Plantungan dan Imajinasi yang (di)Roboh(kan)

0
107

Oleh: Alhilyatuz Zakiyyah

… Dia tidak mau ikut kumpul dengan teman yang lain, dia masih trauma, dulu dia di Plantungan (cerita salah seorang tapol padaku)

Beberapa kali ini setiap aku duduk di depan laptop semacam ini, setiap itu pula aku merasakan kesendirian, dan sedang berbicara dengan diri sendiri. Akan sebuah hal, sesuatu yang rumit sekalipun terasa ringan jika melalui proses kontemplasi. Manusia seharusnya melakukan upaya hidup dengan pertimbangan berbagai hal, anggap saja keyakinan bahwa itu baik dan berguna. Meski kadang kehendak pernah juga lebih mendahului proses berpikir.

Sama juga seperti sebuah negara sebelum berdiri kokoh memiliki pemerintah yang berdaulat dan diagungkan pemiliknya, warga negara. Ia hadir dengan proses yang panjang. Terlebih berada di dalam jiwa pejuang sebelum negara itu sendiri bernyawa. Proses yang sangat kaya akan nilai, permenungan panjang, musyawarah berulang-ulang, dan kesatuan akan satu pendapat bersama.

Dari beberapa peristiwa yang terjadi di Indonesia, ada kesempatan baik bagiku untuk menziarahi masa lalu itu pada hari Sabtu, 09 Maret 2019. Plantungan. Sebuah tempat yang sempat menjadi harapan tapol perempuan untuk merasakan kehidupan yang lebih baik, tetapi kebahagiaan itu pudar setelah mereka mengetahui bahwa tempat itu tak lain adalah bekas rumah sakit lepra. Itu artinya pemerintah masih menganggap mereka harus diasingkan, dibuang, dan dipisahkan dari sosial.

Sebagai generasi yang lahir dalam rentang tahun 90-an, aku meraba pelan kejadian masa lalu. Upaya datang pada masa lalu itu kumaknai sebagai hermeneutics of the self yakni melakukan pemahaman atas diri sendiri. Dan ketika itu pula aku menyadari bertapa miskin pengalaman kesejarahanku. Lian Gogali (2006) mengatakan seseorang yang berusia muda pada saat suatu peristiwa terjadi lebih mendetail dalam ingatannya, sementara generasi yang mempunyai jarak waktu yang jauh dengan suatu peristiwa akan memilih apa yang diingatnya dengan konteksnya sata itu. Sedangkan aku tidak memiliki ingatan karena jarak yang jauh.

Sampai pada tahap ini aku menyimpulkan imajinasi ingatanku terhadap peristiwa 1965 paling awal terbangun dari peran negara melalui kurikulum pendidikan. Ketika dewasa inilah mulai tumbuh kesadaran untuk mendekonstruksi pikiran dengan wacana kiri demi keluar dari narasi kebohongan sejarah. Kemudian semesta membawaku ke Plantungan.

Aku dan ketiga kawanku (Rosa, Kacang, Bagas) disambut pemandangan menyejukkan, lengkap dengan tulisan “Selamat Datang Lembaga Pemasyarakatan Pemuda Kelas II B Plantungan”. Ada angka 1871 pada dinding temboknya, tanda bangunan itu dibangun. Pada bangunan bagian depan sebelum menyeberangi Kali Lampir, bangunan itu masih asli. Bangunan itu terdiri dari kantor, mushola, gudang, tempat penyimpanan arsip, dan tempat tahanan, juga beberapa bangunan tua yang telah rusak dan tidak ditempati. Dalam perasaanku itu seperti bangunan yang dalam buku Amurwani Dwi L. dijelaskan angker.

Kali Lampir menjadi pembatas antara Kendal dan Batang (ukuran kurang lebih 25m x1m). Ketika menyeberangi Kali Lampir pengunjung akan menemukan tempat wisata pemandian air panas. Pengunjung hanya perlu membayar 5 ribu rupiah. Kulihat lokasi tidak begitu ramai, nampak sepi meski ada beberapa pengunjung yang datang. Setelah masuk, akan terlihat pula beberapa penjual makanan di warung-warung kecil berjejeran.

Kupandangi batu-batu besar yang tersebar akibat banjir bandang. Batu-batu itu berasal dari Kali Lampir. Kupotret tanaman hias berwarna merah tanpa bunga (tidak tahu namanya) disertai langit yang mendung. Kemudian aku memandang ke atas, pada langit. Aku merasakan efek dramatis seperti ada hal yang membuatku berkabung. Pemandangan itu membuatku menyadari ada hal yang pada saat-saat tertentu tidak bisa dilawan, pilihannya harus bersyukur untuk bisa bertahan.

Aku mengikuti langkah sipir dan teman-teman menuju sebuah tempat. Kepada kami, sipir itu menunjukkan letak sumber mata air pertama di Plantungan. Plantungan sendiri memiliki sejarah unik. Plantungan berasal dari kata lantung yang berarti aspal hitam. Aku tidak tahu apakah semacam ini ada di tempat lain, tapi aku baru kali ini menemui aliran air yang memiliki campuran minyak tanah, dan baunya semacam bensin. Oleh sebab itu, sebelum menjadi tempat tahanan para tapol, bangunan itu berfungsi sebagai rumah sakit lepra. Selain tempatnya yang jauh dari pemukiman warga, juga memiliki sumber mata air yang dapat digunakan sebagai pengobatan.

Ketika kutanya Rosa yang seorang fotografer (lengkapnya; Rosa Panggabean, fotografer Dialita) tentang pandangannya terhadap Plantungan sekarang, ia menjelaskan bahwa ada upaya besar untuk menghapus kenangan masa lalu. Karena alih fungsi tempat itu adalah sebagai tempat wisata. Seorang sipir yang menemani kami memberikan kabar buruk terhadap masa depan Plantungan. Alih-alih untuk menjadikannya museum sejarah, duka lara (psikis) nampaknya juga dialami para pegiat HAM yang selalu memantau Plantungan, bahwa isunya Lapas di Plantungan akan dipindahkan.

Dalam hal terakhir di atas kurasa jangan benar-benar terjadi. Tak sengaja aku melihat seorang tahanan (di sini semua tahanan adalah laki-laki) yang sedang mengaji al-Quran melalui kaca jendela tua, aku melihat kehidupan di kota murung ini. Tanpa alasan-alasan yang barangkali lebih masuk akal, aku pikir para tahanan yang sekarang ini tinggal menunggu waktu pembebasan (3 atau 1 bulanan) sangat efektif jika ditempatkan di Plantungan.

Pertama, Plantungan tidak kehilangan identitasnya sebagai tempat tahanan yang sesungguhnya. Kurasa di sinilah fungsi yang sebenarnya. Jika dulu sebagai tempat tapol perempuan tanpa proses peradilan, saat ini para tahanan di sana adalah mereka yang telah melalui proses peradilan.

Kedua, supaya terjadi aktivitas. Kehadiran para tahanan otomatis akan memunculkan berbagai aktivitas. Aktivitas ini sangat membantu berfungsinya bangunan-bangunan tertentu. Ketiga, para tahanan memiliki memori kolektif terhadap Plantungan. Ini salah satu upaya pemanjangan sejarah untuk selalu mengenang Plantungan melalui ingatan juga penuturan.

Seperti apa yang dikatakan Rosa tentang upaya penghilangan masa lalu. Dalam bahasaku menuturkan terdapat upaya imajinasi yang (di)roboh(kan). Siapakah dalangnya, dan apa kepentingannya? Aku terbata-bata untuk menjawab, kuharap kamu memiliki sendiri jawabannya. Tiba-tiba aku teringat para penyintas perempuan yang tergabung dalam Kipper (Kiprah Perempuan), pada suatu ketika melakukan piknik (dalam bahasa mereka) ke Plantungan.

Bagaimana kondisi Plantungan sekarang akan menggambarkan sejauh mana perhatian generasi saat ini pada sejarah. Apakah membariskan senyum (mereka) para penyintas atau memberikan kesan yang (sama) muskil dipenuhi pada segala sesuatunya.

Sebagai generasi yang lahir jauh dari peristiwa itu, membaca sejarah adalah kunci. Beberapa upaya mendekatkan sejarah pada diri sendiri dengan datang pada simbol-simbol sejarah, pelaku sejarah adalah upaya pemaknaan hermeneutics of the self sebagai orang yang sama sekali tidak memiliki saudara yang terlibat dalam peristiwa itu (dalam pendek sepengetahuanku). Tentu aku berangkat dari hal yang berbeda dengan orang-orang yang berada dalam lingkaran keluarga penyintas.

Pembacaanku terhadap Paul Ricoeur tentang hermeneutics of the self mengantarkanku mengakui adanya simbol-simbol agama berupa tempat ibadah, dan kewajiban tapol mengikuti acara keagamaan. Pengakuan tapol bahwa semua yang berada di dalam tahanan memiliki posisi melebihi saudara juga memberikan gambaran bagaimana toleransi secara alami mandarah daging tanpa harus melalui pemahaman-pemahaman toleransi dan perdamaian. Terakhir kukatakan, jangan roboh, mari bangun meski dengan usaha yang tidak banyak tetapi itu selalu kita lakukan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here