Rab. Okt 21st, 2020

elsaonline.com

Voice of the voiceless

Kisah Perjodohan Penganut Agama Adam

3 min read

[Semarang –elsaonline.com] Orang mungkin tak akan mengira, kalau sebuah desain rumah dua lantai tersebut yang ciamik itu lahir dari seorang yang hanya tamat Sekolah Menengah Pertama. Dengan cekatan, ia menjelaskan maksud gambar itu kepada saya. Sembari menerangkan bagaimana gambar itu dipahami sebagai peta untuk bangunan yang akan dikerjakan, ia mengatur 7 orang pekerja lainnya yang dari sisi usia, kurang lebih seumuran ayahnya atau pamannya.

Nama pemuda itu Faiz Riyandi. Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, penganut Sedulur Sikep itu sudah melanglangbuana ke pelbagai kota di Jawa dan Sumatera untuk mengadu nasib. Menariknya, meski ia tak memiliki ijazah formal bidang teknik sipil kemampuannya untuk mendesain bangunan, layak diacungi jempol.

Sejak Rabu (22/7) lalu, Andi memandegani teman-teman sesama pekerja bangunan untuk membongkar bagian belakang kantor Yayasan Lembaga Studi Sosial dan Agama (ELSA). Karena Pesantren Mahasiswa At-Taharruriyah sudah aktif sejak 2018, kebutuhan untuk menambah ruang menjadi urgen. Meski belum banyak santri yang tinggal, tetapi, ruangan yang ada sekarang dirasa belum representatif untuk menjadi sentra aktivitas secara bersama-sama. Karenanya, pengurus memutuskan untuk merenovasi bagian belakang kantor dan membuatnya menjadi lantai dua.

Andi tentu saja bukan orang baru bagi saya dan teman-teman ELSA. Sejak 2011, ELSA bersama-sama dengan Sedulur Sikep di Kudus, memperjuangkan hak mereka sebagai warga negara yang belum terpenuhi. Mulai dari pengurusan akta kelahiran, hingga pendidikan mereka di sekolah. Pilihan untuk meminta bantuan teman-teman Sedulur Sikep merenovasi kantor sesungguhnya adalah pilihan yang ideologis, memanjangkan karya dengan sedikit menggeser arena.

Disela-sela istirahat siang, saya kerap terlibat dalam banyak percakapan dengannya. Tak melulu soal gambar atau desain kantor baru yang sedang dikerjakannya, tetapi juga dinamika terkini para pemuda Sedulur Sikep yang tentu saja sudah mulai beranjak dewasa.

Baca Juga  Ketidakdewasaan Beragama Berdampak Konflik

“Pemuda yang seusia saya, atau selisih dua hingga tiga tahun, sesungguhnya cukup banyak. Sekitar 20an orang pemudanya. Perempuannya, mungkin 10 hingga 15 orang,” katanya. Ia menjawab pertanyaan saya tentang populasi pemuda penganut Agama Adam di Undaan, Kabupaten Kudus. Di Desa Larekrejo dan Desa Karangrowo ada sekitar 100 Kepala Keluarga pewaris ajaran Samin Surosentiko ini.

“Di Pati, malah lebih banyak lagi, mas. Sekitar 500 Kepala Keluarga mungkin ada,” Andi menjelaskan situasi penganut Sedulur Sikep di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati. “Pemudanya pasti lebih banyak lagi dari yang ada di Kudus,” imbuhnya.

Saya bermaksud mengunduh informasi darinya tentang bagaimana dinamika perjodohan atau pencarian pasangan hidup diantara Wong Samin ini. Rasa penasaran itu timbul karena jumlah mereka yang terbatas. Secara logika, tentu saja ada keterbatasan pula dalam memilih jodoh diantara mereka.

“Sebenarnya, sama halnya dengan masyarakat lain, kami juga melalui proses yang sama dalam mencari jodoh. Jika orang tua kami dijodohkan oleh keluarga, pemuda Sedulur Sikep yang sepantaran saya, lebih memilih pasangannya sendiri, baru berembug dengan keluarga,” terang menantu Budi Santoso, sesepuh Sedulur Sikep Kudus.

Terhadap pertanyaan saya tentang keterbatasan pemuda, ia menjawab dengan moderat. “Pemuda Sikep di Kudus, biasanya mencari jodoh tak hanya disini (Kudus, red) tetapi juga ke Sukolilo. Begitu juga sebaliknya. Bahkan pemuda Pati juga mendapatkan jodoh dengan sedulur yang di Blora,” ayah satu anak itu menceritakan bagaimana perjodohan diantara warga Sikep di Kudus, Pati dan Blora.

Tetapi, lanjut Andi, tak menutup kemungkinan juga terjadinya pernikahan warga Sikep dengan komunitas di luarnya. “Syaratnya, pernikahan harus dilakukan sesuai dengan aturan Sedulur Sikep. Begitupun aturan yang dianut oleh pasangan tersebut di kemudian hari,” ujarnya.

Baca Juga  Rokhim Optimis Berangkat ke Chili

Dari sisi pekerjaan, sebagian pemuda Sedulur Sikep menyandarkan kehidupannya pada sisi pertanian. Sebagian yang lain pergi merantau sebagai pekerja bangunan. [Tedi Kholiludin]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *