Mengenal Yudaisme

Oleh: Chlaodhius Budhianto

Alumnus Program Magister Sosiologi Agama
Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga

Yudaisme merupakan salah satu agama kuno, yang sampai sekarang masih bertahan hidup. Agama ini juga mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap dua agama besar sekarang ini, yaitu kekristenan dan Islam. Diakui atau tidak, monoteisme kedua agama ini berakar di dalam monoteisme Yudaisme. Sehingga ketiganya secara bersama-sama disebut sebagai agama-agama Abrahamic, agama yang berakar pada iman Abraham, yang adalah ‘nenek moyang Yahudi’ (via Ishak) dan ‘nenek moyang orang Arab (via Ismael). Namun begitu, keberadaan Yudaisme tidak seberuntung Kristen dan Islam. Bahkan penganut kedua agama yang terakhir ini pernah (dan masih berlangsung sampai sekarang) mengembangkan sikap dan stereotype negatif terhadap Yudaisme. Di kalangan orang Kristen pernah berkembang sikap antisemitisme, sementara sebagian orang Islam mengasosiasikan Yudaisme dengan Zionisme.

Pelbagai sikap negatif terhadap Yudaisme itu, tentu saja merupakan sikap yang tidak ada gunanya. Bukan saja bagi kehidupan bersama antar ketiga agama tersebut, tetapi juga bagi jatidiri kekristenan maupun islam. Sikap negatif semacam itu akan menjadikan baik kekristenan dan Islam seperti “kacang lupa dengan kulitnya,” agama-agama yang lupa akan akar-akar sejarah dan jatidirinya.

Namun begitu, harus segera disadari bahwa, sama seperti agama-agama lain yang ada di dunia ini, Yudaisme bukanlah agama yang monolitik. Di dalamnya terdapat banyak aliran. Oleh karena itu, perbincangan tentang Yudaisme di sini tidak akan mendalam. Perbincangan kali ini hanya bersifat perkenalan. Harus segera dicatat bahwa posisi saya adalah outsider. Saya bukan orang Yahudi maupun penganut Yudaisme. Saya adalah seorang Kristen. Posisi ini tentu saja akan mempengaruhi cara pandang dan sekaligus pemaparan saya tentang Yudaisme. Bisa jadi di sana-sini akan ada perkataan atau paparan yang mengandung bias.

Mendefinisikan Yudaisme
Memahami Yudaisme lewat mendefinisikannya merupakan sebuah pekerjaan yang beresiko. Upaya semacam ini hanya menjadikan Yudaisme, dan juga agama-agama lainnya, akan tereduksi. Setiap pendefinisian pasti akan berdampak pada hilangnya beberapa aspek di dalam Yudaisme (dan agama lain) yang tidak tercakup. Sekalipun begitu, cara ini harus ditempuh, mengingat waktu percakapan kita yang terbatas. Dalam mendefinisikan Yudaisme, saya akan menggunakan perspektif sosial. Perspektif ini melihat agama, termasuk Yudaisme sebentuk sistem budaya yang tersusun atas tiga komponen yaitu: Etos,Etik, dan Etnik. Etos menunjuk pada pandangan dunia (sistem keyakinan/kepercayaannya), etik menunjuk pada cara hidup, dan etnik menunjuk pada komunitas penghayatnya. Yudaisme menemukan ketiga komponen tersebut di dalam Taurat. Itulah sebabnya Taurat mempunyai posisi yang penting di dalam Yudaisme. Ia menjadi kitab suci mereka. Oleh karena ketiga kompenen yang membentuk Yudaisme berada di dalam Taurat, maka secara sederhana bisa dikatakan bahwa Yudaisme adalah sebentuk agama yang bertumpu kepada Taurat.

Sebagai kitab suci, Taurat diyakini oleh umat Yahudi sebagai yang berasal dari Tuhan. Ia diwahyukan Tuhan kepada Musa, dan kemudian ditulis bagi seluruh umat Israel. Melalui Taurat umat Yahudi tidak hanya bisa mengenal siapa sesungguhnya Tuhan, tetapi juga mendapatkan pemahaman tentang hakekat alam semesta (pandangan dunia). Di dalam Taurat, Yudaisme juga mendapatkan berbagai petunjuk tentang bagaimana seharusnya mereka menjalani kehidupannya, baik sebagai individu maupun sebagai anggota sebuah komunitas (etos). Di dalam Taurat pula, penganut Yudaisme mendapatkan pemahaman tentang siapa diri mereka, yaitu umat perjanjian yang dipilih oleh Tuhan (etnik).

Asal-Usul Yudaisme
Asal-usul Yudaisme pada dasarnya merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk ditelusuri. Hal ini terjadi karena dokumen utama yang membentuk identitas Yudaisme, yaitu Taurat, sebagian besar bukan dokumen yang bersifat historis, dalam arti laporan akan sebuah peristiwa dari masa lampau. Sekalipun di dalam Taurat ada laporan tentang sebuah peristiwa, namun laporan-laporan itu tidak dimaksudkan sebagai catatan sejarah. Laporan-laporan itu hanya sebuah kisah atau cerita. Sebagaimana kisah-kisah yang lain, kisah-kisah yang ada di Taurat tidak dimaksudkan sebagai catatan sejarah. Apa yang diutamakan di dalam Taurat bukanlah benar atau tidaknya sebuah peristiwa. Apa yang diutamakan adalah pesan atau makna dari kisah-kisah yang ada didalamnya. Misalnya, di dalam Kejadian 1 dikisahkan bahwa Tuhan menciptakan Adam. Dari kisah ini, banyak orang kemudian memahami bahwa manusia pertama adalah Adam. Padahal dalam bahasa Ibrani, kata ‘Adam’ tidak menunjuk pada nama diri/nama seseorang, namun menunjuk pada manusia. Dalam pengertian ini, kisah di dalam kitab kejadian tidak bermaksud melaporkan tentang siapa manusia yang diciptakan oleh Tuhan untuk pertama kalinya. Kisah itu mau menceritakan mengapa bisa ada manusia.

Sekalipun sebuah kisah, kisah-kisah yang ada di dalam Alkitab menjadi referensi utama umat Yudaisme dalam merumuskan identitas mereka dan asal-usulnya. Bersandar pada kisah-kisah tersebut, umat Yudaisme percaya bahwa mereka adalah keturunan Abraham. Sebagaimana dikisahkan di dalam kitab Taurat, Abraham berasal dari Tanah UR (sekarang Irak). Menurut kisah-kisah yang ada di Taurat serta geneologi yang ada di dalamnya, Abraham diperkirakan hidup sekitar tahun 1700–1900 SM. Abraham dipanggil oleh Tuhan untuk pergi dari tanah leluhurnya, menuju tanah yang dijanjikan oleh Tuhan, yaitu tanah Kanaan, dan juga keturunan yang banyak, yang kemudian disebut Israel.

Sekalipun asal-usul Yudaisme mereka bisa ditelusuri sejak zaman para leluhur (Abraham, Ishak dan Yakub), namun sebagai sebuah sistem keagamaan Yudaisme baru terbentuk pada kurun waktu antara tahun 70-640 M. Pada tahun-tahun inilah berbagai aliran di dalam Yudaisme secara bersama-sama memformulasikan apa itu Yudaisme.

Yudaisme dan Zionisme

Seperti sudah disebutkan, Yudaisme sering mendapat stereotype negatif yang berupa diasosiasikannya Yudaisme dengan Zionisme. Pengasosiasian ini adalah tindakan yang gegabah. Sebab, Zionisme merupakan gerakan politik yang murni bersifat sekuler. Zionisme lahir pada tahun 1880-an sebagai respon atas nasionalisme yang berkembang di Eropa dan sikap anti-semitisme yang ada di sana pada masa itu. Sikap anti-semitisme, telah melahirkan penderitaan yang luar biasa bagi orang Yahudi. Banyak di antara mereka yang mati dibantai oleh pemerintah-pemerintah di Eropa. Berbagai pengalaman pahit itu, ditambah semangat nasionalisme yang merasuk di dalam diri para zionisme menumbuhkan cita-cita kaum zionis untuk hidup di tanah mereka sendiri. Menurut mereka, orang-orang Yahudi tidak akan pernah aman di tengah-tengah bangsa lain dan oleh karena itu mereka memerlukan tanah air sendiri, tanah di mana nenek moyang mereka bermukim (tanah palestina).

Sekalipun klaim atas tanah Palestina di dapatkan dari Taurat, namun kaum zionis mengabaikan sisi keagamaan di dalam Taurat. Taurat yang pada dasarnya merupakan kesaksian atas sejarah hubungan antara Tuhan dengan umat-nya dihilangkan oleh kaum zionis. Bagi mereka Taurat hanyalah buku yang berisi mitos sejarah nasional Yahudi dan sumber identitas mereka. Pengabaian itu bisa dipahami mengingat banyak orang yahudi yang tergabung dengan zionisme adalah orang-orang sekuler dan ateis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *