Oleh: Tedi Kholiludin
Seperti biasa, setiap kali mampir di Semarang, Mas Ulil Abshar-Abdalla mengajak saya sekeluarga menemaninya sarapan pagi sebelum siangnya ia dan Mbak Ienas...
Oleh: Tedi Kholiludin
Ada sekitar 20-25 abang becak memarkir kendaraannya di depan sebuah gereja Katolik. Di siang terik, mereka kadang tertidur lunglai di serambi gereja....
Oleh: Tedi Kholiludin
Karya sinematografi tentang seorang tokoh selalu merupakan tafsir. Ceritanya tak melulu sealur dengan buku-buku yang dianggap otoritatif tentang tokoh tersebut. Gambaran...
Oleh: Tedi Kholiludin
Saya mencoba menghubungkan tiga objek dalam tulisan ini; dunia santri, humor dan masalah penodaan agama. Kehidupan santri, sebagai subkultur dari kebudayaan muslim...
Oleh: Tedi Kholiludin
Tak hanya soal jam tangan yang bisa kita sajikan sebagai bahan obrolan tentang Swiss. Juga bukan hanya ihwal kabar jika presiden pertama...
Oleh: Tedi Kholiludin
“Indonesia beruntung karena masih punya momen seperti lebaran dimana meminta dan memberi maaf menjadi salah satu ruhnya, selain tentunya menjadi alat perekat...