Bukan hal yang sederhana untuk menguak sejarah pra Islam dengan berbagai aksesorisnya. Dua peradaban besar yang nampak yakni Yunani dan Romawi; Yunani dengan tradisi filsafatnya yang menggejala keseluruh seantero, meskipun ada diskriminasi terhadap perempuan luar biasa termasuk belum ada persamaan dalam hak-haknya, sebut saja; perempuan masa itu di kurung dalam Istana, diperjualbelikan di pasar dan bertugas untuk memenuhi hasrat laki-laki, tradisi pesta kerajaan menyebutkan tentang itu.
Oleh: Tsabit Azinar Ahmad
Pegiat Taman Baca Masyarakat Ngudi Kawruh, alumnus PPs Pendidikan Sejarah UNS
Memasuki abad XX, kolonialisme di Hindia Belanda memasuki masa kulminasi. Pemerintah...
Oleh: M. Shokeh
Alumnus Program Pascasarjana Studi Sejarah Universitas Gadjah Mada. Dosen Universitas Negeri Semarang
Pendahuluan
Menurut berbagai kajian yang pernah ada, abad ke-19 dalam konteks sejarah...
Oleh: Danang Kristiawan
Pelayan di Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ)
Mahasiswa Program Pascasarjana Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Jogjakarta
Pengantar
Kartini menjadi sosok yang dikagumi...
Mereka dikafirkan, disingkirkan dan dibuang. Kalau sudah sampai pada situasi ini, maka masa depan agama semakin suram. Fatwa demi fatwa dikeluarkan dengan dalih untuk menjaga kemurnian agama.
Fatwa, kredo, atau apapun namanya dibuat bukan untuk mengobarkan rasa keadilan. Tapi semuanya itu tak lain hanyalah usaha kelompok mainstream untuk menendang pemikiran-pemikiran yang mendobrak kebekuan tradisi berpikir keagamaan.
Oleh: Denni Pinontoan
Dosen Fak. Teologi UKIT, aktif di Mawale Cultural Center
“Aku” sesungguhnya pada saat yang sama adalah “yang lain” dalam sebuah perjumpaan. Sebaliknya “yang...