berteriak.
Menara yang Dulu Mengawasi Laut
Di tengah kampung Dadapsari, Masjid Menara Layur berdiri. Tingginya bukan untuk gagah-gagahan. Dulu, menara dipakai untuk azan sekaligus mengawasi pelabuhan lama Semarang, Boom Lama. Mata bisa melihat kapal-kapal datang dan pergi. Kini, laut sudah menjauh. Tanah naik. Rob datang. Bangunan berbentuk panggung dua lantai perlahan berubah dan ruang ibadah bergeser ke atas.
Ada detail kecil yang sering luput, di sisi timur menara, ruang salat perempuan berukuran sekitar 3 Ă— 3 meter.
“Ruang itu dibangun belakangan, setelah puluhan tahun masjid Layur hanya untuk jamaah laki-laki,” tutur Naif. Arsitektur ruang ibadah dapat menyimpan kompromi.
50 meter dari Masjid Menara Layur, Klenteng Kam Hok Bio berdiri. Kecil, tua, dan namanya harum sampai ke luar kota. Ibadah di dalamnya hanya keturunan pemilik klenteng atau klenteng keluarga. Wisatawan datang, melihat, lalu pergi. Batas tetap dijaga tanpa ada yang perlu dipersoalkan.
Jalan Layur menyimpan rumah-rumah tua. Ada bangunan perdagangan. Ada rumah panggung khas Banjar. Kali Semarang masih ada, meski ceritanya tak lagi sama. Dulu jalur dagang dan transportasi.
Soto, dan Toleransi yang Tidak Perlu Diumumkan
Berjalan di area Dadapsari, Soto Bayem Bu Karti salah satu wisata kuliner. Nasi, sayuran hijau, kuah soto. Sederhana berbeda dari soto biasanya. Rasanya seperti kampung, tidak perlu megah untuk membuat orang ingat.
Kampung Melayu tidak berhenti toleransi sebagai slogan. Tidak ada spanduk besar yang menulis “Kami Berbeda, Kami Bersama.” Lorong-lorong yang sama, tanah yang sama, dan orang-orang yang memilih untuk tidak pergi.
Naif mengatakan kehidupan di kampung ini rukun sejak lama, meski banyak etnis dan agama menempatinya. “Bisa jadi contoh toleransi yang sudah ada sejak lama,” ujarnya.
Tidak ada yang perlu dibuktikan dengan retorika. Buktinya ada di lorong-lorong itu, di rumah-rumah tua yang masih berdiri, di orang-orang yang masih tinggal Kampung Melayu. Toleransi tumbuh pelan, dari interaksi sehari-hari, dari perdagangan, dari tetangga yang tahu nama satu sama lain. (M Taufiq Ilyas)

