Menjadi Perempuan: Sebuah Proses Memaknai Ada

0
202

Oleh: Alhilyatuz Zakiyah Fillaily

Saya tidak didahului dengan menemukan jawaban agama atas kegelisahan mengenai proses pemaknaan menjadi seorang perempuan. Saya juga tidak bisa dipaksakan untuk membuka berlembar-lembar buku apa yang orang lain minta tanpa melakukan persetujuan dengan hak diri sendiri untuk melakukannya. Saya percaya manusia memiliki jawaban terbaik dan paling mewakili perasaannya dengan membaca sesuatu apapun itu atas kehendaknya dan dengan kesadarannya, tanpa berusaha membohongi diri sendiri.

Hal yang paling dasar yang pernah suatu ketika membebani hidup saya adalah mempertanyakan kembali perihal perempuan. Ternyata upaya pencarian ini pun telah dimiliki Aristoteles seorang filsuf yang hidup kisaran tahun 300 SM dengan sadar mengatakan bahwa “Perempuan adalah perempuan dengan sifat khususnya yang kurang berkualitas”. Saya membacanya dalam terjemahan buku Simone De Beauvoir berjudul Second Sex: Fakta dan Mitos. Simone juga menyebutkan St. Thomas, salah satu dari 12 murid Yesus memberikan penjelasan bahwa “Perempuan itu laki-laki yang tidak sempurna, makhluk yang tercipta secara tidak sengaja”. Saya kira pantas saja pernyataannya tidak mewakili pengertian sosok perempuan, sebab orang yang berbicara saja lelaki. Hal itu tentu tidak bisa dijadikan sandaran.

Saya jadi bertanya apakah perempuan itu memang ada atau hanya bentukan isi kepala ilmuwan. Ataukah barangkali ia bentukan tradisi, nasihat, norma masyarkat, aturan penguasa, atau bahkan sampai pada teks-teks agama yang sangat patriarki (hanya memasukkan pemikiran dan pengalaman laki-laki). Lantas hal apa yang membuat pembicaraan dasar itu sampai sekarang tidak selesai. Saya bukanlah pemikir realis, tapi dengan perjalanan hidup saya, saya berusaha menemukan kepingan kisah dan sampai pada kesimpulan bahwa itu disebabkan takutnya negara pada ideologi perempuan artinya mereka (baca: perempuan yang sadar) melakukan proses dialog dengan diri sendiri menggugat tumpah ruah beban nilai pada tubuh dan mampu melakukan kontrol penuh atas tubuh. Maka selalu ada pihak pembuat narasi-narasi yang menjadikan identitas bersama, yang sama sekali tidak mewakili suara perempuan.

Saya juga tidak sedang membenci laki-laki sama sekali tidak. Terkadang saya merasa aneh, mengapa ketika seorang perempuan bergerak dan berpikir mendalam tentang posisi dirinya, mereka (perempuan kebanyakan) dianggap menentang. Apakah segala sesuatu harus berlawanan, dan memiliki nilai yang satu benar dan yang satu salah? Padahal yang menjadi tujuan perjalanan bukanlah hal itu, melainkan sebuah keadilan. Jika gapaiannya keadilan, jelas sekali siapa dan apapun yang menghalangi harus dilawan.

Menjadi Perempuan
Siapakah perempuan itu? Saya ingin menjawab dengan menceritakan bahwa satu kalimat Simone De Beauvoir yang diutarakan kawan saya yang seorang pegiat gender telah merasuki diri saya. Ya saya mendengar pertama kalinya dari kawan saya yang jika dilihat dari pandangan dan perjuangannya adalah seorang feminis marxis juga sosialis. Begini bunyinya “One is not born, but rather becomes, a woman”, ungkap Simone De Beauvoir. Saya memilih memunculkan kata “menjadi perempuan” sebenarnya berangkat dari pemikiran ini. Saya menaruh perhatian mengapa Simone menggunakan kata “menjadi” dibanding “sebagai”. Situasi yang mengelilingi perempuan kental akan kontrol untuk menundukkan secara halus. Meskipun Kartini telah membongkar tembok kemurungan ini 121 tahun yang lalu dengan senjata berupa pena. Situasi saat itu menjadi medan pertarungan (battle field) antara penguasa yang menyasar perempuan dilihat sebagai makhluk tanpa intelektualitas. Hanya tubuh yang disepakati sepihak untuk diajak kerjasama secara seksual. Maka “sebagai” menurut Simone di sini saya temui dari keberlangsungan nilai yang hidup pada masyarakat untuk melanggengkan semangat nilai patriarki.

Saya temui seorang perempuan di kampung saya berinisial DIP harus mengubur keinginan melanjutkan kuliahnya karena faktor hegemoni orang tua. Beberapa kali DIP menceritakan keinginannya pada saya untuk mengenyam pendidikan di jurusan komunikasi, tetapi ia pesimis karena tidak ada dukungan orangtua secara emosional. Padahal jika melihat kondisi perekonomiannya cukup mampu untuk membiayai kuliah. Apalagi ia anak terakhir, dan kakak perempuannya tidak kuliah telah menikah dengan orang kaya. Saya mendengar pula, bahwa pendidikan tinggi bagi kedua orangtuanya tidak penting dan hanya menghabiskan uang, yang penting sebagai perempuan harus pandai dalam urusan dapur dan berumah tangga. Akhirnya DIP bekerja sebentar, dan menikah.

Pengalaman selanjutnya adalah tentang sorang perempuan berinisial A. Ia adalah anak orang kaya, rumah bertingkat (bagi orang kampung rumah bertingkat cukup memiliki nama). A ini sarjana lulusan UGM dan menjadi ibu rumah tangga. Ia menikah dengan seorang laki-laki yang telah ASN. Saya mendengar suara ibu-ibu di dapur tentang A, ya memang ketika ada hajatan bagi orang kampung adalah sarana perjumpaan untuk mengumpulkan informasi terkini antar tetangga. Si A ini mendapat stigma karena tidak bisa memasak dan tidak bisa membantu tetangga hajatan di bagian dapur. Rasanya status sebagai seorang sarjana dan orang yang kaya luntur seketika.

Kasus IDP dan A adalah potret keseharian perempuan di kampung saya. Nilai-nilai patriarki tidak selalu mewujud relasi antar laki-laki dan perempuan. Bahkan pemupuk nilai ini juga perempuan, ibu-ibu. IDP dan A sama-sama diharapkan melanjutkan diri sebagai perempuan dengan mengamalkan keharusan berjuang di dapur, meskipun keduanya dari latar belakang berbeda. IDP tidak kuliah dan A seorang sarjana. Keduanya diharapkan bisa memasak dengan enak dan disukai semua orang. Perbedaannya pula, dalam kasus lain IDP yang tidak sarjana jika tidak bisa memasak tentu menerima stigma berlipat dibandingkan A yang sarjana dan tidak bisa memasak. Misal, dengan sarjananya si A mendapatkan tempat di masyarakat karena basis ilmu pengetahuannya saat kuliah.

Kedua potret di atas hanya bagian kecil dan dari ranah yang paling bawah yang sehari-hari tentang perjuangan perempuan yang tidak akan ada habisnya. Sangat utopia mengidamkan negara ideal tanpa perjuangan. Saya memang menggugat terhadap apa saja dengan cara yang berbeda atas segala keganjilan yang dilekatkan pada perempuan. Meskipun itu pada sebuah kata. Seperti kata “sebagai” yang kerapkali mendorong orang-orang menghakimi perempuan agar mengikuti. Mengikuti di sini tanpa disadari adalah upaya mendidik perempuan agar jauh dari sosok pemimpin yang berdaya mampu berpikir strategis dan bisa bertanggung jawab atas kekuasaan.

Gagasan “menjadi perempuan”, secara lebih jauh saya maknai sebagai upaya mengungkapkan nilai-nilai dasar pribadi untuk mempertimbangkan nilai baru. Mengapa ini penting, sebab perempuan terlahir telah dipaparkan nilai-nilai tanpa pengetahuan untuk mempertimbangkan dan mengkritisi hal tersebut. Bahwa daya kritis untuk mempertimbangkan dan menggugat bukanlah suatu kesalahan. Bagaimana jika pemegang nilai itu adalah orang-orang terdekat keluarga, atau yang dihormati seperti guru, kiai, pendeta, dan lain-lain. Ini akan sangat berimbas pada pertentangan batin. Kondisi ini pula yang membedakan dengan lelaki atas kebebasannya menentukan segala hal.

Menjadi perempuan kemudian akan memberikan identitas diri dengan sama sekali tidak merusak ruang personal itu sendiri. Tidak ada identitas yang lebih unggul, jika akan menenggelamkan identitas lainnya. Ruang publik perempuan hadir dengan penentuan dan penanaman nilai bertahun-tahun lamanya akan sangat mungkin berubah berdasarkan waktu dan konteks saat ini.

Perempuan itu Ada
Mari kita lihat bahwa siapapun yang mempersoalkan perempuan tidak diberikan kedudukan setara dengan laki-laki sedang melakukan sesuatu (learning to do), kita lihat yang sampai detik ini banyak yang turun aksi ke jalan mempertanyakan kondisi demokrasi yang justru melindas perempuan, dan kita lihat para pendamping sedang memperjuangkan nasib buruh migran, semua langkah itu dimulai dari titik bahwa perempuan memang ada.

Mengikuti kerangka pemikiran Jean Paul Sartre dalam buku Seks dan Revolusi ada tiga hal penjelasan tentang diri manusia, yaitu ada bagi dirinya (being for itself), ada pada dirinya (being in itself) dan ada untuk orang lain (being for other). Simone tertarik pada konsep ketiga pemikiran Sartre, ada untuk orang lain. Kerangka ontologis inilah yang kemudian ditarik oleh Simone sampai pada pembahasan sosok yang lain atau sang liyan (the others). Coba perhatikan kalimat Simone berikut:

Mengapa perempuan tidak mempermasalahkan kekuasaan laki-laki? Tak ada subjek yang rela mau menjadi objek, sesuatu yang tidak esensial ini bukan karena “sosok yang lain” dalam mendefinisikan dirinya sebagai yang lain memantapkan “yang satu”. “Sosok yang lain” dianggap demikian oleh “yang satu” dalam mendefinisikan dirinya sebagai “yang satu” (Simone De Beauvoir, 2016: XIV).

Sosok yang lain di atas adalah perempuan, sedang yang satu adalah lelaki. Subjek didahului oleh posisi lelaki, sedangkan yang menjadi objek adalah perempuan. Simone sedang menjelaskan kondisi ketertindasan perempuan dengan berlandaskan konsep ada untuk orang lain milik Sartre. Ada untuk orang lain diwacanakan sebagai ketiadaan. Mengapa ketiadaan, sebab pengertian tentang diri yang ada telah dijelaskan pada dua konsep diri Sartre selain ini. Ketiadaan, pengakuan tidak menerima memunculkan semangat kebebasan.

Kebebasan bagi Simone ini adalah perempuan sebagai sosok yang lain harus bebas dari penindasan laki-laki. Perempuan kehilangan banyak hal berupa sejarah, ilmu pengetahuan dan kekuasaan. Simone juga menceritakan tentang perempuan kaum proletar di Rusia, orang Negro di Haiti, dan orang Indocina. Lebih dalam lagi, Simone menganggap keberhasilan itu belum memposisikan perempuan sebagai subjek, sebab perempuan hanya memperoleh apa yang diberikan kaum laki-laki, mereka tidak mengambil tapi menerima. Rupanya, Simone berangkat dari titik bahwa perempuan itu ada, dengan berusaha memaparkan kondisi perempuan dianggap tidak ada.

Perhatian saya berlanjut pada kondisi di Indonesia. Sejauh ini saya belum bisa memberikan analisa Simone terhadap apa yang terjadi di Indonesia lebih luas dan dalam. Saya memaknai bahwa pembacaan pada buku, pengalaman, pengetahuan akan sejarah juga berbagai hal yang hidup dalam jiwa menyiratkan pandangan hidup manusia. Perempuan ada dengan sebenarnya dan merupakan realitas terpenting dalam perjalanan akibat kondisi yang telah dilemahkan dan dihampakan. Saya rasa, untuk menjadi sama-sama penting, menjadikannya pembahasan terpenting adalah sebuah keharusan.

Terakhir, setelah membaca buku Membicarakan Feminisme karya Nadya Karima Melati, saya disadarkan dalam meneladani Kartini ketika membaca kalimat Nadya berikut; “Hari ini banyak perempuan Indonesia bisa menulis dan membaca, namun ada yang hilang yakni gagasan dan semangat kemanusiaan yang menjadi bara bagimu (Kartini) untuk menulis dan membaca” (Nadya Karima Melati, 2019: 7). Baik Simone dan Kartini, keduanya perempuan, mengguncang dunia dengan gagasannya, diakui keberadaannya, menjadi ada, karena menulis dan membaca.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here