Memahami Dinamika Konflik melalui Segitga Galtung: Kontradiksi, Sikap dan Perilaku

Oleh: Tedi Kholiludin

Johan Galtung dikenal sebagai pemikir yang karyanya sangat banyak diacu untuk studi konflik dan perdamaian. Galtung menggambarkan hubungan antara konflik, kekerasan dan perdamaian. Tulisan ini akan menjelaskan dan menggambarkan secara aplikatif segitiga konflik terlebih dahulu, dan akan dilanjutkan dengan tulisan berikutnya pada tema kekerasan dan perdamaian serta relasi ketiganya.

Pada akhir tahun 1960-an Johan Galtung mengenalkan model konflik yang sangat berpengaruh dan mencakup didalamnya konflik simetris dan asimetris. Galtung dalam Conflict as a way of Life (1969) dan Peace by Peaceful Means (1996) menyarankan kalau konflik bisa dilihat sebagai segitiga; Contradiction/Kontradisik (C), Attitude atau Assumption/Sikap atau Asumsi (A) dan Behavior/Perilaku (B). Dalam konflik, kata Ramsbotham dkk (2012), ketidaksesuaian tujuan atau incompatibility of the goals yang dirasakan oleh mereka yang berkonflik disebabkan oleh, mengutip Christ Mitchell dalam “The Structure of International Conflict,” ketidaksesuaian antara nilai-nilai sosial dan struktur sosial.”

Dalam konflik yang bersifat simetris, kontradiksi didefinisikan oleh para pihak, kepentingan mereka, dan benturan kepentingan di antara mereka. Sementara dalam konflik asimetris, kontradiksi didefinisikan oleh para pihak, relasi di antara mereka, dan konflik kepentingan yang melekat dalam relasi tersebut.

Konflik simetris terjadi antara dua belah pihak yang memiliki kekuatan atau pengaruh yang relatif seimbang. Yang terjadi dalam konflik jenis ini adalah benturan kepentingan. Hubungan para pihak bersifat setara karena sama-sama memiliki daya tawar tinggi. Konflik yang terjadi antara unionis dan nasionalis di Irlandia Utara bisa digambarkan sebagai contoh tentang bagaimana relasi konfliktual yang bersifat simetris.

Sementara konflik asimetris terjadi pada parapihak dimana didalamnya terdapat dominasi atau relasi kekuasaan yang tidak setara (asimetris). Salah satu pihak, dalam hubungan tersebut, melakukan kontrol dan pihak lain menjadi kelompok yang dikendalikan. Dalam hubungan tersebut terkandung ketimpangan yang menyebabkan pihak yang dikendalikan memiliki daya tawar yang lemah. Konflik politik di Jalur Gaza antara Israel dan Palestina menggambarkan model asimetris.

Baca Juga  Toleransi, Nilai Kearifan Lokal dan Islam Nusantara

Selain kontradiksi, aspek berikutnya dari konflik adalah sikap. Dalam sikap itu terkandung persepsi atau kesalahpahaman para pihak yang bisa positif atau negatif. Pada konflik yang berujung kekerasan, sikap yang ditunjukkan sudah barangpasti terkait dengan stereotip, atau merendahkan yang lain.

Komponen ketiga dalam konflik adalah perilaku. Faktor ini melibatkan paksaan atau kerja sama didalamnya atau isyarat akan perdamaian atau permusuhan. Perilaku konflik yang bersifat kekerasan terkandung ancaman, paksaan serta tindakan yang bersifat destruktif. Tindakan atau perilaku dalam konflik yang berujung kekerasan juga bisa dilihat dalam bentuk intimidasi, kekerasan verbal, serangan fisik dan seterusnya.

Dalam sebuah konflik yang utuh, ketiga komponen itu hadir. Jika yang ada hanyalah kontradiksi tanpa diserta dengan sikap atau perilaku, maka struktur konflik tersebut bisa disebut sebagai konflik laten atau konflik struktural.

Dua kelompok agama misalnya memiliki perbedaan ketimpangan akses atas sumber daya politik. Ketimpangan itu lalu memunculkan perbedaan (difference) dan kontradiksi (contradiction). Sejauh belum ada sikap dan perilaku yang bersifat intimidatif, sentimen sektarian atau ujaran kebencian, maka konflik tersebut bersifat laten.

Hanya saja, konflik adalah sebuah proses dinamis, ketika struktur atau kontradiksi bisa terus menerus memengaruhi sikap dan perilaku. Ketika dinamika tersebut berkembang, maka ia akan menjadi formasi konflik yang manifes atau manifest conflict formation. Di sini, kepentingan para pihak mulai bertumbukan atau seringkali kepentingan itu tergambar dalam relasi yang menindas.

***

Model yang dikenalkan Galtung membantu menyediakan kerangka analitis dalam memahami konflik sebagai proses dinamis yang didalamnya ada tiga unsur utama; kontradiksi, sikap dan perilaku. Ketiganya saling memengaruhi serta membangun intensitas sehingga pendulumnya bergerak ke arah konflik. Manifestasinya bisa terbaca dalam konteks (konflik) simetris ketika pihak-pihak yang terlibat memiliki kekuatan seimbang, maupun konteks (konflik) asimetris yang ditandai oleh ketimpangan kekuasaan. Tanpa dibarengi dengan sikap dan perilaku, maka konflik bersifat laten namun menjadi manifes ketika struktur atau kontradiksi memunculkan stereotip, kebencian dan kekerasan.

Baca Juga  Identitas Transgender: Kedirian, Persepsi, dan Pergulatan Menjadi Manusia
spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Perlindungan Pembela HAM di Era Digital: Catatan untuk Revisi UU HAM

Oleh: Tedi Kholiludin Kementerian Hak Asasi Manusia (Kemenham) telah meluncurkan...

Dekolonisasi HAM: Transformasi Kultural dan Mobilisasi Politik

Salah satu kritik terhadap penegakan hukum Hak Asasi Manusia...

Dinamika Dunia Sastra di Indonesia

Secara umum (terminologi), sastra dapat dimaknai sebagai bentuk karya...

Tidak Ada Ruang Publik Gratis dan Demokratis

Oleh: Alfian Ihsan Dosen Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman   Apakah Anda selalu...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini