elsaonline.com

Voice of the voiceless

Pilih Tempe Diantara Daging Ayam: Cerita Saat Advokasi

4 min read

MENERANGKAN: Koordinator Divisi Kajian, Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA), Semarang Khoirul Anwar menerangkan materi pada diskusi dalam rangka memperingati hari kelahiran Soekarno, 6 Juni 1901, Jumat (6/6) malam.

Oleh: Ceprudin

Jika bukan karena selera dan bosan, seorang mahasiswa ketika ditawari makan antara tempe dan ayam, pasti pilih ayam. Namun, beda dengan teman saya di Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) ini. Suatu ketika, di Kabupaten Kudus ada kasus yang mengharuskan eLSA turun lapangan.

Kasus itu tak lain pemaksaan mengikuti ajaran agama terhadap siswa yang berkeyakinan Agama Adam (Samin atau Sedulur Sikep). Padahal, kita tahu bahwa pengikut Sedulur Sikep bukan agama “resmi negara”. Jadi mereka punya hak untuk tidak mengikuti ajaran itu.
Setelah berkomunikasi via telepon dengan ayah korban, Budi Santoso, Tedi Kholiludin selaku Direktur menunjuk saya dan Khoirul Anwar untuk terjun advokasi. Kami pun tak menolak. Pagi-pagi kami berangkat dari Semarang menuju Desa Larekrejo, Kecamatan Undaan, Kudus.

Alamat itu merupakan tempat tinggal sekitar tiga keluarga generasi penerus pengikut Sedulur Sikep, Kudus. Tibalah di alamat rumah yang dimaksud sekira pukul sebelas siang. Semua alat investigasi, rekaman, video kamera digital sederhana kami siapkan.

Seperti biasa, setiap advokasi untuk pertemuan awal kami menggali kronologi kasus sedalam-dalamnya. “Ceritanya sangat panjang mas. Kasus ini sebetulnya terjadi sejak 2009 lalu, dimana anak-anak kami ditolak masuk sekolah. Namun, atas kebijakan bupati akhirnya bisa masuk. Namun setelah masuk, anak-anak kami disuruh mengikuti pelajaran agama,” cerita Budi, pada awal 2012 lalu.

Dengan berapi-api mereka cerita penderitaanya. Budi dan beberapa sodaranya juga bercerita penderitaan mereka saat masa-masa orde baru. Begitu kira-kira kasusnya, mereka hidup dalam tekanan. Lama kami berbincang, hingga dirasa data itu sangat cukup untuk melakukan aksi selanjutnya.

Di rumah kayu jati berbentuk limasan itu menempel jam dinding tua. Ada beberapa foto perkawinan Budi bersama istrinya dan foto anak-anaknya. Paling kanan, ada foto Presiden pertama, Soekarno, berwarna hitam putih, berpeci hitam, khas ala santri Jawa. Sembari melihat-lihat itu, mata tertuju pada jam dinding yang sudah menunjukan pukul setengah dua siang.

Baca Juga  Civil Society I’tisham dan Civil Society Kalimat Sawa’

Tak lama kemudian, tampak istri Budi mengeluarkan piring, sendok dan beberapa wadah yang berisi makanan. Ada tempe goreng, ayam goreng, sayur bening, lalapan dan sambel terasi. Seingatku. “Monggo mas, langsung saja santap. Maaf hanya ini yang bisa kami sajikan, maklum dikampung,” kata Budi, mempersilahkan hidangan.

Tanpa pikir panjang, saya langsung menyantap makanan itu dengan lahap. Selain hidangannya menggoda, lapar pula, karena ketika berangkat belum sempat sarapan. Setelah terisi beberapa sendok makan perut ini, saya menoleh kesamping saya, Khoirul Anwar.

Dipiring yang ia pegang, saya hanya melihat sayuran, lalapan, sambel dan tempe. Menu utama ayam, tampak sama sekali tak dijamah. Tampak ia hanya melirik-lirik sesekali. Ayam goreng kering dan renyah itu hanya saya, Budi dan beberapa sodaranya yang makan.

“Monggo mas, ayamnya juga disantap. Ini enak lho,” sahut Budi, sesaat setelah melihat Anwar tak memakan ayam. “Iya pak Budi. Kebetulan saya lagi gak enak tenggorokan, jadi gak makan yang berminyak,” jawab Awang. Padahal ia habis makan tempe goreng habis beberapa potong.

“Santai aja, mas. Ini ayam bukan kami yang motong kok. Ini ayam kami beli dari pasar sudah dipotong,” sahut lagi pak Budi. Meyakinkan Anwar supaya makan ayam yang sudah dipersiapkan sejak pagi, mungkin. “Enggeh-enggeh pak Budi,” jawab lagi Awang, dengan tetap tak mengambil ayam goreng itu.

Saya yang menyaksikan dialog itu senyum-senyum sendiri. Terlebih saat melihat ekspresi dan mimik muka Anwar yang tampak ada ganjalan itu. Usai dialog itu, semua kembali larut dalam kenikmatan makan, hingga dititup dengan merorok bersama.

***

Saat itu awal tahun 2012. Saya mahasiswa akhir di IAIN Walisongo. Khoirul Anwar mahasiswa baru tiga semester di kampus yang sama. Sebelum ia masuk kuliah, Anwar lama menghabiskan waktu di sebuah pesantren di Kediri, Jawa Timur. Ia masuk kuliah dengan ijazah pesantren, sehingga ia betul-betul original, produk psantren salaf.

Baca Juga  Masjid Layur Semarang Dibangun Pedagang Yaman

Sebagai informasi, ia sekarang juga banyak dimintai anak-anak mahasiswa IAIN untuk membuat I’rob suatu ayat atau kutipan hadits menjelang ujian. Tak jarang pula ia menjadi penerjemah Bahasa Arab. Baik untuk temannya, dan juga “lain-lainnya”.

Setelah dirasa cukup, kami mengakhiri pertemuan pertama itu. Waktu itu kami tak langsung pulang. Karena untuk keberimbangan data, keesokan harinya kami berdua menyambangi sekolah itu. Malam harinya kami menginap di salah satu pesantren di Kudus, dimana adiku Jaedin disana menimba ilmu.

Usai mendapat data dari sekolah, kami kemudian pulang ke Semarang. Sampailah kami di kantor eLSA. Setelah pertemuan itu, eLSA beberapa kali kembali ke Kudus untuk advokasi. Salah satunya kami melakukan pendampingan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kudus.

Disana, anak-anak Sedulur Sikep dan orang tuanya bercerita di depan pejabat. Berkat perjuangan itu, Alhamdulillah, anak-anak Sedulur Sikep di Kudus tak lagi mendapat diskriminasi pada jam pelajaran agama. Mereka diberi kebebasan untuk belajar sesuai dengan keyakinan mereka, disaat jam mata pelajaran agama.

Pengalamn advokasi itu sangat membekas dalam perjalanan saya di eLSA. Cukup untuk menjadi bekal melakukan beberapa advokasi turun lapangan di beberapa kasus lain. Di antaranya kasus Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Demolo, Kabupaten Jepara. Hingga sekarang, saya dan Zainal Mawahib sering melakukan advokasi ke Jepara.

Termasuk pada masa musim hujan kemarin, hingga kami harus menyeberang banjir yang sangat tinggi. Untuk waktu itu kami tak sampai naik getek (perahu kecil) untuk sampai di kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jepara untuk melakukan rapat koordinasi. Anwar, Wahib dan Saya termasuk angkatan baru eLSA.

Angkatan di atasnya adalah Yayan M Royani dan Ubbadul Adzkiya’. Yayan adalah koordinator divisi advokasi yang selama ini membimbing kami untuk melakukan turun lapangan. Turun untuk mencari keadilan, bagi rakyat yang mendapat diskriminasi. Selamat ulang tahun eLSA yang ke 9.

Baca Juga  Berteologi Bersama Rakyat

Ingin baktiku ku berikan untuk bangsa ini, melalui visi misi eLSA. Membebaskan yang tertindas dan menyuarakan suara mereka yang tak bersuara. Mereka-mereka yang selama ini terbungkam karena sistem dan kebijakan. Kebijakan yang tak ramah bagi kaum minoritas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *