Nyanyian Munir di Sudut Lokananta

Salah satu karya Tribute to Munir ‘Melawan Lupa’ yang dipamerkan
Salah satu karya Tribute to Munir ‘Melawan Lupa’ yang dipamerkan
[Solo-elsaonline.com] Ratusan potret seni lukis wajah Munir itu menghiasi dinding Rumah Seni Lokananta Jalan Ahmad Yani 379 Solo, Sabtu (12/7) malam. Lukisan yang mendedikasikan untuk pejuang hak asasi tersebut adalah upaya mengenang 10 tahun meninggalnya Munir. Judul karyanya pun beragam rupa. Yakni, “Ada Semar Ada Munir”, “Suara di Kepala”, “Munir Ngejawantah”, “Nyanyian sang Tapol”, “Ibu Bunga Melawan Lupa”, “Sang Martir”, “Sejarah di Wajah” dan masih banyak lagi. Tak hanya itu, bahkan puluhan buku bahan refrensi pun tak luput ditampilkan di tengah ruangan yang digunakan sebagai ruang seni instalasi.

Ya, pameran tunggal seni rupa bertajuk ‘Melawan Lupa’ merupakan ihwal perjuangan mempelajari sejarah yang dihasilkan oleh Saifuddin Hafiz. Hafiz menuturkan, di masa rezim Orde Baru saat kebebasan dipasung dan segala aktivitas diawasi Munir berdiri paling depan. “Apa pun kata orang, Munir telah membuktikan bahwa perjuangan menegakkan HAM adalah sesuatu yang mulia, meski penuh bahaya. Munir layak dijadikan pahlawan,” ungkap Hafiz, sapaan akrabnya.

Dalam pameran tersebut, semua lukisan pria berkumis itu hanya terfokus pada wajah dengan pose wajah sama. Perlawanan dalam selembar kain kanvas pun bermula dari perjalanan hidup Munir sejak lahir hingga wafat. Biografi itu pun diceritakan melalui deretan lima karya yang tergantung secara berderet. “Makanya, tidak boleh ada satu orang pun hilang dan mati secara semena-mena di Indonesia ini tanpa alasan,” ujar pria gondrong tersebut.

Karena itu, pria yang tinggal di Jalan Sri Kuncoro Dalam Dawung Wetan Rt 03 RW 08 Danukusuman, Serangen, Surakarta, menilai, Tribute to Munir adalah sebuah karya dan ekspresi seni budaya. Pria kelahiran 6 Agustus ini pun menjelaskan, sebagai refleksi, penghormatan sekaligus persembahan atas keberanian dan komitmennya, Munir ialah suara keberanian di tengah kebungkaman massal. “Tentu, ini sebuah ekspresi agar kita tidak lupa pada sosok dan rekam jejak perjuangan Munir, agar tidak begitu saja hilang ditelan zaman, bahkan sebaliknya haruslah dilanjutkan,” terang lulusan Seni Rupa STSI (ISI) Surakarta.

Baca Juga  Warga Tolak Pemakaman Penghayat Medal Urip

Adapun Suciwati menyampaikan bahwa pameran ini sebagai penanda untuk terus melawan ketidakadilan, terutama terhadap orang yang lantang bersuara. Di samping itu, kekebalan hukum para pelaku pelanggar HAM yang membuat tragedi pembunuhan Munir terjadi. “Makanya, pembiaran dan tidak dihukumnya para pelaku pelanggar HAM membuat mereka pongah. Padahal, keberulangan itu akan terus terjadi jika kita tidak mencegahnya,” beber ibu berambut pendek itu.

Oleh sebab itu, ibu dari Alif Allende dan Diva Suukyi mengapresiasi pameran tunggal mengenang 10 tahun meninggalnya Munir. Menurut dia, gerakan melawan lupa adalah gerakan moral, sosial dan aksi tersebut yang harus terus digelorakan. “Jadi, pameran seni rupa ini merupakan salah satu wujudnya. Kita harus terus menyuarakan pengungkapan kebenaran dan keadilan apapun caranya mengingat melawan lupa ini merupakan cara merawat negara tercinta untuk menjunjung tinggi kemanusiaan” tandasnya. [elsa-ol/@munifbams]

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Kepenyintasan Kultural: Peran Komunitas Membentuk Kota

Kota tidak lahir dari rancangan semata, melainkan tumbuh dari...

Pola Lama Mekanisme Sama

Oleh: Tedi Kholiludin Dua peristiwa tak mengenakkan yang berkaitan dengan...

Perlindungan Pembela HAM di Era Digital: Catatan untuk Revisi UU HAM

Oleh: Tedi Kholiludin Kementerian Hak Asasi Manusia (Kemenham) telah meluncurkan...

Dekolonisasi HAM: Transformasi Kultural dan Mobilisasi Politik

Salah satu kritik terhadap penegakan hukum Hak Asasi Manusia...

Dinamika Dunia Sastra di Indonesia

Secara umum (terminologi), sastra dapat dimaknai sebagai bentuk karya...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini