Shinto, Religiusitas Masyarakat Jepang

0
397
Sebuah Toorii dengan Chinju no mori.

Oleh: Iwan Madari
Freelance Photographer dan Pemerhati Spiritualitas Asia Timur

Spiritualitas Jepang dapat ditelusuri dari agama asli mereka, Shinto. Agama ini awalnya tanpa nama, tanpa pendiri, tanpa kitab suci, tanpa dogma yang pasti tapi bisa diketahui dari praktik & ritual yang berjalan berabad-abad. Kata “Shinto” berasal dari kanji “shin” & “tao” yang artinya “jalan kami” muncul sekitar abad 6 digunakan untuk membedakan kepercayaan asli Jepang dengan agama Buddha yang datang dari Korea. Sekalipun tidak diketahui asal usulnya, tapi agama Shinto berhubungan secara langsung dengan kebudayaan yayoi yang berbasis pada ritual pertanian & shamanisme. Shinto tidak mempunyai kitab suci resmi tapi mempunyai 2 buah buku yang ditulis sekitar tahun 712 & 720 masehi yang berjudul Kojiki & Nihon Shoki. Dua kitab ini berisi tentang ritual Shinto, kumpulan tradisi oral dan mitologi. Dari buku ini juga ditemukan kata “Shinto”.

Shinto adalah agama yang dipraktikkan oleh hampir semua penduduk Jepang, walaupun mereka tidak mengklaim sebagai penganut Shinto. Itulah sebabnya makna Shinto bagi setiap orang berbeda. Semua mempraktikkan Shinto di kuil-kuil tanpa terikat organisasi resmi agama Shinto dan juga terlihat pada festival-festival, misalnya: pergantian tahun dan musim, bulan purnama atau mekarnya bunga sakura.

Konfusius datang ke Jepang pada abad 5 masehi & menyebar luas pada abad ke 7, ini memicu pengembangan ajaran etik Shinto. Buddha masuk Jepang tahun 552 masehi dan mengalami pengembangan dan akulturasi. Pada abad ke 8 ada kecenderungan memandang Shinto dari sudut pandang agama Buddha. Kami dalam Shinto dianggap sebagai pelindung agama Buddha karenanya ada kuil yang dibangun untuk kami pengawas di sekitar kuil Buddha. Kami-kami dalam Shinto posisinya disejajarkan dengan dengan dewa agama Buddha dan Bodhisatva dimasukkan dalam jajaran kami Shinto serta ada patung Buddha dalam kuil Shinto.

Inti dari ajaran Shinto adalah percaya pada harmonisasi antar kekuatan kami tersebut serta kepercayaan penuh pada kami, yang disebut kannagara. Tak ada definisi yang jelas tentang kami ini, bisa disebut “tuhan”, “dewa” atau “esensi spiritual.”Kami ada di setiap obyek alam; gunung, hutan, air terjun, sungai, laut, angin, bahkan binatang seperti rubah, anjing dan kucing. Pada setiap obyek alam tersebut selalu ada kuil untuk menghormati kami yang ada di situ.

Bisa dibilang kalau kami ini semacam “penunggu” kalau menurut istilah masyarakat Indonesia bahkan pemimpin tradisional seperti kaisar pun bisa disebut kami maka dari itu kaisar tak pernah memegang kekuasaan secara langsung dan Kami tertinggi berada di Gunung Fuji, gunung tertinggi di Jepang yang merupakan pusat kosmos. Kami tidak terpisahkan dari alam tapi bagian dari alam tersebut meliputi; baik dan jahat, positif dan negative. Mereka adalah manifestasi energi yang saling terkoneksi di alam semesta yang disebut dengan musubi. Fundamental dari ajaran Shinto adalah hidup berdasarkan hukum alam.

Kami akan menunjukkan jalan kebenaran pada orang yang percaya dan membimbing untuk sesuai hidup dengan jalan kebenaran. Dalam kepercayaan tradisional Jepang, kebenaran menunjukkan dirinya lewat pengalaman yang terjadi dan mengalami perubahan melalui ruang dan waktu yang tak terbatas karena itu dalam Shinto tak ada konsep kebenaran absolut atau kejahatan absolut semua nilai berubah sesuai zaman.

Tak ada individu yang memiliki kebaikan tanpa ada kejahatan dalam dirinya, seperti halnya sisi terang tanpa sisi gelap dan kebenaran tanpa kepalsuan, tak ada kebenaran paling absolut dan amaterasu bukanlah dewi yang mengetahui segalanya. Dalam Shinto, semua kami dapat bekerja sama & hidup sesuai dengan petunjuk kami dipercaya akan mendapatkan keuntungan berupa perlindungan dari kami.

Shinto juga tak mengenal azab atau hukuman ilahi yang dinilai dari perbuatan kita melainkan konsekuensi alami dari perbuatan-perbuatan kita, alam semesta tidak memihak, penderitaan itu sebab dari perbuatan yang salah.

Ajaran Shinto memandang manusia secara positif. Sebuah ungkapan Shinto mengatakan “semua manusia adalah anak-anak kami” yang artinya tiap manusia yang diberikan hidup oleh kami dan kehidupannya adalah suci. Yang kedua, itu berarti kehidupan sehari-hari diciptakan oleh kami dan oleh karena itu kepribadian & kehidupan orang-orang patut dihormati. Seorang individu harus menghormati hak asasi manusia setiap orang sebagaimana dia sendiri ingin dihormati haknya.

Shinto adalah agama kontinuitas atau komunitas, walaupun setiap orang Jepang dikenal sebagai sangat individual tapi tak akan terpisahkan dari komunitasnya, di sisi sebaliknya dia dianggap sebagai pembawa ajaran yang dari leluhurnya dan berlanjut pada keturunannya. Dia juga dianggap bertanggung jawab pada semua kelompok sosial.

Dalam sejarahnya , kepercayaan & praktik Shinto dalam setiap komunitas memainkan peran penting dalam memainkan harmoni antara elemen alam & kekuatan. Sesudah Restorasi Meiji (1868), Shinto digunakan sebagai semangat untuk menyatukan rakyat selama perang, sejak berakhirnya perang dunia II ditekankan kembali untuk perdamaian. Prinsip dasar Shinto yang dinyatakan asosiasi kuil Shinto (1956) seperti yang dikutip dalam sebuah artikel “sesuai dengan kehendak kaisar , mari kita hidup dalam harmoni & kedamaian dan berdoa untuk kemajuan bangsa serta kemakmuran bersama.”

Praktik dalam Shinto terdiri dari berpantang, persembahan, doa & pembersihan. Pembersihan dilakukan dengan air sebagai simbol membersihkan segala macam kotoran dari pikiran. Umumnya secara tradisional rumah Jepang mempunyai 2 altar; Shinto & Buddha.

Shinto tak mempunyai hari libur tapi pada tanggal 1 sampai 15 tiap bulannya terkadang kuil-kuil Shinto mengadakan ritual atau perayaan tergantung musimnya. Pengikut Shinto setiap pagi mengunjungi kuil untuk meminta berkah sekaligus menghormatinya. Kuil Shinto dianggap sebagai kediaman kami, di dalam kuil-kuil utama terdapat simbol keramat yang bisa berupa cermin, lukisan kayu, pedang atau obyek lain, umumnya dimasukkan dalam kontainer & terlarang untuk umum.

Sebuah gerbang yang disebut toorii berdiri di depan wilayah sakral dalam agama Shinto dan sebuah hutan sakral mengelilingi kuil yang disebut chinju no mori. Hal ini menimbulkan anggapan kalau hutan itu ada itu terlebih dahulu sebelum kuil itu didirikan di dalamnya, fakta ini mengindikasikan kalau ada hubungan kuat dengan pemujaan alam, maka Chinju no mori juga menjadi obyek pemujaan, untuk bisa memasuki wilayah tersebut pengunjung harus melewati toorii & Chinju no mori kemudian menyucikan diri terlebih dahulu dengan membasuh tangan dan berkumur, umumnya pengunjung datang untuk berdoa atau terkadang permohonan khusus pada pendeta Shinto.

Ada bermacam ritual Shinto yang dapat diamati, diantaranya kunjungan bayi yang baru lahir kepada kami pengawas pada 30-100 hari setelah kelahiran untuk mendapat inisiasi sebagai penganut baru, semacam dibaptis kalau pada ajaran Kristen. Festival Shichi Go San (7-5-3) adalah kunjungan anak-anak laki-laki umur 5 tahun dan anak perempuan 3 & 7 tahun pada bulan November tanggal 15 untuk berterima kasih pada kami & diberikan kesehatan sepanjang hidup.

Tanggal 15 Januari adalah hari kedewasaan pada tanggal ini berumur 20 tahun datang ke kuil merayakan kedewasaan yang ditandai dengan minum sake & merokok. Perkawinan dengan cara Shinto jarang dilakukan karena ongkosnya yang mahal, mereka lebih senang dengan cara Kristen, maka hotel-hotel di Jepang mempunyai kapel bukan untuk beribadah tapi untuk upacara perkawinan & umumnya pemakaman dengan cara Buddha karena Buddha berbicara tentang keselamatan individual sedangkan Shinto mengurusi bagian ritual & sosial, Buddha memandang kematian yang lama sedangkan Shinto merayakan kelahiran yang baru & Shinto tak punya eskatologi yang jelas, hanya ada satu penjelasan bahwa roh dari orang yang meninggal akan berada di atap rumahnya dan menjadi kami pelindung keluarga tersebut.

Ada kepercayaan dalam budaya Jepang, umumnya setelah meninggal orang Jepang diganti namanya supaya tak ada siluman yang menyamar sebagai orang tersebut. Secara umum orang Jepang percaya kalau mereka meninggal akan menjadi bodhisattva atau kami, selain itu ada juga ritual Shinto dalam keseharian, seperti selamatan atau syukuran kalau di Indonesia; meresmikan pembangunan gedung baru, peluncuran kereta cepat baru.

Shinto menjadi agama resmi pada saat Restorasi Meiji yang kala itu membagi menjadi Shinto negara & Shinto sekte. Selain itu juga memisahkan Shinto & Buddha yang sudah saling berakulturasi selama 1000 tahun. Gerakan keagamaan baru muncul pada akhir abad 19, gerakan keagamaan baru ini dibedakan menjadi beberapa kelompok besar; beberapa adalah pemuja gunung, yang lain setengah Shinto & setengah Buddha, ada yang menekankan pemurnian & praktik pertapaan, ada juga yang mengombinasikan ajaran konfusius & Shinto.

Gerakan keagamaan ini umumnya berdasarkan pengalaman spiritual pribadi & bertujuan untuk penyembuhan & keselamatan spiritual. Status agama Shinto sebagai agama Negara dicabut setelah perang dunia 2 seiring dengan turunnya status kaisar dari kami menjadi simbol pemersatu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here