Jum. Sep 25th, 2020

elsaonline.com

Voice of the voiceless

Budaya Populer dan Mitologi Jepang dalam Anime Naruto

4 min read

Oleh: Iwan Madari
Jurnalis Lepas, Tinggal di Semarang

Para pembuat manga dan anime memasukkan unsur budaya Jepang sebagai sumber inspirasi dan menghidupkan legenda dan mitos untuk industri manga anime Jepang. Namun, banyak dari mitologi yang digunakan tak diperhatikan oleh khalayak penikmat anime manga.

Di “The Artifice” dikupas tuntas bagaimana masyarakat Jepang menautkan mitologi dalam budaya populernya. Tulisan ini, Sebagian besar merujuk pada apa yang tertulis dalam “The Artifice.” Banyak mangaka dengan cerdas menarasikan kembali cerita rakyat dan mitologi Jepang, dengan cara memasukkan beberapa karakter, simbol ke dalam cerita mereka.

Masashi Kishimoto menggunakan mitos siluman rubah (Kitsune), bersama dengan beberapa mitologi Jepang lain ke dalam serial anime Naruto.

Tokoh utama dalam serial anime ini, Uzumaki Naruto adalah seorang Jinchuriki, seorang manusia dengan siluman rubah berekor sembilan yang disegel di dalam dirinya sejak masih bayi, siluman rubah ini bernama Kurama.

Di dalam mitosnya, jumlah ekor dari rubah mempunyai hubungan dengan umur, kebijaksanaan dan kekuatan. Masashi Kishimoto menggunakan aspek ini untuk menggambarkan bagaimana hebatnya kekuatan dari Kurama ini.

Selain itu, beberapa dari delapan monster berekor lainnya terinspirasi oleh makhluk yang ditemukan dalam mitologi Jepang. Binatang berekor satu, Shukaku terinspirasi oleh Tanuki. Dalam mitologi Jepang, Tanuki adalah siluman rakun ajaib yang bisa berubah bentuk dan mempunyai hobi menipu manusia. Shukaku bentuknya sangat mirip dengan Tanuki.

Makhluk berekor dua, Matatabi, terinspirasi oleh Bakeneko, sejenis siluman kucing dan nekomata. Matatabi memiliki dua ekor seperti nekomata, karena kucing dianggap siluman karena penampilan fisiknya. Fakta bahwa mata kucing berubah bentuk berdasarkan waktu, berjalan tanpa suara, menjilat darah, dan sulit dikendalikan memberikan kesan bahwa mereka jahat.

Baca Juga  Kebijakan Pidana dalam RUU Kerukunan Umat Beragama

Siluman empat ekor bernama Son Goku yang terinspirasi oleh raja monyet dari mitologi Tiongkok, yang lahir dari batu ajaib. Dia pemberontak melawan surga dan akhirnya dipenjara oleh Buddha di dalam sebuah gunung. Son Goku ini muncul pertama kali dalam serial anime Naruto Shippuden episode 165.

Siluman binatang berekor delapan, Gyuki, adalah kombinasi dari seekor lembu dan gurita, dari sebuah mitologi Jepang yang bernama Ushi-Oni. Gyuki memiliki banyak penampilan, tetapi selalu menampilkan kepala bertanduk.

Ushi-Oni dikenal sebagai monster laut raksasa, yang hidup di lepas pantai barat Jepang dan hobi memakan para nelayan. Kishimoto menggunakan mitologi Ushi-Oni untuk menciptakan teknik mata (dojutsu) dari klan ninja Uchiha.

Dalam serial anime Naruto, dojutsu adalah kemampuan ninja yang memanfaatkan mata. Itachi memiliki tiga teknik mata yang kuat yang dinamai berdasarkan tiga dewa penting Shinto; Tsukuyomi, Amaterasu dan Susanoo.

Dalam mitologi Shinto, Tsukuyomi adalah dewa bulan laki-laki, dia adalah anak kedua dari “tiga anak bangsawan” Izanagi. Baik Tsukuyomi dan Amaterasu lahir ketika Izanagi mencuci matanya.

Dalam anime Naruto, Tsukuyomi adalah salah satu teknik mata yang paling kuat yang mampu menjebak lawan dengan ilusi, targetnya merasa disiksa secara mental yang akhirnya berakibat trauma psikologis.

Dalam mitologi Jepang, Amaterasu adalah saudara perempuan dan istri Tsukuyomi, dia adalah dewi matahari. Amaterasu, bersama dengan kedua saudara laki-lakinya, dikatakan telah menciptakan Jepang kuno. Dalam anime Naruto, Amaterasu adalah jutsu level tertinggi dari elemen api yang menghasilkan api hitam yang dapat menyala selama tujuh hari tujuh malam dan tidak dapat dipadamkan dengan air.

Susanoo dalam anime Naruto adalah nama sebuah karakter berwujud samurai raksasa persis seperti mitologinya namun berbentuk avatar dan mempunyai hubungan dengan jutsu mata Amaterasu dan Tsukuyomi (untuk memperoleh kemampuan dari Susanoo, seseorang harus menguasai kedua jutsu mata terlebih dahulu) dan avatar ini sangat besar sehingga penggunanya berada di dalamnya.

Baca Juga  Sinergi Warga Dunia

Susanoo dalam mitologi Jepang adalah dewa laut dan badai, yang lahir dari hidung Izanagi. Dia mewarisi pedang Totsuka no Tsurugi, yang sebelumnya digunakan oleh ayahnya untuk membunuh putranya yang lain, Kagu-Tsuchi. Kishimoto menggunakan kembali aspek dalam mitologi ini, dimana Susanoo menggunakan Tsurugi untuk membunuh ular Yamata no Orochi dan mendapatkan pedang Kusanagi.

Susanoo memulai debutnya dalam pertarungan Itachi dan Sasuke. Orochimaru membantu Sasuke dengan teknik ular terkuat, “teknik delapan cabang”. Orochimaru berubah menjadi ular raksasa dengan delapan kepala seperti Yamata. Dia bahkan memegang pedang Kusanagi.

Namun, Itachi menggunakan pedang totsuka untuk menyegel Orochimaru. Susanoo bervariasi dalam penampilan berdasarkan penggunaan Uchiha. Namun, mereka semua memiliki kemiripan dengan siluman dan tengu.

Dalam mitologi, tengu fisiknya berbentuk burung pemangsa dan manusia. Tengu sering digambarkan dengan hidung yang sangat panjang, menjadi ciri khas Tengu yang paling menonjol. Menurut agama Buddha Jepang, Tengu adalah pertanda perang, namun beberapa orang memandang mereka sebagai pelindung hutan dan gunung.
Para mangaka dan pembuat anime telah menggunakan cerita rakyat kuno dan mitologi Jepang sebagai sumber inspirasi untuk kreasi mereka yang lebih modern.

Apakah mereka menarasikan kembali cerita, atau menggunakan aspek mitos ini dalam hubungannya dengan kreasi asli mereka. Namun, penceritaan kembali mitologi Jepang dapat menyebabkan pengaburan makna atau cerita aslinya. Hal ini dapat membuat penonton di luar Jepang mengira serial ini benar-benar orisinal.

Sementara pencipta, penulis, dan seniman Jepang menggunakan cerita rakyat dan mitologi sebagai landasan untuk kreasi mereka, membangun narasi yang berbeda, penonton dapat melewatkan bagian penting dari cerita tersebut.

Secara keseluruhan, mangaka dan animator kemungkinan akan terus menggunakan budaya Jepang untuk membuat sebuah karya, tetapi hal ini akan membuat pemirsa di luar Jepang untuk terus mencari mitologi yang mendasari pembuatan anime dan manga tersebut.

Baca Juga  Edisi IV: Mengambil Filsafat dari Para Pendahulu

Anime Naruto yang merupakan produk kebudayaan Jepang yang termasuk kawasan Asia Timur, simbol-simbol yang muncul dalam anime tersebut merupakan representasi budaya Asia Timur pada umumnya dan budaya Jepang pada khususnya.

Dalam anime seperti Naruto, karakter utama terlihat memperlakukan senior dengan lebih hormat dan lebih cenderung mencari bimbingan dari senior mereka, daripada bertindak sendiri dan menerima ceramah “apa yang telah kita pelajari dari pengalaman ini” dari para senior mereka dalam membuat resolusi konflik.

Konfusianisme mungkin menjadi faktor dalam sikap yang digambarkan dalam anime ini. Banyak nilai Konfusianisme – kepercayaan pada keluarga, pentingnya ketekunan, kesetiaan, kesalehan berbakti, dan harmoni – tersebar luas di sebagian besar masyarakat Asia, terutama Asia Timur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *