Oleh: Tedi Kholiludin
Selasa (29/5), Romo Eduardus Didik Didik Cahyono SJ mengajak saya dan Mas Setyawan Budi ikut mengisi acara di Susteran Paroki Gereja Katolik...
Oleh: Tedi Kholiludin
Saya diminta teman-teman dari SPEKHAM, sebuah lembaga yang cukup tua di Solo untuk berbagi cerita tentang bagaimana mengelola keragaman. Senang sekali...
Oleh: Tedi Kholiludin
Hari Waisak, bagi umat Buddha menjadi semacam tetesan air yang jernih di tengah teriknya padang pasir. Ada perasaan yang sungguh menenangkan jiwa....
Oleh: Tedi Kholiludin
Ketika berpidato pada sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) 1 Juni 1945, Soekarno menyebut frasa yang menunjukkan keluasan pemahaman dia...
Oleh: Tedi Kholiludin
Pasar adalah ruang yang egaliter. Penjual dan pembeli beradu harga mencari kesepakatan. Sesekali pembeli menggerutu sembari menenteng barang yang dibeli. “Dasar Cina.”...
Oleh: Tedi Kholiludin
Alasan kenapa ia mau bekerja kepada orang Tionghoa di Semarang, mulanya adalah hal praktis, ia tidak harus menginap. Sore hari ia bisa...